
Reina menemani Kenzo sarapan dengan tenang.
Sesekali ia mencuri pandang ke arah Kenzo yang tampan dengan kemeja hitam dan celana jeans.
2 kancing teratas dibukanya, memamerkan kulit putih bersihnya.
Rambut tebalnya tersisir rapi ke belakang, membuat Reina ingin membenamkan jari2nya disana, seperti tadi malam, saat mereka bercumbu.
"sudah puas menatapku?" tanya Kenzo dingin
Reina mencebikkan bibirnya, malu ketahuan mencuri pandang.
Reina hanya mengaduk2 makanan dipiring, menarik perhatian Kenzo, dan menatap tajam dengan mata birunya.
"habiskan sarapanmu!" titah Kenzo galak
"aku bosan sekali disini, " ucap Reina masih saja memainkan sendoknya.
Kenzo menaikkan sebelah alisnya.
"selamat pagi, Tuan Muda.."
Kenzo dan Reina mengalihkan pandang ke arah pintu masuk.
Seorang lelaki paruh baya, berjas rapi tampak berdiri disana.
Wajahnya yang masih tampan dan berwibawa itu memancarkan aura yang menakutkan.
"Satsuki?"
"saya datang ke sini untuk menjemput Tuan Muda,"
Kenzo menatap tangan kanan Ayahnya itu.
Satsuki adalah orang kepercayaan Ayahnya setelah Sakimoto.
Satsuki, pria paruh baya yang tak segan membunuh siapapun yang menghalanginya.
"aku akan pulang sendiri tanpa kau jemput Satsuki,"
"ini adalah perintah Tuan Besar, dan sudah kewajiban Anda untuk mematuhinya dengan atau tanpa saya menjemput anda,"
Reina menatap Kenzo dan pria itu berganti2.
"kau tak berubah Satsuki," ucap Kenzo menyeringai
"terimakasih atas pujiannya, Tuan Muda.."
Akira tergopoh2 masuk ke ruang makan dan berhenti mendadak saat melihat siapa yang berdiri disana.
"Tuan Satsuki," Akira menelan salivanya takut.
Sosok yang paling ditakuti setelah penguasa klan dalam jaringan mafia Iwasaki berdiri dihadapannya.
Pasti terjadi sesuatu yang sangat berbahaya jika Tuan Satsuki sampai datang sendiri.
"sudah lama tidak bertemu, Akira.."
Akira kembali menelan salivanya takut, dan bergegas membungkukkan badannya dengan hormat.
"senang bertemu dengan anda, Tuan Satsuki,"
sial, kenapa aku sampai kecolongan tidak tahu Tuan Satsuki bisa disini! batin Akira jengkel.
"kau menjaga Tuan Muda dengan baik, Akira..."
"itu sudah menjadi tugas dan kewajiban saya, Tuan.." ucap Akira masih saja membungkukkan badannya.
"dan sayangnya kini aku harus membawa Tuan Mudamu.."
Akira langsung menegakkan badannya.
"tapi Tuan,.."
Beberapa pria berjas menyerbu masuk.
__ADS_1
"mari Tuan Muda...saya tidak ingin bertindak kasar dengan.."
"tunggu! ada apa ini sebenarnya?" nyaring Reina yang sejak tadi bingung dengan yang terjadi dihadapannya.
Ditambah lagi dengan banyaknya pengawal2 yang asing menyerbu masuk.
Satsuki mengalihkan pandang ke arah Reina, yang sudah berdiri di samping Kenzo yang masih duduk.
Satsuki mengawasi Reina dengan tajam.
"hentikan memandang milikku, Satsuki!" desis Kenzo
"maafkan saya, Tuan Muda...sebaiknya anda segera mengikuti saya untuk pergi dari sini,"
Reina melihat Kenzo yang mulai beranjak dari kursinya.
"mau kemana?" tanya Reina meraih lengan Kenzo.
"tetaplah disini, Akira akan menjagamu.."
"aku tidak mau!" geleng Reina
Baru menikah beberapa hari dan kini Kenzo akan pergi meninggalkannya bersama pria kejam itu?
aku tak mau jadi janda muda! teriak Reina dalam hati.
"aku akan kembali," ucap Kenzo lembut
"aku ikut bersamamu!" paksa Reina
"percayalah padaku..."
Reina menatap Kenzo, dengan mata yang mulai berkabut oleh air matanya yang hampir menetes.
"kamu tidak boleh membawanya tanpa aku!"
Dengan berani Reina berdiri berhadapan dengan Satsuki.
"dia suamiku, dan aku harus ikut dengannya kemana pun ia pergi!"
"Ya Satsuki, aku sudah menikah!" seringai Kenzo semakin membuat pias Satsuki.
"tugas saya membawa anda kembali,tidak peduli status anda," kata Satsuki kembali ke wajah kejamnya.
"apa yang diinginkan Ayahku sampai harus menyuruhmu sendiri menjemputku Satsuki?"
"anda bisa bertanya pada Tuan Besar sendiri, Tuan Muda..saya tidak bisa lagi membuang waktu disini!"
Kenzo menatap Satsuki, yang meski bukan lawannya tetapi tetap berbahaya karena ada Reina disini.
"aku akan ikut dengannya, ikutlah bersama Akira untuk mengikutiku," bisik Kenzo ditelinga Reina.
"ta-tapi..."
Kenzo menggeleng pelan, menunduk untuk mencium Reina dengan lembut.
Sesuatu yang benar2 membuat Reina terkejut.
"Lekaslah Tuan Muda, waktu kita tidak banyak!"
Ya, cuma Satsuki yang berani memerintah!
Kenzo melepas ciumannya,
"aku mencintaimu,istriku...."
Reina membulatkan matanya, menatap Kenzo yang mulai berlalu dari hadapannya, mengikuti Satsuki keluar ruangan.
"kau tahu apa yang harus kau lakukan, Akira..."
Akira mengangguk hormat.
*****
"ini kesempatan kita untuk bisa kabur Rei!"
__ADS_1
Dena yang berada di kamar Reina, menjadi frustasi melihat kawannya itu malah mengepak beberapa barang penting ke dalam koper kecilnya.
"aku tidak bisa kabur dengan cara seperti ini.."
Reina mengacak rambutnya ikut frustasi.
"jangan katakan kau mulai memiliki perasaan padanya...?" selidik Dena
Reina menatap Dena dengan mata yang kembali berkabut oleh airmata.
"a-aku..."
"sial!!" teriak Dena melihat keadaan Reina yang terisak lirih, memberikan jawaban atas pertanyaannya tanpa kata.
"apa sudah selesai berkemasnya Nyonya? kita harus cepat karena pesawat sudah menunggu.."
Akira berdiri di ambang pintu.
Dena langsung membantu Reina menutup koper.
"ayo, aku tak bisa melihatmu terpuruk lagi karena mencinta!" kata Dena menarik tangan Reina keras.
"lepaskan tanganmu dari Nyonya Reina!" teriak Akira.
"minggir! bukankah katamu kita harus cepat??"
bentak Dena dengan napas memburu.
Akira sampai tersentak kaget dan buru2 menyingkir memberi jalan Dena yang terus saja menarik Reina yang masih terisak.
*****
Tokyo, Jepang
"Tuan Muda sudah berada dalam pesawat, Tuan.."
Sakimoto melapor pada Tuan Iwasaki yang masih duduk di kursi kebesarannya, menghadap ke langit yang begitu biru melalui dinding kaca ruang kerjanya yang berada di lantai teratas.
" sore hari Tuan Muda akan tiba," tambah Sakimoto.
Tuan Besarnya masih terdiam.
"dan Satsuki melaporkan jika Tuan Muda sudah menikahi gadis itu, Tuan.."
Barulah sang Tuan Besar memutar kursinya menghadap Sakimoto.
"apa?"
"mereka sudah menikah Tuan..."
Sakimoto sudah tidak kaget lagi melihat semua barang di meja hancur berantakan.
"akan kubunuh anak itu!" teriak Tuan Iwasaki
Jika Tuan Muda dibunuh, siapa yang akan mewarisi semua ini? tidak mungkin juga anak tirimu yang kebaratan itu! batin Sakimoto menghela napas berat.
"segera hubungi Ryujin,"
"untuk apa Tuan?"
"atur untuk makan malam, jangan lupa ingatkan Ryujin untuk mengajak anak perempuannya.."
"apa anda masih ingin melanjutkan perjodohan?"
"tentu saja! aku tidak mau memiliki keturunan dari orang tak sederajat!"
bukankah anak lelakimu benar2 mewarisi semua yang ada pada dirimu? batin Sakimoto lagi.
"aku tidak ingin anakku mengalami dosa2ku.."
Sakimoto menatap Tuan Besarnya itu.
Tuan Iwasaki terduduk, menatap figura berisi foto istrinya yang cantik, berambut pirang, bermata biru, mata yang sama dengan anak lelakinya.
"cukup aku yang merasakannya dulu..."
__ADS_1
******