
Hari berganti hari, dan bulan pun berganti.
Kandungan Reina kini menginjak usia 6 bulan, perutnya sudah terlihat besar karena kehamilan baby twinsnya.
Reina yang berada di mansion utama semakin dibatasi aktifitasnya, terutama ketika ingin menghirup udara luar, meski hanya untuk berjalan2 di lingkungan sekitar mansion.
Apalagi saat mengetahui jenis kelamin baby twins yang berjenis laki2, Tuan Iwasaki dan Kenzo seakan kompak bersikap possesif.
Hubungan Kenzo dan Ayahnya pun terlihat melunak sejak kehamilan Reina.
"aku bosan sekali..." keluh Reina, memandang suami tampannya yang tampak menekuni berkas2 di meja kerjanya.
Kenzo menghentikan pekerjaannya.
"apa yang kau inginkan?" tanya Kenzo
"jalan2?" jawab Reina sumringah
"tidak!" tolak Kenzo mentah2 membuat Reina langsung cemberut.
"aku ingin makan es krim..." rengek Reina
" Saki bisa membuatkannya untukmu, sebanyak yang kamu mau..."
"aku mau es krim dan memakannya di taman.."
Kenzo menghela napas.
"kamu mau ya anak2mu ileran??"
"apa itu i-ileran?" Kenzo menaikkan sebelah alisnya menatap istrinya bingung.
Reina mendengus, merasa rengekannya tak berhasil, ia pun beranjak dari duduknya dengan kesusahan.
"ayo 'sayang kita pergi...daddy mu benar2 pria kaya yang pelit.." dumal Reina, berjalan dengan mengelus2 perut buncitnya.
__ADS_1
Reina pun keluar dari ruang kerja Kenzo dan menuju ke dapur mencari Sakimoto.
"Nyonya muda...ada yang bisa saya bantu?" tanya Rika melihat Reina berjalan2 di dapur.
"dimana Sakimoto..?"
"Tuan Saki sedang bersama Tuan Besar menemui tamu.."
"Ooh...dimana?"
"di ruang kerja Tuan Besar...Nyonya butuh sesuatu?"
"aku ingin es krim..." kata Reina membuka pintu kulkas besar di hadapannya, mencari kotak es krim.
"saya akan bilang koki untuk membuatkannya..Tuan Muda melarang anda menyentuh makanan instan..."
Reina menghembuskan napasnya kasar dan meletakkan kembali kotak es krim yang sudah di raihnya.
"jangan lama2! nanti anakku ileran!" dumal Reina menutup pintu kulkas dengan keras.
Reina yang hendak menaiki tangga menuju ke kamarnya, menghentikan langkahnya saat mendengar suara2 seperti orang berdebat.
Reina pun mengikuti arah suara yang ternyata berasal dari ruang kerja ayah Kenzo yang pintunya tidak tertutup rapat.
"kau tahu berapa kerugianku??!"
"maaf atas kelalaian saya,Tuan..."
"apa aku harus menembak kepalamu??"
"ampuni saya Tuan....."
Reina yang menguping sampai menutup mulut saat melihat ayah mertuanya itu mengacungkan sebuah pistol ke dahi seorang pria yang berlutut di hadapannya.
DOR!
__ADS_1
Tubuh Reina terhuyung ke belakang saking kagetnya, dan untung saja Kenzo yang sejak tadi mengawasi istrinya itu, dengan sigap memeluk tubuhnya.
"i-itu..itu.."
"menguping pembicaraan sangat tidak sopan sayang..."
Kenzo memeluk tubuh Reina yang gemetar ketakutan.Siang hari dengan cuaca yang panas, si ibu hamil mendapat shock therapy.
"a-aku ingin pergi...aku ingin pulang ke mansion Tuan Fuji..." isak Reina ketakutan.
Kenzo mengangkat tubuh Reina dalam gendongannya, membawanya ke kamar.
Kenzo membaringkan tubuh Reina ke ranjang.
"tidurlah disini,.. aku akan menyuruh Rika membawa es krim mu..."
"a-ku ingin pulang....aku ingin pergi dari sini..."
"istirahatlah..." Kenzo mengecup kening Reina
"aku mohon....jangan pergi...." isak Reina, meraih tangan Kenzo dan mencengkeramnya erat.
Kenzo pun duduk di sisi ranjang.
"apa yang kau takutkan?"
Reina menatap Kenzo yang tampak memandangnya tajam.
"kamu harus terbiasa melihat hal2 seperti itu! bagaimana kamu mendampingiku jika kamu seorang penakut??" tegas Kenzo
Jadi maksudmu aku harus terbiasa dengan pembunuh*an ?? jerit Reina dalam hati.
Astaga!!
*****
__ADS_1