
Reina turun dari mobil begitu Akira membukakan pintunya.
Orang2 yang berada di lobi memandang ke arah Reina takjub.
Gaun hitamnya yang berleher rendah dan memamerkan punggungnya yang putih mulus membuat banyak mata meliriknya kagum.
Reina menyanggul rambutnya sederhana dengan beberapa helai rambut yang sengaja dibiarkan jatuh menutupi wajahnya yang bermake up tipis.
Kenzo menyusul turun dari mobil, mengancingkan jasnya.
Pasangan yang sempurna.Pria tampan dan wanita cantik.
Kenzo menggandeng tangan Reina berjalan memasuki hotel tempat diadakannya pesta.
Ya, pesta resepsi Dimas dan Sinta.
Reina yang dulu selalu menunduk saat berjalan bersama Kenzo, kini berani mengangkat dagunya angkuh.Hanya untuk kali ini, ia bersikap layaknya wanita kelas atas yang angkuh, karena rasa sakit hatinya pada kedua mempelai.Sahabat sekaligus pengkhianat.
Akira bersama 2 orang pengawal mengikuti dari belakang.
"Lihat, itu Tuan Kenzo bersama kekasihnya,"
bisik2 para tamu yang sebagian besar adalah karyawan perusahaan ekspor impor milik Kenzo.
"apa kamu tahu, Dimas kemarin ditampar oleh kekasih Tuan Kenzo?"
"memang ada apa dengan mereka? sepertinya Dimas mengenal kekasih Tuan Kenzo?"
Sekilas bisik2 para tamu yang didengar Reina, membuat kupingnya panas.
"apa kamu ingin menyalami mereka?" tanya Kenzo menunduk berbisik ke telinga Reina.
"tentu, bukankah ini yang kamu tunggu?" jawab Reina yang berbisik juga.
Kenzo dengan sengaja mengecup leher mulus Reina yang telanjang, membuat para wanita disekitar mereka menatap iri pada Reina.
"iiisshhh sepertinya Tuan Kenzo benar2 tergila2 pada kekasihnya!"
Dan masih banyak lagi bisikan2 diantara para tamu.
Kenzo membantu Reina menaiki tangga menuju pelaminan, gaun Reina yang berbelahan tinggi tersingkap memamerkan paha mulusnya saat ia menaiki tangga.
Kenzo mengamit pinggang rampingnya possesif.
Dimas dan Sinta membulatkan matanya terkejut saat melihat Kenzo dan Reina ikut antri untuk menyalami mereka.
Dimas menahan napasnya saat melihat Reina dari atas ke bawah.Benar2 sempurna.Kecantikan yang paripurna.Seperti bukan Reina yang dulu menjadi kekasihnya.
Dimas merasakan dadanya panas dan sesak saat melihat tangan Kenzo yang mengamit pinggang Reina dengan intim, menunjukkan pada semua orang arti Reina disisinya.
"selamat ya..." ucap Reina tersenyum.
"semoga kalian berbahagia.." timpal Kenzo dengan bahasa Indonesia yang kaku.
Orang tua Sinta yang mengenal Reina terkejut melihat Reina yang benar2 berbeda.
"Reina?" sapa ibu Sinta tak percaya
"iya Tante, saya Reina.." angguk Reina tersenyum
"kamu...dengan siapa?" tanya ibu Sinta menatap Kenzo yang berdiri dibelakang Reina.
"dia..."
__ADS_1
"saya calon suaminya.."
Reina membulatkan matanya dan menoleh menatap Kenzo kaget, sama seperti Dimas dan Sinta.
"terimakasih Reina sudah datang...dan Tante tunggu undanganmu ya..."
Reina hanya tersenyum tak menanggapinya, dengan menggandeng tangan Kenzo, Reina menuruni panggung pelaminan.
"aku ingin pulang!" desis Reina menahan marah
"kenapa tidak menikmati pestanya dulu?" tanya Kenzo tersenyum menyeringai
Reina meliriknya tajam dan melepas genggaman tangannya gemas.
"sayang..." panggil Kenzo dengan suara keras yang disengaja, membuat banyak orang menatap mereka berdua.
Ingin rasanya Reina berteriak dan mencakar wajah Kenzo yang tersenyum menyeringai, tampan sekali.
Kenzo kembali meraih tangan Reina, dan mengajaknya menuju ke salah satu roundtable yang tersedia khusus untuk tamu petinggi seperti Kenzo.
Beberapa petinggi langsung berdiri seraya mengangguk hormat menyambut kedatangan Kenzo.
Kenzo menarik salahsatu kursi untuk Reina duduk, sebelum dirinya sendiri duduk di samping Reina.
Reina duduk bersandar, menyilangkan kakinya memamerkan paha mulus yang terbuka karena tersingkap belahan gaunnya.
Akira duduk bersama Tuan dan Nona nya dalam satu meja sementara para pengawal berdiri tak jauh dari mereka.
Reina menatap keramaian di sekitarnya, dan tatapannya pun bersirobok dengan tatapan Dimas ke arahnya.
"kenapa pengkhianat itu terus menatapku, dasar sialan!" umpat Reina dalam hati seraya tersenyum saat seorang pelayan meletakkan hidangan pembuka di meja hadapannya.
Kenzo tampak sibuk berbicara dengan Akira, yang tentu saja Reina tak mengerti karena mereka berbicara dengan bahasa asing.
Reina tersenyum sambil memainkan jarinya yang berhias cincin berlian pemberian Kenzo.
Dimas tersentak kaget.
"kenapa kamu terus memandanginya??"
"kamu kenapa sih!" ketus Dimas merasa jengkel dengan istrinya itu.
Reina tersenyum saat melihat Dimas dan Sinta yang terlihat tegang.Tak ada lagi senyum yang menghiasi wajah pengantin baru itu.
Sebuah band ternama mulai memainkan musik, menyanyikan lagu2 romantis.
Sang vokalis pun mempersilahkan para tamu undangan untuk berdansa di tempat yang telah disediakan, memeriahkan pesta resepsi.
"apa ingin berdansa?" tanya Reina tersenyum menyembunyikan sesuatu yang berbahaya.
Kenzo mengalihkan pandangnya menatap Reina penuh tanda tanya.
Reina mengulurkan tangannya dan disambut Kenzo menuju lantai dansa.
Dimas yang melihat Reina pun tak mau kalah, ia menarik Sinta menuju lantai dansa.
Reina memeluk leher Kenzo yang memeluk pinggang rampingnya.
"kamu membuatku lapar.." bisik Kenzo terengah di telinganya, mengecupnya lembut.
Reina tertawa, membuat Dimas melirik tajam ke arah mereka.
Sinta pun melepaskan pelukan Dimas dan berjalan menjauh dengan kesal.
__ADS_1
Reina semakin tertawa melihat pasangan pengkhianat itu yang belum sehari saja menikah sudah bertengkar.
"ayo pulang," putus Kenzo melepas pelukannya dan menggandeng Reina, mengajaknya pulang.
*****
Tuan Iwasaki menatap tajam foto di meja kerjanya.
Foto anak lelakinya yang berdansa dengan seorang wanita pribumi.Mereka tampak intim dengan pose mereka, anak lelakinya tampak menunduk ke telinga si wanita sementara si wanita tampak tertawa, bahagia.
Tuan Iwasaki mengawasi potret wajah Reina.
Wajah yang begitu familiar, wajah istrinya yang telah tiada entah mengapa bisa membayang di sana.
"Tuan muda sepertinya benar2 memiliki perasaan dengan gadis itu tuan.." lapor Sakimoto
"bagaimana hubungan mereka?"
"mereka sudah tinggal bersama di hotel yang dibeli Tuan muda..."
Tuan Iwasaki menatap tajam Sakimoto.
"menurut info, Tuan muda hendak menikahi gadis itu.." jelas Sakimoto lagi.
"apa??" Tuan Sakimoto menggebrak meja kerjanya
Sakimoto memandang Bos nya yang tampak menahan amarah itu.
"Bagaimana mungkin Kenzo bisa gegabah seperti itu! selidiki gadis itu, bagaimana mungkin Kenzo bisa luluh padanya!"
"baik, Tuan.." angguk Sakimoto.
Bukankah Tuan muda mirip dengan anda, Tuan Besar? batin Sakimoto tersenyum, mengingat kembali kenangan masa lalu saat Bos nya dulu berani menentang kedua orangtua nya demi seorang gadis asing yang menjadi Nyonya Besarnya.
*****
"Lebih cepat sayang.." desis Kenzo, mencengkeram pinggul Reina yang bergerak berirama di atas tubuhnya.
Kenzo mengerang yang membuat Reina tersenyum menggodanya.
Reina menggoda Kenzo dengan gerak tubuhnya yang perlahan, benar2 merasakan penyatuan mutlak Kenzo dalam dirinya.
Kenzo dibuat tak berdaya dibawahnya, beberapa kali pria itu mengerang tak sabar menuntut pelepasan yang memuaskan.
Reina menunduk, mengecup bibir Kenzo lembut, membuatnya semakin gila.
"sial ," maki Kenzo dan membanting tubuh Reina ke ranjang dan langsung menindihnya.
Reina memekik merasakan hunjaman Kenzo yang tak terkendali.
Reina menekuk tubuhnya merasakan sesapan kasar Kenzo di kedua bukitnya yang menantang.
Reina berteriak, pinggulnya dicengkeram merapat Kenzo yang menyentak dalam miliknya ke kehangatan Reina, menyemburkan benih2 premium miliknya.
Kenzo tumbang diatas tubuhnya tanpa melepas penyatuannya.
Mereka sama2 tersengal merasakan kenikmatan dunia yang baru saja direngkuh.
Reina menggeliat mencoba lepas dari tubuh Kenzo yang berat.
Kenzo pun menurutinya dan menggeser tubuhnya, membiarkan Reina beringsut turun dari ranjang dan berlari ke kamar mandi.
Kenzo tersenyum puas, dan senyumnya langsung menghilang melihat ponselnya yang berkedip tanda panggilan masuk.
__ADS_1
"Otōsan (ayah)...?"
*****