
Reina dan Dena, tampil serasi dengan celana super pendek dan kaos longgar.
Reina menguncir rambutnya tinggi2 ke atas, sementara Dena bergaya ekor kuda.
Sama2 memakai sepatu sneakers ala cewek korea dan kacamata hitam, membuat mereka menjelma menjadi gadis 17 tahun.
Fuji sampai menahan napas melihat penampilan Nyonya dan sahabatnya itu, dalam hati dia berdoa, semoga Tuannya tidak pulang ke mansion hari ini dan melihat penampilan istrinya yang bak gadis sekolah.
"jangan sampai lebih dari jam 7 malam Nyonya.."
"tenang saja, sore aku sudah pulang,"
Reina tersenyum manis sambil menenteng tas tangannya yang modis.
Sungguh senang hari ini, bisa kembali memakai pakaian santai seperti ini, karena sungguh sangat membosankan memakai gaun dan perhiasan mahal.
Mobil yang membawa Reina dan Dena meluncur meninggalkan mansion, dikawal dengan 2 mobil di depan dan belakang.
"rasanya artis saja kalah denganku," keluh Reina
"dinikmati saja menjadi istri billionaire, sayang..." kekeh Dena geli melihat Reina cemberut.
Reina dan Dena benar2 memanfaatkan waktu kebebasan dengan berkeliling, menikmati keindahan kota Tokyo di siang hari.
Puas berbelanja kebutuhan mereka, mereka pun beranjak mencari makan.
"eskrim itu tampaknya enak..." gumam Dena melihat kedai es krim yang lumayan ramai.
"ayo kita kesana," ajak Reina menyuruh sopir untuk menghentikan mobil mereka tak jauh dari kedai es krim yang berdinding cat warna pelangi dengan meja kursi yang di tata epik dibawah tenda besar yang teduh.
Banyak mata memandang ke arah Reina dan Dena yang baru turun dari mobil, apalagi dengan penampilan mereka yang seperti anak sekolah.
Kacamata hitam yang bertengger malah menambah kecantikan mereka.
"tolong pesankan, karena bahasa Jepangku jelek,"
titah Reina sudah seperti Nyonya Besar.
"baik Nyonya.." angguk pengawal patuh
"aku mau rasa mix ukuran jumbo,"
"aku cokelat dan vanilla.."
Pengawal mengangguk mengerti dan segera berjalan ke arah tempat pemesanan.
Reina pun memilih duduk di dekat pohon rindang yang membuat suasana jadi terasa sejuk.
"kenapa mereka tak berhenti menatap kita?" tanya Reina risih
"karena mereka terpesona dengan kecantikan kita,"
Reina tertawa mendengar ucapan Dena yang percaya diri.
Tak menunggu lama, pesanan pun datang yang langsung membuat kedua wanita itu senang.
"ennaakk sekaliii..." seru Reina
"dasar maniak eskrim!" dumal Dena geli
Reina memandang ke sekeliling, sambil menikmati es krim.
Dan tanpa sengaja pandangannya berhenti, pada 2 mobil yang memasuki pelataran lobi hotel tak jauh dari tempat mereka duduk.
"sepertinya mobil itu tak asing,"
"apa?"
"bukankah itu mobil Kenzo?" kernyit Reina
Dena pun mengikuti arah pandang Reina,
"iya, itu mobilnya, mungkin dia ada meeting di sana," ucap Dena tidak mau berpikiran negatif seperti Reina.
"Rasanya seperti dejavu dengan Dimas dulu..." gumam Reina tak melepas pandangnya, napasnya tertahan saat pintu mobil terbuka, dan muncul seseorang yang sangat dikenalinya.Kenzo!
__ADS_1
"untuk apa dia di sana?" tanya Reina semakin merasa penasaran.
"Lihat, itu asisten datarnya keluar menyambutnya, pasti benar ada urusan pekerjaan..." hibur Dena dan terhenti melihat sosok yang keluar dari mobil kedua.
"sial!" umpat Dena melihat sosok Kanami.
"aku harus ke sana!" kata Reina beranjak berdiri dari kursinya.
"apa yang kamu lakukan??" pekik Dena
"apa yang mereka lakukan Dena??! mereka masuk ke hotel??!"
Dena langsung menahan Reina yang hendak berlari,
"kita cari tahu pelan2 bukan dengan cara bar2!"
Napas Reina terdengar menderu menahan amarah.
"aku tidak mau kisahku yang lalu terulang lagi!"
"tenangkan dirimu! kita akan cari tahu semuanya!"
*****
Kanami memandang terpesona Kenzo yang duduk di hadapannya.
Kenzo tampak tampan dengan setelan jas buatan tangan yang jangan tanya berapa harganya.
Jam tangan yang melingkar mahal di pergelangan tangannya, semakin membuatnya semakin tampak berkuasa.
"untuk apa mengajakku ke sini?" tanya Kanami gugup, mendapat tatapan tajam mata biru Kenzo.
"hanya ingin bertanya sesuatu hal," jawab Kenzo dingin
"apa itu?" Kanami merasa berdebar2.
"apa yang kamu lakukan pada istriku kemarin malam?"
DEG! Kanami menahan napas tercekat.
"apa..?" wajah Kanami semakin memucat
"jangan pernah mengusik milikku, jika kamu tidak ingin mati sia2!"
Wajah tampan Kenzo berubah bengis menatap Kanami yang terduduk memucat dihadapannya.
"ayo Akira kita pergi!"
Kenzo beranjak berdiri, masih menatap tajam ke arah Kanami.
"aku tidak suka memperingatkan manusia2 bodoh 2x!" desis Kenzo dan pergi meninggalkan Kanami.
sialan!! akan kuhancurkan wanita ja*lang itu!!
*****
"ayo ganti bajumu!" titah Dena begitu mereka sampai kembali ke mansion.
Dena memperhatikan Reina yang masih duduk di sofa dan tak beranjak dari sana.
Dena tak ingin Reina mendapat masalah dengan Kenzo jika pria itu pulang kembali ke mansion, dan melihatnya memakai pakaian kurang bahan.
"kamu bisa dapat masalah jika suamimu itu tiba2 pulang, Rei !" omel Dena habis kesabaran
"biar saja! karena dia juga membuat masalah dengan aku! untuk apa dia masuk ke hotel dengan wanita lain??"
Dena menghela napas berat.
"jangan membuat masalah baru, ingat, kita harus memcari orangtuamu!" kata Dena merendahkan suaranya.
Reina duduk bersandar di sofa, menyilangkan kedua kakinya.
"baiklah...aku menurut padamu.." ucap Reina
"kita harus tampak baik sampai bisa menemukan petunjuk orangtuamu, dan pergi dari sini!"
__ADS_1
Reina menatap Dena nanar, sebelum akhirnya mengangguk pelan.
"ayo, kita mandi dan bersiap makan malam..."
Dena pun melenggang pergi meninggalkan Reina dan menuju ruang pribadinya sendiri yang berada di mansion belakang mansion Reina dan Kenzo tinggal.
Dengan malas Reina beranjak dari sofa untuk pergi ke kamarnya sendiri.
Dihitungnya satu per satu anak tangga yang dinaikinya sebelum akhirnya tiba dikamar pribadinya.
Tatapan Reina pun jatuh pada vas berisi bunga2 mawar putih di atas meja.Bunga dari buket mawar Kenzo tadi pagi.
Huh,dasar! kupikir kamu pria yang benar2 tak tersentuh sembarang wanita, ternyata sama saja!
gerutu Reina dalam hati dan beranjak ke kamar mandi.
Reina mengisi bath up, dan menambahkan aromatheraphy yang membuatnya rileks.
Mungkin dengan berendam bisa menenangkan pikiran jelekku, batinnya.
Reina menikmati acara berendamnya, apalagi dengan busa2 yang menutupi penuh bath up, semakin membuat Reina senang,
"awas kamu suami durhaka! akan kutendang jika kamu pul..."
" apa yang kamu lakukan?"
Reina langsung menarik kaki nya kembali masuk ke air berbusa setelah bergaya menendang2 udara.
Kenzo sudah berdiri di pintu, bersandar sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana bahannya.
"siapa suami durhaka?" Kenzo menatap Reina tajam.
Mata biru yang selalu membuat Reina menelan saliva takut.
"Oohh...belum sadar?" gumam Reina
Kenzo berjalan mendekati Reina dan duduk di tepi bath up.
"apa kamu suka bunganya?" tanya Kenzo berubah lembut sambil mengelus pipi Reina yang basah.
"tidak!" geleng Reina berganti menatap Kenzo
Kenzo mengangkat alisnya yang bagus.
"besok aku akan ganti dengan perhiasan, kamu mau?" elusan Kenzo pun beralih ke leher Reina
"berikan saja pada tunangan jahatmu itu!"
"apa?"
"tidak perlu sembunyi2 bertemu di hotel, aku yang akan pergi!"
Reina yang siap melihat kemarahan Kenzo menjadi terperangah saat melihat pria itu hanya menyeringai.
"kamu cemburu..."
"tunanganmu bukan levelku, untuk apa cemburu!"
dan Kenzo tertawa! TERTAWA!!
"cepatlah mandi, aku akan menemanimu makan malam..."
"makan malam saja sendiri, aku tidak mau!!"
tolak Reina cemberut, meski jantungnya berdebar melihat tampannya Kenzo yang tertawa.
"aku akan memakanmu sampai pagi..."
GLEK! Reina menelan saliva nya ngeri.
"aku tunggu, dandan yang cantik!"
Kenzo beranjak pergi meninggalkan Reina.
******
__ADS_1