
Kenzo dan Kanami menoleh bersamaan ke arah pintu masuk, dimana Edward berdiri di sana, dengan Reina berada di balik punggungnya.
"selamat siang, Edward.." sapa Kanami beranjak dari sofa dan mendekati Edward.
Dan langkahnya terhenti saat melihat Reina yang berdiri dibelakang Edward.
"kamu bersama seseorang?" tanya Kanami, mengawasi Reina dari atas ke bawah.
siapa dia? batin Kanami penasaran, memperhatikan Reina yang berdiri cantik.
Dilihat dari penampilannya yang mahal, pasti bukan wanita sembarangan, apa dia kekasih Edward? batin Kanami semakin penasaran.
"ya.." angguk Edward mempersilahkan Reina untuk berdiri di sampingnya.
Kenzo mengawasi Reina tajam, membuat Reina menelan saliva takut.Dia sudah terlalu hapal dengan pandangan Kenzo yang seperti ingin menelannya bulat2.
"aku Kanami,.." salam Kanami ramah, mengulurkan tangannya.
Reina menatap tangan Kanami yang halus berhias cincin berlian di jari manisnya, sebelum menatap Edward untuk meminta persetujuan membalas salam Kanami.
"aku Reina, senang berkenalan denganmu.." sambut Reina tersenyum saat melihat Edward mengangguk.
"apa kamu teman Edward?" tanya Kanami
"a-aku..."
"ya, dia temanku," jawab Edward
"Ooh...kalian tampak serasi, aku pikir kamu kekasih Edward..." senyum Kanami
Reina tersenyum kecut, apalagi melihat Kenzo yang tampak dingin menatapnya.
"apa kalian, sudah makan siang? aku membawa banyak makan siang, jika kalian ingin bergabung.."
"kami sudah makan siang tadi, tidak biasanya kamu kemari..."
Kanami tertawa pelan.
"aku ingin belajar jadi istri yang baik?" senyum Kanami
"apa?" begitu saja pertanyaan lolos dari bibir Reina, membuat Kanami langsung menatap Reina.
"iya...aku dan kakak Edward akan bertunangan tak lama lagi dan menikah.."
Reina membulatkan matanya.
"apa?" Reina menatap ke arah Kenzo
Kanami tersenyum melihat wajah Reina yang tampak terkejut.
jangan2 dia...batin Kanami takut melihat Kenzo yang sedang bertatapan dengan Reina.
"Ooh...suatu kabar gembira..." kata Edward mengurai suasana yang mendadak menjadi dingin.
Kanami tertawa kecil,
"ada perlu apa kemari?" tanya Kenzo dingin
Edward dan Reina sama2 menoleh ke arah Kenzo yang berdiri dari duduknya sambil mengancingkan jasnya.
"aku.."
"tidak ada kak, nanti saja saat kita dirumah," geleng Edward memutus kata2 Reina yang terbata.
"baiklah, aku pamit dulu kak.. "
Edward langsung mengajak Reina berpamitan.
"senang bertemu denganmu, Kanami.."
"aku juga, Reina..."
"selamat siang," pamit Reina tersenyum
Diliriknya Kenzo yang berdiri bersandar di meja kerjanya sambil bersedekap.
Akira hanya diam, mengawasi Kenzo yang masih menatap pintu yang sudah ditutup oleh Edward.
"pergilah," kata Kenzo kembali menuju kursi kerjanya
__ADS_1
"apa?"
"aku tidak mengulang 2x," ucap Kenzo dingin sambil membalikkan kursinya menghadap jendela besar, membelakangi Kanami
"silahkan, Nona Kanami, saya akan mengantar anda keluar..." ucap Akira tak kalah dinginnya.
Kanami menatap Akira tak percaya dirinya di usir untuk keluar.
Kanami menggigit bibirnya menahan tangis, tak pernah sekalipun ia diperlakukan seperti ini.
Kanami berjalan ke arah sofa dan menyambar tas nya, sambil menghentakkan kaki ia pun keluar ruangan.
"ini yang terakhir kali wanita itu masuk ke sini, Akira.."
"maaf, Tuan....saya pastikan hal ini tidak akan terulang lagi..." Akira membungkuk hormat.
*****
"kenapa dia?" tanya Dena bingung melihat Reina yang berlari menaiki tangga menuju ke kamar.
"dia pasti sedang sedih karena kejadian tadi.."
"kejadian apa?" tuntut Dena
Di tariknya Edward menuju ruang tengah dan duduk bersama di sofa.
Dena penasaran sekali, karena sejak keluar dari ruangan Kenzo, Reina tampak terdiam selama perjalanan.
"Kanami sedang berada di ruangan kakakku saat kami tiba disana.."
"siapa Kanami??"
"gadis yang akan dijodohkan dengan Kak Kenzo oleh Ayahku.."
"apa??" Dena membola terkejut
"kakak ipar pasti sedih..." lirih Edward
"ini gila!" pekik Dena memegangi kepalanya.
"aku menyembunyikan identitas kakak ipar, aku tidak ingin dia menjadi incaran musuh,"
Edward terdiam menyadari kesalahannya.
"Tuan, saatnya kita kembali ke perusahaan.."
Dan Willy pun menyelamatkan Edward sebelum semuanya terbongkar oleh Dena.
" aku harus pergi!" Edward terbangun dari duduknya
"jelaskan padaku!" tuntut Dena menarik lengan Edward.
"aku sudah terlambat," geleng Edward berjalan meninggalkan Dena sendiri.
"sial!" umpat Dena menendang sofa di sampingnya.
*****
Kenzo tiba di mansion saat jarum jam menunjuk angka 10.
Akira membukakan pintu mobil untuknya, yang langsung bergegas keluar.
Kenzo menghentikan langkahnya saat mendengar suara dari arah kolam renang.
"masuklah ke dalam, aku akan melihat siapa yang berani berenang di kolamku malam ini.."
Akira hanya mengangguk.
Kenzo pun memutar langkah melalui jalan setapak di samping mansion yang langsung menuju kolam renang.
Kenzo berdiri dengan angkuhnya di sisi kolam renang, menatap gerakan halus air yang bergerak oleh seseorang.
Kenzo menahan napas melihat siapa yang berenang.
"shiitt! dasar wanita penggoda!" umpatnya tercekat, melihat Reina yang berenang tanpa busana.
Reina berhenti di ujung kolam, menarik napas dalam2 sambil duduk di tangga terbawah kolam, sehingga tubuh polosnya masih berada di dalam air.
"memang, bakatmu menjadi penggoda!"
__ADS_1
Reina tak bergeming mendengar makian Kenzo yang berdiri dibelakangnya.
"siapa yang mengijinkanmu berenang dikolamku?!"
Kenzo mulai emosi karena Reina tak memperdulikannya, malah sibuk menyisir rambutnya yang basah dengan jari2 tangannya.
Tak peduli pakaiannya menjadi basah, Kenzo pun menceburkan diri ke kolam.
Kini mereka berdiri berhadap2an.Reina membuang pandang, yang semakin menyulut amarah Kenzo.
Di palingkannya wajah Reina dengan kasar supaya menatapnya.
Mata biru itu berkilat marah dan bergairah menatap Reina, tubuh polosnya melekat erat ditubuh Kenzo yang masih berpakaian lengkap.
"untuk apa kesini?" tanya Reina dingin
"apa?"
"pulang saja ke rumah tunanganmu," kata Reina dingin
"ini rumahku!" desis Kenzo
"kalau begitu biarkan aku pergi dari sini!" Reina mengangkat dagunya menantang
"apa?"
"aku tidak mau mengganggu pernikahanmu, pulangkan aku ke negaraku!" bentak Reina
Kenzo menatap Reina , wanita ini !
Kenzo memegangi wajah Reina dan menunduk untuk menciumnya dengan buas.
"selamanya kamu milikku! kamu tidak akan pernah kulepaskan! tidak ada yang memilikimu selain aku!"
"lepaskan!" teriak Reina meronta saat ciuman Kenzo beralih ke lehernya.
"cuma kamu istriku!" desis Kenzo
"aku cuma simpananmu!" bentak Reina
Kenzo menyeringai.
"apa kamu cemburu dengannya?"
"dasar baj*ngan!"
Reina memberontak dan melepaskan dekapan Kenzo.
Tak peduli dengan tubuh polosnya, Reina keluar dari kolam dan meraih bathrobe yang tadi dibawanya.
Kenzo yang masih berada dikolam, mengawasi semua gerak gerik Reina, hingga istrinya itu berjalan kembali memasuki mansion yang tampak temaram.
"Tuan..." Akira berjalan mendekat sambil membawa handuk
"istriku cemburu, Akira..."
Akira menatap Tuannya yang tampak tersenyum, entah kenapa terlihat bahagia.
Kenzo beranjak keluar dari kolam, meraih handuk yang diberikan oleh Akira.
"siapkan untuk upacaranya Akira,"
"upacara apa Tuan?"
"upacara sumpah untuk istriku yang liar itu.."
Akira menatap Tuannya ragu.
"apakah anda sudah yakin Tuan?"
Kenzo tak menjawab, hanya melirik Akira tajam.
"apa kau meragukan keputusanku,Akira?"
Akira menelan saliva takut.
"saya akan segera mempersiapkannya,Tuan.."
*****
__ADS_1