
Reina menghentikan langkahnya saat melihat beberapa pria berjas berdiri menghalangi mobil yang akan membawanya pulang ke mansion.
"siapa mereka Rei?" tanya Dena merasa takut terjadi sesuatu
"aku juga tidak tahu," geleng Reina bingung karena pria2 berjas itu bukan para pengawal Kenzo.
"mari ikut bersama kami, Nyonya Muda..."
Reina memundurkan langkahnya saat salah satu pria berjas mendekat ke arahnya.
"siapa kalian??" Reina mundur dengan gugup
"anda akan mengetahui saat ikut bersama kami..." jawab pria berjas itu datar
"kita kembali saja, Rei..." ajak Dena berbisik
"mohon kerja samanya, Nyonya Muda...kami tidak ingin melukai anda..."
Dan sebelum Reina berbalik, salah satu dari mereka pun mendekat ke arah Reina dan menutup hidung Reina dengan sapu tangan yang sudah dibubuhi obat.
Dena berteriak mengundang perhatian.
"berhenti !!" teriak Dena melihat tubuh Reina yang dibawa ke dalam mobil mewah yang besar.
"anda jangan ikut campur urusan kami!"
Kaki Dena terasa lemas saat melihat pintu mobil besar itu bergeser menutup dan berjalan pergi.
"aku mohon, berhenti!!" teriak Dena terduduk di jalanan saat pria2 tersebut memasuki mobil lain, meninggalkan Dena sendiri.
******
"argghhh sial!!"
Kenzo mengamuk membuang semua barang2 di hadapannya.
Akira hanya menatap Tuannya,sementara Edward tampak sibuk mencoba menenangkan Dena yang terus saja menangis.
"aku beri waktu 1 jam temukan istriku Akira!!"
__ADS_1
"baik Tuan..." Akira bergegas keluar dari ruangan Kenzo.
"tenanglah Nona....kita akan segera menemukan kakak ipar..." hibur Edward
Kenzo terduduk di kursi kebesarannya dengan napas tersengal.
"aku akan menyuruh Willy untuk membantu Akira," ucap Edward dan beranjak keluar seraya mengajak Dena.
Edward sangat memahami Kenzo dengan amarahnya yang kadang tak bisa dihentikan.
"mari Nona Dena, aku akan mengantarkan pulang ke mansion...."
"tapi Rei..."
"percayalah aku akan membereskan semuanya.."
Dena menghapus air matanya yang terus saja mengalir.
"maafkan aku tidak bisa menjaga Reina..." isak Dena berjalan mengikuti Edward.
"jangan salahkan dirimu...." Edward pun berhenti melangkah, dan meraih tangan Dena untuk menggenggamnya.
"Tuan, saya akan membantu Akira mencari keberadaan Nyonya Reina..."
"ya ,Willy...kau tahu aku tidak menerima kegagalan ?"
"baik, Tuan!"
Dena menoleh ke arah Edward. Wajah tampan yang terbiasa tersenyum ramah itu, kini berubah dingin.
"Bisa anda lepaskan tangan saya?" Dena langsung berbicara dengan sopan menyadari Edward yang berubah.
"tidak, sebelum aku memastikanmu sampai ke mansion dengan aman!"
Dena menelan saliva takut.
*****
"anda melihat titik ini?"
__ADS_1
Sakimoto menatap layar sebesar 32 inch yang berada di hadapannya.
"apakah itu calon baby nya?" tanya Sakimoto dengan wajah yang tampak senang
"anda benar Tuan Sakimoto, dan titik ini ada 2, berarti akan ada anak kembar yang akan terlahir nanti..." angguk dokter tersenyum.
"kembar??" Sakimoto terperangah mendengarnya
"iya, Tuan Sakimoto...generasi ketiga akan terlahir kembar.."
Tuan Besar pasti bahagia mendengar ini !! batin Sakimoto.
Ya, Sakimoto lah dalang di balik menghilangnya Reina.
Dan tentu saja atas perintah Tuan Iwasaki senior yang saat ini masih dalam perjalanan pulang dari Amerika.
"apa kita sudah bisa tahu jenis kelaminnya?"
"kita harus menunggu sampai usia kehamilan memasuki minggu ke 16, Tuan...."
"terimakasih, Dokter..." angguk Sakimoto
"saya akan meresepkan vitamin,"
"baik, Dokter..."
"kalau begitu saya permisi, Tuan Sakimoto..."
"saya akan meminta pelayan mengantar anda.."
Dokter mengangguk dan meraih tas kerjanya, beranjak keluar dari ruangan.
Sakimoto menatap Reina yang masih tertidur karena pengaruh obat saat diculiknya tadi.
Sakimoto sengaja menambah dosis, supaya Reina bisa diperiksa keadaan kandungannya.
"terimakasih, Nyonya Muda..." senyum Sakimoto
******
__ADS_1