
Kenzo menghela napas sambil melirik lengannya yang masih dipegang erat oleh Reina.
Kenzo mengajak Reina ke perusahaannya karena terus saja merengek memaksa untuk ikut.
Rupanya ia masih ketakutan dengan kejadian tadi pagi.
Akira dan Dena mengekor dengan mobil yang berjalan dibelakang mobil Kenzo.
Mobil2 berurutan memasuki pelataran lobi gedung milik Kenzo yang menjulang tinggi.
Pengawal Kenzo yang duduk di samping sopir lebih dulu turun untuk membukakan pintu Kenzo.
Kenzo menuruni mobil, dan mengulurkan tangannya untuk membantu Reina.
Reina merapikan gaunnya yang berwarna hitam sesaat setelah turun dari mobil.
Kacamata hitam membingkai wajah Reina, membuat karyawan Kenzo penasaran dengannya.
Sang penguasa yang dingin memasuki gedung dengan menggandeng wanita berkacamata hitam yang berjalan sambil menunduk.
Akira berjalan bersisian dengan Dena mengikuti Kenzo dan Reina memasuki lift khusus petinggi.
"kenapa menunduk? angkat dagumu, kamu hanya boleh menunduk padaku saja!" marah Kenzo
"aku hanya tak ingin mereka mengenaliku, siapa tahu ada mata2 ayahmu yang mengawasiku?"
Kenzo ingin marah tapi juga ingin tertawa.
Hanya dengan menggandengmu saja, orang2 sudah tahu siapa dirimu bagiku, batin Kenzo gemas.
"selamat pagi, Tuan Kenzo," sapa Rumi melihat kedatangan Kenzo.
"selamat pagi, Nyonya..." sapa Rumi lagi melihat Reina yang tak melepas tangan Kenzo sedikit pun.
Reina hanya tersenyum, dan terus mengikuti Kenzo memasuki ruangannya.
Akira membawa Dena memasuki ruangannya.
Reina berjalan menuju sofa yang berhadapan dengan meja kerja dimana Kenzo sudah duduk di sana, mulai membuka map2 dokumen yang menumpuk.
"apa aku boleh memiliki ponsel?" cetus Reina saat bosan melandanya karena hanya duduk di sofa menunggu Kenzo bekerja.
"untuk apa?" tanya Kenzo tanpa melepas pandangannya dari dokumen
"aku bosan..." keluh Reina melepas sepatu heelnya
Dengan bertelanjang kaki Reina berjalan menuju dinding kaca yang menyuguhkan kesibukan kota dibawahnya karena ruangan Kenzo berada di lantai teratas gedung.
Kenzo duduk bersandar, meraih telepon di atas mejanya untuk menghubungi Akira.
Tak menunggu lama, Akira memasuki ruangan Kenzo seraya membawa paper bag.
"ini pesanan anda, Tuan...sudah bisa langsung digunakan, hanya ada kontak Tuan, Nona Dena dan saya untuk keadaan darurat," jelas Akira
Kenzo hanya mengangguk sambil menunjuk meja di depan sofa supaya Akira meletakkannya di sana.
"ada lagi,Tuan?"
"tidak, kembalilah bekerja,"
"baik,Tuan.."
Akira menganggukkan kepalanya hormat, dan beranjak keluar ruangan Kenzo.
Reina yang melihat paperbag dengan logo ponsel terkenal langsung memekik kegirangan.
Bergegas ia meraihnya dan membukanya dengan
tak sabar.
Reina berlari kecil ke arah Kenzo,
"terimakasih," kata Reina membungkuk mengecup pipi Kenzo.
Kenzo menarik Reina hingga terduduk dipangkuannya.
__ADS_1
"terimakasih yang benar..." ucap Kenzo menyusupkan wajahnya ke ceruk leher Reina,menghirup aroma chamomile Reina.
Reina menarik wajah Kenzo, menundukkan wajahnya untuk mengecup bibirnya.
Kenzo tersenyum, lembut,membuat jantung Reina berdegub tak karuan.
Reina menatap mata biru itu dengan berdebar2.
"terimakasih, sayang..." bisik Reina menyandarkan kepalanya ke bahu Kenzo malu.
"kakak a-ku.."
Reina langsung turun dari pangkuan Kenzo karena kaget, bersama mereka menoleh ke arah pintu yang terbuka dan Edward sudah berdiri di sana dengan napas yang memburu seperti habis berlari.
"apa kamu tidak bisa mengetuk pintu dulu?" ketus Kenzo.
"maaf....aku tidak tahu ada kakak ipar.." kata Edward memandang Reina merasa bersalah
"tidak apa2...kamu tidak perlu meminta maaf..."
geleng Reina tersenyum, berjalan kembali ke arah sofa dan meraih ponselnya.
"kakak, apa benar tadi pagi Ayah ke mansionmu.."
"kita bicara di ruang meeting saja!" putus Kenzo beranjak berdiri sebelum Edward menyelesaikan bicaranya.
Edward mengangguk dan berjalan mengikuti Kenzo keluar ruangan.
*****
"ini tidak mungkin Papa!!" teriak Kanami histeris saat orang suruhan Tuan Ryujin meletakkan foto2 Kenzo bersama Reina yang berhasil dikuntitnya.
Kanami benar2 shock saat mengetahui dugaannya tentang wanita yang bersama Edward saat itu ternyata benar.
"apa kamu yakin informasimu akurat??" suara Tuan Ryujin pun mulai meninggi.
"benar, Tuan...bahkan wanita itu tinggal di mansion Tuan Kenzo yang tak bisa sembarang orang memasukinya," jelas orang suruhannya
"pernikahan mereka tidak sah tanpa legalitas di negara ini," kata Tuan Ryujin berusaha menenangkan putrinya.
"iya sayang...sebelum mereka melegalkan di hukum negara kita, pernikahan mereka tidak sah..."
"berarti, pertunanganku dengan Kenzo masih bisa dilaksanakan?"
"tentu saja," angguk Tuan Ryujin tersenyum
Kanami mengulas senyum puasnya.
Aku tidak akan menyerahkan Kenzo padamu, dasar wanita jal*ng, batin Kanami jahat.
"apa kamu tidak ingin mengunjungi tunanganmu?"
"nanti Pa, sekalian mengirim makan siang.."
"nanti Papa akan mengirim sopir untukmu.."
Kanami tersenyum, berjalan ke arah Tuan Ryujin, dan memeluknya hangat.
"terimakasih Papa, aku sangat menyayangimu.."
"papa juga 'nak..."
*****
"ayo.." Kenzo mengulurkan tangannya pada Reina yang tiduran di sofa sambil bermain ponsel.
"kemana?" tanya Reina terduduk
"apa bermain ponsel membuatmu kenyang?"
tanya Kenzo pelan dengan penekanan.
"tidak," geleng Reina memakai sepatunya.
Dimasukkannya ponsel ke dalam tas dan menerima uluran tangan Kenzo.
__ADS_1
"apa aku boleh makan masakan negaraku?" tanya Reina berjalan menggandeng tangan Kenzo
Kenzo mengangguk dan membuka pintu, mengajak Reina keluar.
Reina memakai kembali kacamata hitamnya, dan berjalan bersama Dena, mengikuti Kenzo dan Akira yang berjalan di depan.
Para pengawal pun dengan sigap langsung berjalan mengikuti.
"aku rindu masakan negara kita.."
"aku juga," angguk Dena
Kedua wanita itu pun asyik bercengkerama sambil berjalan menuju lift yang akan membawa mereka menuju lantai dasar.
Sebuah mobil hitam yang mewah berhenti di deret belakang barisan mobil Kenzo yang akan membawa mereka keluar menuju restoran untuk makan siang.
Kanami muncul dari sana, setelah seorang pengawal berbadan besar membukakan pintu bagian penumpang.
Senyum yang mengembang dibibirnya karena melihat Kenzo yang keluar gedung bersama Akira langsung sirna begitu Reina dan Dena muncul dibelakangnya diikuti pengawal.
"Kenzo!" panggil Kanami berjalan mendekat
Semua orang serentak menoleh ke arah Kanami yang sudah berdiri tak jauh dari mereka.
"selamat siang, Nona..." sapa Akira menunduk hormat
"siapa dia?" tanya Dena berbisik pada Reina
"nanti kau juga tahu," jawab Reina tersenyum tipis
"mau kemana?" tanya Kanami dengan suara lembut
"kami akan keluar untuk makan siang,Nona.."
jawab Akira karena Kenzo tampak tak peduli
"aku bertanya pada,Tuanmu!" ketus Kanami
"masuk ke dalam mobil, sayang.." titah Kenzo membuat Kanami semakin naik pitam.
Reina mengangguk, seorang pengawal membukakan pintu mobil dan Reina pun masuk ke dalamnya.
"siapa dia?" tanya Kanami mendesis
"aku tunanganmu! jawab aku!" sentak Kanami
Kenzo hanya tersenyum menyeringai.
"anda masih calon, Nona...dan pertunangan bisa dibatalkan kapan saja.." ucap Akira dingin
"katakan padaku, siapa dia?!" Kanami menarik lengan Kenzo, membuat Dena jadi jengkel melihatnya.
"dia istriku," ucap Kenzo dingin sambil menyentak lepas tangannya.
Kanami membulatkan matanya, terperangah dengan jawaban Kenzo yang singkat yang membuat hatinya sakit.
"aku sudah bilang padamu, tidak ada yang boleh menggangguku!" kata Kenzo melirik tajam Akira.
"maaf Tuan, akan segera saya bereskan,"
Kenzo pun masuk ke mobil dan duduk di samping Reina, sementara Dena memasuki mobil yang berada di depan mengawal mobil Reina.
"silahkan anda pergi, Nona...kami tidak ingin berbuat lebih dari ini.."
"aku akan membuat perhitungan dengan kalian!"
Akira menaikkan kedua alisnya dan tersenyum dingin.
"saya tidak sabar ingin melihatnya, Nona.."
Kanami pun pergi meninggalkan Akira menuju mobilnya dengan amarah yang meluap.
awas kamu, wanita murahan! tidak ada yang boleh memiliki Kenzo selain aku!
******
__ADS_1