
"apa ini?"
Tuan Iwasaki mengernyitkan dahi nya yang mulai berkeriput halus, saat Satsuki meletakkan sebuah amplop cokelat di meja kerjanya.
"anda bisa mengetahuinya saat membukanya Tuan Besar..." jawab Satsuki sambil menundukkan kepalanya, perlahan ia berjalan mundur kembali ke tempatnya berdiri semula disamping Sakimoto yang juga tampak penasaran.
Dengan tak sabar Tuan Iwasaki merobek amplop itu dan banyak foto2 berjatuhan di meja kerjanya.
Wajah Tuan Iwasaki langsung berubah pias, dan detik berikutnya memerah hingga telinganya.
"akan ku bunuh wanita itu!!" teriaknya sampai serak
Tuan Iwasaki mengamuk, membuang semua barang di atas meja kerjanya.
Sakimoto mengambil salah satu foto yang berhamburan di dekat kakinya.
Mata sipitnya membola melihat foto di tangannya.
Foto saat Reina mendapat tato di punggungnya.
Tato burung phoenix.
Tato yang hanya boleh dimiliki pendamping Naga hitam, puncak tertinggi penguasa klan.
Tato yang tidak sembarang orang bisa mendapatkannya.
"bahkan ibuku saja tidak bisa mendapatkannya!!"
Tuan Iwasaki semakin tak terkendali, membuat Sakimoto hanya memandangnya jemu.
"Tuan...tenanglah...ingat darah tinggi anda," kata Sakimoto.
Tuan Iwasaki menyandarkan tubuhnya ke sandaran empuk kursi kerjanya.
"anak itu sudah melangkah terlalu jauh!" serak Tuan Iwasaki
"mungkin karena Tuan Muda benar2 tidak ingin ada perjodohan, Tuan Besar...hingga dia berbuat nekat.." ucap Sakimoto mengambili foto2 yang berserakan.
Tuan Muda, anda benar2 lebih mengerikan dari Ayahmu, batin Sakimoto saat melihat semua foto2 yang sudah dikumpulkannya.
Terlihat jelas di sana, Kenzo memeluk tubuh setengah telanjang wanitanya, sementara pemimpin tertinggi sekte klannya bekerja mengukir tato burung phoenix yang sangat sakral itu.
"bagaimana mungkin sampai tidak ada orang yang menentangnya??"
"siapa yang bisa melarang seorang Tuan Muda, Tuan?" Sakimoto menggelengkan kepalanya, sama tak percayanya dengan Tuan Besarnya itu.
"Tuan, hentikanlah perjodohan, jika tidak, bisa terjadi pertumpahan di dalam klan..."
Tuan Iwasaki menghembuskan napasnya kasar.
"apa aku salah jika ingin memberikan yang terbaik untuk anakku?"
"tidak, Tuan...keinginan anda tidak salah, tapi cara anda yang salah..."
******
"maaf, Nona...Tuan Kenzo sedang meeting, dan tidak bisa diganggu..." Rumi masih mencoba bersikap ramah, meski kesabarannya mulai menipis menghadapi Kanami.
"aku ingin menemui tunanganku!" bentak Kanami
"maafkan saya, Nona...saya hanya menjalankan perintah..." geleng Rumi
Kanami mendorong tubuh Rumi menyingkir, dan nekat memasuki ruangan Kenzo.
Semua orang menoleh ke arah pintu yang terbuka.
"maaf, kita tunda dulu meetingnya..." putus Akira mengakhiri meeting.
Semua orang mengangguk dan mulai beranjak berdiri meninggalkan kursi, berjalan keluar ruangan.
"sepertinya sudah ada larangan untuk tidak mengganggu meeting?" tanya Akira dingin
"maafkan saya, Tuan Akira...tapi Nona ini memaksa..." jelas Rumi ketakutan mendapat tatapan tajam kedua atasannya itu.
"saya pikir anda tahu apa itu arti larangan, Nona Kanami?" tanya Akira dingin dan tajam
__ADS_1
"aku ingin berbicara dengan tunanganku!"
" jangan membuat lelucon Nona!"
Kenzo hanya menatap saja perdebatan Akira dan Kanami.
"aku ingin berbicara denganmu!"
"sejak tadi kau sudah bicara!" kata Kenzo tak kalah dingin dengan Akira
"aku ingin kita bicara berdua!"
"tidak ada yang perlu kita bicarakan!"
"aku ini tunanganmu!"
"hanya dalam mimpimu, Nona!" ejek Akira
Kanami melotot marah ke arah Akira yang tersenyum mengejeknya.
"pergilah!" usir Kenzo
"aku akan pergi dan tidak akan mengganggumu lagi, dengan satu syarat!"
Kenzo hanya menaikkan sebelah alisnya.
"aku ingin kita makan malam berdua..."
"apa?"
"aku ingin kita makan malam berdua, dan aku akan pergi darimu selamanya.."
"aku menunggumu..."
Dengan percaya dirinya Kanami melenggang pergi, meninggalkan Kenzo dan Akira yang saling menatap.
"dia wanita aneh," gumam Akira
"tawaran yang menarik,"
"aku ingin melihat sampai sejauh mana ia bertingkah,"
"Tuan??"
*****
"pfuuuaaahhhh"
"Reii....kau sudah sadar??"
Reina membuka matanya perlahan, menatap keadaan sekitar.
"dimana aku..."
"kita di mansion, Rei...hampir 7 hari kamu tak sadar.." jelas Dena membantu Reina untuk duduk di atas ranjang.
"apa yang terjadi..."
Dena mengambilkan gelas berisi air putih dan membantu Reina untuk meminumnya.
"punggungku rasanya sakit..." keluh Reina
"aku akan memanggil dokter..." kata Dena dan beranjak keluar kamar.
Reina menatap pintu yang tertutup.
Reina meringis saat ingin duduk bersandar di headboard, pelan2 dia bersandar dan mencoba mengingat kembali apa yang terjadi.
Reina langsung beringsut turun dari ranjang, berjalan pelan menuju walk in closet sambil membuka kancing kemeja kebesaran Kenzo yang dipakainya.
Reina terperangah menatap pantulan punggungnya di cermin rias besar yang berada di sana.
Punggungnya kini tak mulus lagi karena telah terukir tato burung yang besar berwarna emas dan merah menyala, meliuk dari bahu hingga pinggang bawahnya.
"Ya Tuhan...apa ini...." pekik Reina menahan tangis
__ADS_1
"Rei, kamu dimana??" seru Dena dari arah kamar
Dena berkeliling dan akhirnya menemukan Reina yang berjongkok sambil menangis
"Rei..." sendat Dena berlutut di hadapan Reina
"apa yang terjadi...punggungku..."
Dena menghembuskan napasnya berat, tidak tahu harus memulai darimana ia menjelaskannya.
"ayo...kita bicara nanti, dokter sudah datang..."
ajak Dena membantu untuk Reina berdiri, dan membantunya memakai kemeja kembali.
Dena pun memapah Reina keluar dari walk in closet kembali ke kamar, dimana disana sudah menunggu dokter dan perawat wanita.
"selamat siang, Nyonya Muda.." sapa si dokter ramah sambil menundukkan kepalanya.
Reina hanya tersenyum tipis membalasnya, dan duduk di ranjang.
"bisakah dibantu untuk membuka kemejanya? saya akan mulai memeriksa..." kata si dokter
"Ya dok..." angguk Dena
Dokter pun segera memeriksa punggung Reina dibantu perawat.
"apa semua baik2 saja?" tanya Dena
"Ya Nona...semua baik2 saja...tidak ada infeksi, hanya tinggal memulihkan tubuh saja dengan makanan bergizi dan vitamin yang akan saya resepkan.." angguk Dokter tersebut tersenyum.
"tapi dia tampak kesakitan tadi..." tambah Dena
"tidak apa2 Nona, saya akan resepkan juga untuk penghilang nyerinya...seiring waktu, nyeri itu akan hilang saat lukanya mengering... "
"terimakasih Dok..." angguk Dena tersenyum lega
Dokter pun undur diri begitu selesai memberikan resep pada Dena.
"dimana Kenzo?" tanya Reina lirih
"suamimu sedang bekerja, apa ingin ku telponkan?"
"tidak...aku ingin tidur lagi..."
"makan dulu ya? atau kau ingin turun ke bawah? kita bisa makan siang di taman?" tawar Dena
"itu ide yang bagus...apa bisa membantuku mandi?" senyum Reina
"tentu, aku siapkan air dulu..."
"terimakasih, Dena...."
*****
"sayang..."
"papa?"
"apakah benar tadi kau berkunjung ke kantor Kenzo?"
"Ya Pa...aku mengajaknya makan malam..."
"lalu?"
"aku yakin pasti ia akan datang..."
Ryujin menatap putrinya yang tampak berambisi itu
"bagaimana jika dia tidak datang?"
"pasti ia akan datang, dan aku pastikan, ia akan me jadi suamiku, Pa..."
"tak perlu terlalu bersikeras 'nak...Papa bisa menemui ayahnya jika kamu..."
"tidak Pa! aku akan berusaha sendiri membuat Kenzo bertekuk lutut padaku..!"
__ADS_1
*****