
Reina menatap Kenzo yang juga tengah menatapnya.
Jantungnya berdegub kencang melihat Kenzo yang semakin dekat berjalan ke arahnya.
"selamat sore kakak ipar," sapa Edward ramah.
Reina tak lagi terpesona dengan senyum Edward yang menawan, karena ia masih fokus dengan pria dingin yang berada di sampingnya.
"dasar wanita liar!" umpat Kenzo melihat Reina yang berdiri dihadapannya memamerkan tubuh moleknya.
Bathrobe nya belum tertali sempurna, memperlihatkan tubuhnya dengan bikini 2pieces yang terbuka.
Kenzo langsung meraih tubuh Reina dan mengangkatnya.
"turunkan aku! dasar laki2 baj*ngan!" teriak Reina
Edward dan Dena terperangah melihatnya, diikuti helaan napas berat Akira.
"kita bertemu lagi Nona cantik, " ucap Edward sambil tersenyum ke arah Dena yang masih terperangah dengan tingkah laku Kenzo dan Reina.
Dena mengalihkan pandangnya dan menatap Edward yang tersenyum dengan tampannya, membuat pipi Dena terasa panas karena merona.
"se-senang bertemu denganmu, Tuan...."
"panggil saja Eddy.."
Dena mengetatkan bathrobe yang membungkus tubuhnya tak sempurna karena tadi terburu2 memakainya.
Apalagi pandangan mata biru Edward yang tampak menyiratkan sesuatu saat memandang lekuk tubuhnya.
"a-ku mau masuk ke dalam, permisi..."
Dena menghindar dengan setengah berlari kecil, masuk ke dalam mansion.
"gadis yang lucu..." gumam Edward geli.
*****
"turunkan aku!" teriak Reina begitu Kenzo menutup pintu kamar dengan kaki jenjangnya.
Kenzo menurunkan tubuh Reina dengan kasar di atas ranjang.
Bergegas Reina berdiri dan mengencangkan sabuk bathrobe nya.
"apa??" tanya Reina mengangkat dagunya saat menatap Kenzo yang berdiri menjulang dihadapannya.
Mata biru itu berkilat aneh saat menelusuri wajah Reina yang cantik, dengan rambutnya yang masih setengah basah, kulitnya semakin terlihat eksotis karena terpanggang matahari saat berjemur tadi.
Kaki Reina yang telanjang,membuat perbedaan tinggi badannya dengan Kenzo terlihat mencolok.
"begini sambutan pada suami yang lelah bekerja untukmu?" tanya Kenzo balik
"apa kamu pantas di sebut suami?" ketus Reina
"Oooh...aku lupa, kamu lebih pantas jadi simpananku..." balas Kenzo menyeringai
"apa..?" Reina membulatkan matanya
"tidak ada istri yang liar sepertimu.."
"apa??"
"apa kau juga lupa aku dijodohkan oleh Ayahku? mungkin sebentar lagi akan ada acara pertunangan, sebelum ke pernikahanku dengan..."
__ADS_1
Reina semakin membulatkan matanya, wajahnya merah karena marah.
"memang bakatmu menjadi simpanan...bukan is.."
PLAK !
Reina menampar keras pipi Kenzo, hingga pria dihadapannya itu berpaling.Pipinya memerah.
"sial!" umpat Kenzo langsung menubruk tubuh Reina, hingga mereka bergulingan di atas ranjang.
"lepaskan aku! dasar br*ngsek! baj*ngan! b*ngsat!"
Reina terus memberontak, mencakar,memukul apapun yang sanggup digapai tangannya.
Kenzo menindihnya, mencengkeram kedua tangannya disisi tubuhnya.
"dasar wanita liar!" geram Kenzo, menutup mulut Reina dengan ciumannya untuj menghentikan teriakan Reina yang terus mengumpat.
Reina mulai kelelahan memberontak dibawah kungkungan Kenzo, tubuhnya terasa lemas.
Kenzo pun mengubah gaya ciumannya menjadi lembut saat merasakan tubuh Reina mulai menerimanya.
"menyebalkan!" lirih Reina merasakan ciuman Kenzo yang menelusuri leher jenjangnya.
"wanita liar yang bau matahari..." gumam Kenzo menyesap leher Reina hingga meninggalkan bekas memerah.
Kenzo mengangkat wajahnya, menatap Reina dibawahnya.
Reina yang cantik, berbaring disana, dengan bathrobe yang tersibak, memamerkan tubuhnya yang berbalut bikini minim.
Dengan sekali sentak bikini itu pun terlepas, membuat mata biru Kenzo berkilat oleh hasrat.
Reina mencoba beringsut menjauh saat Kenzo berdiri untuk melepas pakaiannya sendiri.
Tubuh yang gagah dengan tato naga yang meliuk indah, naga hitam yang berkilat menakutkan.
Reina menelan saliva nya takut saat pandangannya turun melihat kelelakian Kenzo yang pasti akan membuatnya tak bisa berjalan besok pagi.
"aku tidak mau..." geleng Reina merangkak menuju ujung ranjang.
Kenzo naik menyusulnya, menggapai tubuhnya dengan cepat dan menindihnya.
"mana keberanianmu tadi?" ejek Kenzo menyeringai menatap mata Reina yang ketakutan.
Reina memekik saat Kenzo menyentak miliknya memasuki Reina tanpa kelembutan sama sekali.
"mana kekurangajaranmu saat memukulku tadi?" geram Kenzo di lekuk leher Reina saat mendorong miliknya, hingga tenggelam sepenuhnya di tubuh Reina.
"tunjukkan padaku, wanita liar!" desis Kenzo menekan kuat tubuhnya hingga Reina memekik.
Kenzo menatap Reina yang mulai memberontak merasakan sakit karena hunjamannya yang kasar.
Pemandangan yang indah saat tubuh Reina menegang ketakutan, bukit kembarnya bergerak berirama dengan hunjamannya, bibirnya terus memohon untuk menghentikannya, tapi tidak dengan tubuhnya yang mulai berkhianat, menikmati apa yang dilakukan Kenzo padanya.
Kenzo mencengkeram salah satu bukit Reina, saat merasakan tubuhnya ingin meledak karena kenikmatan.
"berhenti....kamu menyakitiku!" pekik Reina merasakan Kenzo yang mulai hilang kendali.
Dia gila! jerit Reina dalam hati, mencoba mencakar punggung Kenzo dan menggigit dadanya yang telanjang dan lembab oleh peluh.
Bukannya berhenti tapi malah semakin menjadi, karena Kenzo menarik tubuh Reina dan membaliknya, kembali menyatukan tubuh Reina dari belakang, membuatnya semakin leluasa menikmati percintaan mereka yang panas dan liar.
Kenzo mencengkeram erat pinggul Reina, dan menyentak dalam2 miliknya, menuju pelepasannya, menyemburkan benih2nya dalam rahim Reina yang hangat.
__ADS_1
*****
Ada 3 orang yang duduk tenang di meja makan yang sudah penuh hidangan untuk santap malam.
Akira, Edward dan Dena, duduk dalam diam.Ketiga orang yang sibuk dengan dunia alam pikir mereka masing2.
"apakah perlu saya memanggil Tuan Kenzo untuk makan malam, Tuan Akira?" kata Fuji mendekat ke arah Akira yang sibuk dengan tab nya.
"coba saja jika ingin dimakamkan besok," sahut Akira tak melepas pandangnya dari tab
Raut wajah Fuji langsung berubah pucat, dengan lemah ia langsung mundur ke belakang Akira.
Edward tertawa kecil melihatnya, sementara Dena tak kalah pucatnya dengan Fuji.
"kita makan duluan saja, biar makan malam kakakku diantar ke kamar..." putus Edward
"anda benar Tuan Edward, kita bisa kelaparan menunggu Tuan Kenzo dan Nyonya.." angguk Akira sambil meletakkan tab nya ke atas meja.
"panggilkan Willy supaya kita bisa makan malam bersama...." titah Edward pada Fuji yang langsung bergegas keluar ruang makan.
Tak berapa lama, Willy sudah memasuki ruang makan mengekor dibelakang Fuji.
"duduklah Will, kita makan malam bersama...."
Willy hanya mengangguk dan duduk di samping Akira, berhadapan dengan Edward yang berdampingan dengan Dena.
"silahkan, Nona cantik..." sila Edward sopan
"panggil saja aku Dena.." kata Dena tersenyum
"baiklah, Dena..silahkan nikmati makan malamnya,"
Dena mengangguk, beberapa pelayan langsung maju untuk mengambilkan makanan ke piring masing2.
Dena sampai terheran2 karena dilayani layaknya putri raja.
Seberapa berkuasa mereka ini, batin Dena sambil melihat ke sekeliling.
Akira si asisten datar tampak makan malam dengan tenang, menaikkan sebelah alisnya ketika bertemu pandang dengan Dena yang langsung menunduk, memandang piringnya.
"apa aku boleh bertanya sesuatu?" tanya Edward sambil menyesap air putih dalam gelasnya.
"silahkan..." angguk Dena
"apakah kamu sudah mengenal lama kakak ipar?"
"ya lumayan lama..." jawab Dena
"dimana kalian berkenalan?"
"sejak kami bekerja di hotel yang kini dimiliki oleh kakakmu itu..." terang Dena membuat Akira menatap tajam ke arahnya.
"kalian tampak dekat..."
"iya...kami sudah seperti saudara.."
Makan malam berlangsung dengan ringan karena Edward yang tampak cocok bercengkerama dengan Dena.
PRANG!
"apa itu?" Dena terlonjak kaget mendengar sesuatu
"jangan dihiraukan..." geleng Edward tersenyum kecut karena menyadari perang dunia ketiga di dalam kamar kakaknya.
__ADS_1
******