
Dena tiba di ruang Presidential Suite sambil membawa perlengkapan kebersihan.
"maaf Tuan, saya mau membersihkan ruangan.."
Para pengawal mengawasi Dena sebelum akhirnya dipersilahkan memasuki ruangan.
Dena mengawasi berkeliling, dan melihat seorang wanita berdiri di sisi jendela membelakanginya.
Jantung Dena berdetak keras, karena merasa tak asing dengan sosok punggung yang membelakanginya itu.
"itu seperti Reina, tapi mana mungkin dia bisa disini? apalagi dengan gaun yang tampak mahal itu.." batin Dena
Hampir seminggu ini, sejak kejadian di Club lalu, Reina seperti menghilang di telan bumi.
Apalagi tiba2 surat pengunduran dirinya sampai ke HRD yang tanpa banyak bertanya langsung menyetujuinya.
Dena pun beberapa kali datang ke rumah Reina, tapi nihil, rumahnya sepi tak ada penghuni.
"maaf Nona, saya petugas kebersihan dan..."
Dena terperanjat tak melanjutkan kata2nya saat sosok itu membalikkan tubuhnya.
"Reina?"
"Dena?"
Kedua gadis itu langsung berhambur dalam pelukan.
"bagaimana kamu bisa disini??" seru Dena
"sejak kejadian di Club itu aku disini dan belum keluar sama sekali.."
"apa?!" Dena terperangah.
"aku selalu menunggumu bertugas disini.."
"maafkan aku Rei...aku diskorsing 5hari karena kejadian di Club itu.."
"ta-tapi bagaimana bisa..?" Reina terkejut mendengarnya.
"aku juga bingung..." geleng Dena lemah
"maafkan aku Rei...kalau saja aku tidak mengajakmu ke Club dan bertemu teman2 sialan itu..."
Reina menatap Dena bingung
"maafkan aku... apalagi sejak tahu dari pengakuan Sam yang mencampur minumanmu dengan obat..." isak Dena
Dena menunduk, bahunya berguncang karena tangis.
"semua sudah terjadi..." Reina memeluk Dena mencoba menghiburnya.
"lalu kenapa kamu ada disini? dan lihatlah dirimu..."
Dena mengusap airmatanya, bibirnya tersenyum menatap penampilan Reina yang berubah drastis.
"ceritanya panjang...yang pasti aku tidak bisa keluar dari sini..."
Dena dan Reina saling menghembuskan napas berat.
"tapi tidak buruk juga kamu ada disini? Lihat saja dirimu, seperti wanita berkelas..."
__ADS_1
Dena benar2 terpesona dengan penampilan Reina yang berdiri dihadapannya.
Reina tampak cantik dengan gaun terusan tanpa lengan berwarna biru navy, dengan hiasan pita dibawah dadanya.
Seuntai kalung berlian berkelip menghias leher Reina yang putih bersih, begitu juga dengan anting dikedua telinganya.
"kadang ada hikmah di dalam musibah.."
Dena tertawa melihat Reina yang cemberut.
"tolong bantu aku keluar dari sini...aku ingin bertemu orangtuaku..pasti mereka khawatir..."
"apa orangtuamu dirumah? beberapa kali aku ke sana rumahmu sepi, seperti tak berpenghuni.."
"apa?" Reina terkejut dengan penuturan Dena
"dimana laki2 itu?" Dena menengok ke sana kemari
"mereka sedang keluar, "
Reina terduduk di kursi dekat jendela.Kepalanya terasa pusing mendengar rumah orangtuanya kosong, lalu kemana perginya Ayah dan Ibunya?
Apa mungkin pria es yang ....
"aku akan segera bersih2 dan keluar dari sini...kita pikirkan cara untuk membawamu keluar dari sini.."
Reina mengangguk lemah, tubuhnya terasa lemas.
*****
Reina sedang memoles bibirnya dengan lipstik saat pintu kamar terbuka.
Kenzo muncul disana, tampan dengan setelan jas mahalnya yang berwarna hitam.
Reina menelan saliva nya takut saat Kenzo berjalan mendekat ke arahnya dan berdiri di belakang tubuhnya.
"milikku yang cantik..." ucap Kenzo mengelus leher Reina yang telanjang karena Reina menyanggul rambutnya sederhana.
"berlian cocok sekali denganmu,..apa kamu mau aku belikan lagi hemm?"
Gaun berwarna hitam dan kulitnya yang putih membuat berlian ditubuh Reina semakin memancarkan kilaunya.
"aku tidak ingin berlian..."
"lalu? apa yang kau inginkan? safir? jamrud?"
"aku...aku ingin bertemu orangtuaku..."
Reina menatap Kenzo melalui kaca rias dihadapannya, keberaniannya muncul tiba2.
"kamu milikku..tidak ada yang boleh memilikimu selain aku, bahkan orangtuamu sekalipun..."
Kenzo menyeringai, mata birunya menatap Reina tajam.
"aku bukan milikmu...lepaskan aku!"
Reina tak mampu lagi menahan emosinya.
Sudah cukup ia bersabar dengan pria dihadapannya, terkurung di penjara mewah ini.
Reina berdiri dari kursi dan mencoba menjauhi Kenzo, namun terlambat karena Kenzo sudah menariknya keras hingga jatuh didadanya yang bidang.
__ADS_1
Kenzo mencengkeram dagu Reina supaya menatapnya.
"sudah kubilang kamu milikku, kamu tidak boleh keluar dari sini selangkah pun!" desis Kenzo
Pria ini gila ! batin Reina memukuli dada Kenzo brutal saat pria itu mengangkat tubuhnya dan menghempaskannya ke ranjang.
"lepaskan aku!" teriak Reina saat Kenzo mengungkung tubuhnya.
Dengan kasar Kenzo menarik gaun Reina kasar hingga robek dan memperlihatkan tubuh Reina yang berbalut dalaman berwarna hitam transparan.
Reina memberontak menatap kilatan berbahaya dimata biru Kenzo.
Dengan kuku nya Reina mencakar wajah Kenzo membuat Kenzo mengerang kesakitan.
"kamu!"
Kenzo menunduk, mencium Reina dengan beringas.Digigitnya bibir bawah Reina saat tak membuka karena desak tak sabar lidahnya.
Reina mengerang dan Kenzo memanfaatkannya untuk menyusupkan lidahnya brutal.
"jangan....lepaskan aku..." isak Reina saat Kenzo mulai menciumi lehernya dan semakin menuruni tubuhnya.
Reina benar2 membenci tubuhnya, yang begitu saja menikmati ciuman2 Kenzo.
"Lihat...? tubuhmu saja tahu kalau sudah menjadi milikku.." seringai Kenzo mulai melepas jas dan kemejanya.
Reina menatap nanar tubuh gagah pria diatasnya kini.Tato naga berwarna hitam itu tampak berkilat oleh peluh saat Kenzo memulai penyatuannya dengan Reina.
Reina mencengkeram punggung Kenzo dengan kuku2nya saat Kenzo bergerak menghunjamnya tak terkendali.
Kenzo bertukar posisi, menarik Reina ke atas tubuhnya yang kini terduduk bersandar di ranjang yang berantakan.
Kenzo mengelus wajah Reina, mengusap bibir bawah Reina yang terluka karena gigitannya.
Kenzo mencengkeram salah satu aset Reina yang penuh dengan tanda kepemilikannya.
Reina merasa benar2 seperti pe*acur saat berada dipangkuan Kenzo dengan tubuh inti saling menyatu seperti ini.
"puaskan aku.. akan ku bawa kau menemui orangtuamu.." bisik Kenzo di ceruk leher Reina yang lembab oleh peluhnya.
Reina tertegun, jadi benar, keberadaan orangtuanya ada sangkut pautnya dengan pria gila ini!
Kenzo mencium, menyesap milik Reina seperti bayi yang kelaparan.Tangannya memegangi pinggul Reina, memintanya untuk bergerak, memburu pelepasan bersama.
*****
Reina meringkuk di atas ranjang yang berantakan, selimut kusut melilit tubuhnya yang polos.
Kenzo tersenyum menyeringai menatapnya saat memakai bathrobe berwarna hitam untuk menutupi tubuhnya yang juga polos.
Suasana hati Kenzo selalu bahagia usai menikmati permainan yang panas dengan Reina.
Wanita itu seperti candu baginya, membuatnya tak puas untuk menikmati lagi dan lagi.
Reina melirik Kenzo yang keluar kamar.
"aku tidak boleh menangis, aku harus mencari cara untuk dapat keluar dari sini dan pergi sejauh mungkin dari pria gila itu," batin Reina memberi semangat pada dirinya.
Reina terduduk, menarik selimut untuk membelit tubuhnya dan beringsut turun dari ranjang.
"aku harus bisa secepatnya pergi dari sini,"
__ADS_1
gumam Reina, berjalan tertatih menuju bathroom untuk membersihkan tubuhnya dari kepemilikan Kenzo.