
Reina berjalan menuruni tangga menuju ruang kerja Kenzo yang tak tertutup rapat pintunya.
"apa aku boleh masuk?" tanya Reina melihat lampunya yang masih menyala
"kenapa belum tidur?" jawab Kenzo bertanya
"aku tak menemukanmu disampingku.."
Reina berjalan ke arah Kenzo yang terduduk dikursi kerjanya.
"kenapa masih bekerja selarut ini?"
"apa kamu punya kegiatan yang lebih menarik?"
Kenzo meraih tangan Reina, mengecupnya, sebelum menariknya hingga jatuh ke pangkuannya.
Reina menyembunyikan wajahnya ke ceruk leher Kenzo.
"aku takut kehilanganmu..." bisik Reina
Kenzo mengangkat alisnya.
"apa yang kamu bicarakan?"
"aku takut kamu meninggalkanku...dan menikah dengan gadis itu..." jelas Reina menyembunyikan wajahnya karena malu
Kenzo tersenyum.
"takut kehilanganku atau kekayaanku?"
"aku tidak peduli dengan hartamu, karena aku sudah terbiasa hidup susah sebelum mengenalmu.."
Reina mengangkat wajahnya menatap Kenzo.
"segeralah hamil penerusku..." bisik Kenzo mengecup bibir Reina lembut
"kenapa?" tanya Reina memegangi wajah Kenzo
"supaya aku tidak menikahi Kanami.."
Reina langsung mencebikkan bibirnya, membuat Kenzo tertawa melihatnya.
"jika aku belum hamil, apakah kamu akan menikahi gadis itu??"
"mungkin, karena dia pilihan ayahku..."
Reina langsung memucat jika teringat Ayah Kenzo yang menakutkan.
"ayo, buat aku hamil..."
Kenzo menatap Reina tak percaya.Ada senyum tertahan dibibirnya.
"dengan senang hati, sayang..."
Kenzo mencium bibir Reina lembut, dan berubah menjadi panas saat Reina membalasnya.
"apa kamu ingin bercinta disini?" serak Kenzo
Reina menggeleng, dan turun dari pangkuan Kenzo.
"ayo ke kamar, Tuan Kenzo.." ajak Reina sambil mengerling nakal.
Kenzo menyeringai, tampan, dan beranjak berdiri, mengikuti Reina keluar dari ruang kerjanya.
*****
"aarrgghhh dasar ja*ang siaallaann !!"
Kanami tak berhenti membanting semua barang2 dan benda yang bisa dijangkaunya.
Kamarnya yang mewah sudah tak berbentuk lagi karena sudah menyerupai kapal pecah.
"Nona...Nona..."
"keluar kamu! pergiiii!!!"
Para pelayan langsung kabur ketakutan.
Nona muda yang biasanya tampak lembut kini sudah menjadi beringas.
__ADS_1
"apa kita menghubungi Tuan saja?" usul salah satu pelayan
"bagaimana kalau Nona semakin mengamuk?"
"aku takut Nona malah melukai dirinya,.."
"baiklah, ayo kita hubungi Tuan Ryujin.."
Kedua pelayan itu pun berlari menuruni tangga, berlari menuju ruang keluarga dan menghubungi Tuan Besar mereka.
"ada apa?"
"maafkan kami Tuan...kami sudah mengganggu anda..."
"katakan saja!" hardik Tuan Ryujin dari seberang tak sabar dengan pelayannya yang menelepon di saat tak tepat.
"Nona Muda mengamuk Tuan,.."
"apa?!"
"Tuan..bisakah anda pulang segera? kami takut Nona melukai dirinya..."
Tuan Ryujin langsung memutus sambungan telepon dan bergegas untuk pulang.
*****
Tuan Ryujin terkejut begitu membuka pintu kamar anak kesayangannya dan mendapatinya sudah berantakan dengan barang2 yang pecah dan berserakan.
"keluar!!" teriak Kanami yang terduduk di atas ranjangnya yang juga berantakan
"ini Papa 'nak...apa yang terjadi??"
"Papa...?"
"iya Kanami, ini Papa...apa yang terjadi padamu?"
Kanami langsung menangis saat Tuan Ryujin berjalan ke arahnya dan duduk di samping ranjangnya.
"Pa...Kenzo sudah menikahi wanita itu! Bagaimana mungkin aku menikah dengannya?? aku tidak mau jadi istri kedua!" isak Kanami
Tuan Ryujin menghela napasnya.
"Papa sudah bilang padamu, pernikahan mereka tidak sah jika tidak ada legalitas dari hukum negara ini.." kata Tuan Ryujin sambil membelai rambut Kanami
"Besok Papa akan menemui Tuan Iwasaki, dan meminta kepastian pernikahanmu sayang.."
Kanami menghentikan tangisnya.
"benarkah?"
"iya 'nak...akan kulakukan apapun untukmu.."
"aku ingin wanita itu pergi dari Kenzo!"
"iya princess Papa yang cantik...Kenzo pasti akan jadi milikmu, tersenyumlah dan tunjukkan pada mereka hanya kamu yang pantas mendampinginya.."
Kanami mengangguk dan tersenyum.Jahat.
Kamu akan tahu siapa aku, dasar murahan!
*****
Kenzo terduduk di sofa, menatap Reina yang tertidur bergelung selimut tipis yang kusut.
Rambut panjangnya tergerai di bantal, bibirnya yang sedikit bengkak sedikit terbuka dengan napas yang berhembus teratur.
Baru saja mereka bergulat panas di atas ranjang.
Entah sudah berapa kali mereka mendapat kepuasan, pelepasan yang berkali2.
Kenzo tersenyum memandang wanitanya.
Seminggu lagi upacara untuk meresmikan wanitanya masuk ke dalam klan keluarganya siap.
Reina akan mendapatkan tato burung phoenix dipunggungnya, dan bersumpah akan menjadi pendamping selamanya.
Burung phoenix dan naga hitam akan bersatu, menjadi penguasa klan tertinggi saat sang ular senior akan mundur dari tampuk kekuasaannya.
Kenzo menatap ponselnya yang berkedip di atas nakas disamping ranjang.
__ADS_1
Kenzo pun beranjak bangun dari sofa dan meraihnya.
"ada apa Eddy?" tanya Kenzo saat menjawab panggilan di ponselnya
"kak...kita sedang ada masalah diperbatasan dengan klan Yamaguchi," jelas Edward dari seberang
"aku akan menyusulmu kesana," putus Kenzo
Aah sial! kenapa klan Yamaguchi selalu saja mengganggu semua bisnis gelapnya?!
Kenzo bergegas masuk ke kamar mandi untuk bebersih dan memakai baju secepat mungkin sebelum pertumpahan darah terjadi.
Dipandangnya Reina yang masih pulas, dibelainya pipinya dan mengecup keningnya.
"aku pergi dulu sayang..." bisik Kenzo dan berjalan keluar kamar, menutup pintunya pelan.
"Tuan.." Akira sudah berdiri di ujung tangga menyambut Kenzo
"cepat Akira, kita tak punya banyak waktu!"
Setengah berlari Kenzo keluar mansion, mobil2 hitam telah berjajar menunggunya.
*****
Reina menggeliat terjaga dari tidur nyenyaknya.
Direnggangkannya tubuhnya yang terasa penat, selimut kusut yang membelit tubuhnya, merosot ke pinggang saat Reina terlonjak bangun.
Kenzo tak ada disisinya, dirabanya sampingnya yang terasa dingin, menunjukkan bahwa Kenzo tidak menemani tidurnya.
Kemana Kenzo? batin Reina memandang sekeliling kamarnya.
Reina langsung menyambar kimono tidurnya dan memakainya lalu bergegas keluar kamar.
"selamat pagi, Nyonya.." sambut Fuji melihat Reina berjalan menuruni tangga dengan berlari kecil
"dimana Tuanmu?" tanya Reina
"Tuan sudah berangkat pagi2 sekali..." jawab Fuji sambil tersenyum
"Rei...kamu baru bangun??" seru Dena keluar dari ruang makan
"Ya.." angguk Reina tersenyum malu
"ganas ya bertempurnya sampai kesiangan begini? heee.." sindir Dena kembali memasuki ruang makan diikuti Reina
"apa si asisten datar juga sudah pergi?" tanya Reina
"tentu saja, dia kan anjing setia yang mengekor tuannya?" ejek Dena memilih duduk di kursi dan memulai sarapannya.
"apa Nyonya ingin sarapan sekarang?" tawar Fuji
"aku ingin minum susu saja..."
"baik Nyonya, saya akan menyiapkannya.."
Reina mengawasi Fuji yang menghilang ke balik pintu menuju dapur.
"apa kamu tahu? kepala pelayan itu sudah membohongimu?" bisik Dena
"apa?"
"Kenzo dan asistennya pergi tadi malam, dan aku tidak tahu kenapa mereka tampak terburu2.."
"darimana kau tahu?" tanya Reina terkejut
"tadi malam, saat aku hendak mengambil air minum, aku melihat Kenzo tampak setengah berlari keluar, dan aku mengendap2 mengintip mereka dari jendela..."
"lalu?"
" banyak mobil yang berbaris dan orang2 berpakaian hitam2 menunggu mereka..."
Reina sampai menahan napas mendengar cerita Dena.
"aku penasaran mereka akan kemana, apa yang akan mereka kerjakan..pandanganku tidak terlalu jelas karena minim cahaya dari lampu depan, tapi aku yakin Kenzo menyelipkan pistol dibalik mantelnya.."
"apa kita harus mencari informasi?" bisik Reina
"tentu saja,,karena aku yakin, suamimu itu dalang dibalik menghilangnya orang tuamu.."
__ADS_1
"apa??"
*****