Deviasi

Deviasi
#part 94


__ADS_3

Kenzo meremas dokumen kemudian menyobek2nya menjadi serpihan2 kecil.


Dokumen pembatalan pernikahan yang dikirim oleh Reina di sertai kartu ucapan selamat pernikahan padanya.


Wajah Kenzo menjadi merah padam hingga ke telinganya.


Mata birunya pun menggelap tanda amarahnya yang kian memuncak.


"apa mau nya?!" desis Kenzo


Akira hanya menundukkan kepalanya, tidak ada keberanian meskipun hanya secuil untuk menatap ke arah Tuannya.


"jawab aku, Akira!!" teriak Kenzo


"maafkan saya, Tuan...saya benar2 tidak tahu sepak terjang Nyonya Reina..."


Kenzo menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi kerja miliknya.


Kenzo memejamkan matanya seakan dengan begitu bisa mengurangi rasa pening di kepalanya karena emosi.


"kenapa semua bisa hancur bersama? Bisnisku terancam, dan Reina ingin berpisah denganku!"


Akira menatap iba.


Betapa mengerikannya jika seorang wanita sudah sakit hati, semua akan dimusnahkan,


batin Akira menghela napas berat.


******


Reina berdiri di depan pintu keluar penumpang yang berada di Bandara.


Reina memakai pakaian santai.


Celana jeans pendek yang tertutup oleh kemeja besar yang berwarna hitam.


Rambutnya dibiarkan tergerai, membingkai wajahnya yang tersamar dengan kaca mata hitam.


Reina yang sudah memiliki 2 putra tapi masih terlihat seperti gadis belia.


Kakei berdiri di sampingnya.


Memakai celana jeans belel dengan kaos berkerah berwarna hitam.


Kakei memakai topi baseball.

__ADS_1


Sungguh, mereka berdua benar2 tampak seperti pasangan yang serasi.


Senyum Reina merekah melihat keluarga kecil yang muncul dari arah pintu keluar untuk penumpang penerbangan internasional.


Edward dan Dena yang menggendong putranya yang tampan, Daniel.


Reina melambaikan tangannya, disambut dengan Dena yang tertawa sumringah.


Berlari kecil Reina mendekat ke arah Dena dan memeluknya.


"aiiisshhh senangnya kamu akhirnya datang kemari...." ucap Reina


"aku kangen sekaliii...."


Daniel yang diapit oleh Reina pun protes keras.


"No...No..." protesnya merasa sesak


Reina tertawa melihat Daniel yang tampak cemberut dengan pipi montoknya yang menggembung marah.


"maafkan onty ya....aahh kamu tampan sekalii..."


Reina gemas sekali menciumi pipi Daniel, semakin membuat bocah kecil itu marah.


Edward tersenyum melihat tingkah anaknya yang menarik rambut panjang Reina.


Edward mengalihkan pandang ke sumber suara.


Kakei berdiri di dekatnya sambil mengulurkan tangannya.


Edward pun menyambutnya dengan tersenyum.


"terimakasih sudah menyambut kami...."


Kakei hanya tersenyum.


"ayo kita segera pulang," ajak Reina


Para pengawal Kakei pun segera sigap membawa barang2 Dena dan Edward.


"pulang kemana?"


"apartemenku lah..."


"apartemenmu terlalu kecil," kata Kakei

__ADS_1


Reina menatap ke arah Kakei tak suka.


"aku sudah menyewa sebuah Resort di dekat pantai, kalian tidak perlu bertengkar..."


Edward menengahi dengan sabar.


Dena tersenyum geli.


"kenapa kau tidak bilang padaku?" protes Reina.


Bayangannya untuk mengobrol sepanjang hari bersama Dena pupus sudah.


"kau bisa main ke resort, sayang..." kata Dena


Reina memasang wajah cemberutnya, melempar tatapan tajam ke arah Kakei.


"sudah2,...ayo kita segera pergi dari sini, aku lapar sekalii..."


Dena langsung mengamit lengan Reina setelah menyerahkan putranya ke gendongan Ayahnya.


Daniel mencuri2 kesempatan menatap Kakei.


Kakei yang merasa ditatap pun, mengalihkan perhatiannya.


Siapa yang menyangka, Daniel mengumbar senyumnya yang hangat seperti senyum Ayahnya.


"kurasa dia menyukaimu..." kata Edward tertawa melihat polah lucu putranya.


"benarkah?"


Edward menjawab Kakei dengan anggukan kepalanya.


"apa kau mau di gendong Uncle?"


"yaass Daddy..." angguk Daniel


Kakei yang tidak pernah menggendong anak kecil menjadi gelagapan saat Edward menyerahkan Daniel ke gendongannya.


"you al vely handsome uncle..." kekeh Daniel lucu


Kakei merasakan dadanya berdebar.


Lelaki kecil dalam gendongannya ini sangat tampan dan wangi, aroma khas bayi.


Aaahh....Reina....kau benar2 membawa perubahan besar dalam hidupku...jika saja kita bisa menikah, aku ingin memiliki putra setampan dan sepintar ini.....Kakei bermonolog dalam hati, seraya melihat Reina yang berjalan sambil bergandengan, bersendau gurau dengan Dena layaknya gadis remaja.

__ADS_1


********


__ADS_2