
"nanti Daddy akan marah kalau tahu kita ada disini," dumal Kenzi saat Kenji mengajaknya masuk ke ruang kerja sang Ayah.
Kenzo melarang kedua puteranya untuk memasuki ruang kerja pribadinya.
"tidak apa2, Daddy sedang pergi ke Osaka,"
"darimana kau tahu?" Kenzi menaikkan alisnya
"Paman Akira yang memberitahu," senyum Kenji begitu nakalnya.
Kenzi menatap adik kembarnya yang benar2 berbanding terbalik sifatnya dengannya.
Kenzi yang cenderung dingin dan Kenji yang cenderung nakal dan usil.
Kedua bocah lelaki kembar itu menatap terpana saat mereka memasuki ruang kerja dan langsung disambut foto besar sang Ayah dan seorang wanita yang tampak tersenyum dengan cantiknya.
"apa itu Mommy?" tanya Kenji begitu terpesona
"sepertinya tidak asing..."
Kenji pun langsung menuju meja kerja sang Ayah, dimana di atasnya di letakkan beberapa figura foto.
"ternyata benar, dia Mommy...selama ini kakek tidak pernah memperlihatkan foto2 Mommy kita..."
Kenji menatap satu per satu, figura berisi foto2 Reina.
Kenzi berusaha keras mengingat2 dimana ia pernah bertemu.
"Tuan Muda, apa yang kalian lakukan disini??"
Fuji benar2 terkejut melihat Tuan Muda kecilnya sedang duduk dikursi kerja sang Ayah.
"Paman, benar kan ini Mommy ku?" tanya Kenji senang menunjuk bingkai foto Kenzo dan Reina yang terpasang di dinding.
"Tuan besar bisa marah jika tahu Tuan Muda ada di sini..." kata Fuji ketakutan karena pasti ia yang dihukum Kenzo atas kenakalan kedua putranya.
"Paman, kami ke sini karena ingin meminjam komputer Daddy untuk mengerjakan tugas dari sekolah..." kata Kenzi mencari alasan untuk menyelamatkan mereka dari amukan sang Ayah.
''bukankah kalian sudah memiliki laptop masing2?"
Fuji mengangkat 2 alisnya bersamaan menatap kedua Tuan Muda kecilnya itu.
Kenji meringis dan Kenzi pun membuang muka, ternyata ia salah mencari alasan.
"Mari kita keluar dari sini sebelum ada yang melaporkan pada Tuan Besar,"
Kedua bocah lelaki berwajah sangat mirip itu pun beranjak keluar ruangan, diikuti Fuji yang langsung menutup dan mengunci pintunya.
"ada apa,Tuan Fuji?"
Seorang pengawal khusus yang diperintah Kenzo untuk menjaga mansion pun mendekati ke arah Fuji yang berjalan beriringan dengan Kenzi dan Kenji.
"tidak ada apa2, pergilah,"
__ADS_1
Kenzi dan Kenji pun langsung berlari menaiki tangga menuju lantai 2 dimana kamar mereka berada.
"sepertinya aku harus ekstra waspada," decak Fuji sambil menggelengkan kepalanya, melihat kedua Tuan Muda nya berlari cepat melarikan diri.
******
Osaka,
Reina terduduk di sofa besar favoritnya yang berada di dekat jendela besar yang menghadap ke pemandangan kota.
Lampu2 tampak berkelip menghias kota di malam hari.
Reina menarik napas berat, duduk sambil memeluk kakinya.
Kejadian di perusahaan Kenzo kembali berputar di ingatannya.
Benar2 hidupnya memang tidak akan pernah bisa lepas dari jerat seorang Kenzo Iwasaki.
Bel pintu berbunyi, menyadarkan Reina dari lamunannya.
Reina mengernyit.
Kakei sedang berada di Amerika saat ini untuk mengurus ijin produksi perusahaan Reina yang akan segera launching di sana.
Tidak mungkin bukan dia sudah kembali secepat ini.
Reina beranjak berdiri dari sofa dan berjalan ke arah pintu.
Reina terkejut setengah mati saat melihat siapa yang saat ini berdiri di balik pintu apartemennya.
"pergilah, untuk apa kau ke sini!"
"Buka! Atau aku akan membuat keributan disini!"
Demi Tuhan, ingin rasanya Reina menghajar pria ini!
Reina membuka pintunya dan Kenzo pun langsung menerobos masuk tanpa dipersilahkan.
Reina segera mengikuti Kenzo setelah menutup pintu.
"cepat katakan keperluanmu dan segera keluar, ini sudah malam, aku tidak ingin menjadi bahan gunjingan penghuni lain..." ketus Reina
Lagi2 tanpa dipersilahkan, Kenzo duduk di sofa Reina.
Dilepasnya mantel dan juga jas nya, menyisakan kemeja hitam dengan dasi yang ditariknya supaya mengendur.
"apa begini sambutanmu pada suami yang lelah bekerja?" Kenzo duduk bersandar sambil menyilangkan kedua kaki jenjangnya.
Reina langsung melotot.
"aku tidak memiliki suami sejak 6 tahun lalu, sejak aku melahirkan anak kembar sendirian, karena ayah biologis anak2ku sedang sibuk di hotel bersama wanita lain.."
Reina menatap tajam Kenzo yang semakin tampan dengan mata birunya.
__ADS_1
Masih saja mata biru itu selalu mengintimidasinya.
"bukankah kau yang meninggalkanku untuk bersama pria pengecut bermarga Yamaguchi itu?"
"setidaknya dia tidak breng*sek dengan meniduri banyak wanita!" pekik Reina emosi
Mata biru Kenzo tampak menggelap, menatap tajam ke arah Reina yang tampak berdiri dengan tubuh gemetar karena amarah.
Triingg Triiinngg
Bunyi nyaring ponsel Reina memecah perhatian Kenzo.
Reina bergegas meraih ponselnya dan melihat siapa yang meneleponnya.
Dena.
Reina pun segera menjawab panggilan video Dena dari Inggris.
"hai, Rei..." seru Dena tersenyum cantik dari layar ponsel pintar Reina.
"apa yang membuatmu gembira? Kau tampak senang...."
Reina pun berjalan ke arah balkon tanpa memperdulikan Kenzo yang masih duduk di sofa.
"aku selalu bahagia, Rei...kau sehat kan? Kapan kau akan ke Inggris lagi?"
"mungkin beberapa bulan ke depan setelah urusan perusahaanku di Amerika beres...Kakei sedang di sana mengurus ijin2nya..."
"Ooh, okay....aku tak sabar kita bertemu lagi..."
"bagaimana jika kau datang kemari, sebentar lagi musim semi kan?"
"Ya...jika Eddy mengijin...."
Dan Dena pun membola melihat seseorang yang berjalan mendekat di belakang Reina.
"what the hell???!!" teriak Dena saat Kenzo memeluk Reina dari belakang dan menyandarkan dagunya ke pundak Reina.
Reina pun segera memberontak dengan sia2 karena tak bisa melawan pelukan Kenzo yang sangat erat.
"apa yang kau lakukan Rei?! Jangan katakan kau kembali pada..."
"apa aku salah memeluk istriku, adik ipar?"
Kenzo berkata dengan nada mendesis.
Dena menganga.
"ini tidak seperti yang kau kira, Dena! Dia memaksa..."
Kenzo meraih kepala Reina dan mengalihkan perhatiannya dari ponsel ke ciumannya yang memaksa.
Dena berteriak2 penuh amarah menyaksikan siaran langsung antara Reina dan Kenzo yang berciuman.
__ADS_1
"aku akan menghajarmu sialan! Tak peduli kau kakak Eddy!!!"
********