Deviasi

Deviasi
#part 29


__ADS_3

Tubuh Reina ambruk di atas pangkuan Kenzo yang terduduk di sofa dalam kamar mereka.


Nafas keduanya masih menderu karena pelepasan mereka entah yang kesekian kalinya.


"wanita liar," gumam Kenzo menyeringai melihat kamar yang sudah seperti kapal pecah karena bercinta dengan berpindah2 tempat.


"jahat!" lirih Reina memukul dada bidang Kenzo.


Tubuhnya seperti lumer tak bertenaga.


Kenzo terbangun, dengan menggendong Reina seperti baby koala.


"tidurlah, aku akan ke ruang kerja sebentar.."


Kenzo membaringkan Reina di ranjang dan menyelimutinya, dikecupnya dahi Reina sebelum beranjak ke bathroom untuk membersihkan diri.


*****


Reina terjaga saat merasakan silau matahari menembus tirai jendela yang tak tertutup rapat.


"badanku lemas sekali...." gumam Reina sambil mengerjap2kan matanya.


Suasana tampak sepi, Kenzo pun tak ada di sampingnya.


"kemana dia? jangan2 dia pergi lagi..." ucap Reina terbangun dan terduduk di atas ranjangnya yang berantakan.


Reina pun beringsut turun dari ranjang sambil meringis menahan nyeri di pusat tubuhnya.


Reina memenuhi bath up dengan air hangat.


"rasanya aku memang istri simpanan..setelah puas, ditinggalkan..." batin Reina sedih.


Reina berendam dalam air hangat yang sudah dibubuhinya dengan aromatherapy yang menenangkan.


"ayah...ibu...dimana kalian..Reina kangen.." isak Reina.


Hampir 1 jam Reina berendam, puas menangis, Reina pun beringsut untuk membilas tubuhnya dibawah shower dan bergegas untuk menuntaskan acara mandinya.


Reina berselubung handuk, dan mendapati kamarnya sudah bersih, rapi dan wangi begitu keluar dari bathroom.


Sebuah gaun berwarna biru gelap, sepatu heels berwarna hitam, serasi dengan tas jinjing yang bermerk mahal sudah siap di atas ranjangnya.


Tak lupa sebuah kotak beludru yang sudah ditebak pasti perhiasan di dalamnya.


"ternyata begini rasanya istri simpanan orang kaya.." batin Reina sedih kembali menatap semua barang2 mahal di atas ranjangnya.


Dengan cepat Reina memakai semua barang2 itu dan menatap dirinya di cermin.


Cantik, seperti wanita berkelas dengan berlian yang berkelip mahal melingkari lehernya.


Reina menoleh ke arah pintu kamarnya saat diketuk.


"ya..." sahut Reina sambil meraih botol parfumnya


"selamat pagi, Nyonya.. sarapan sudah siap.."


"terimakasih...aku akan segera turun.." angguk Reina tersenyum.


Fuji tersenyum, lalu menundukkan kepalanya hormat dan mengundurkan diri.


"apa aku akan diajak keluar dari sini?" tanya Reina sendiri, melihat tas jinjingnya sudah terisi pouch berisi make up dan juga dompet yang membuat Reina terperangah saat membukanya.


Ada beberapa kartu tanpa limit, lembaran2 uang dollar dan ¥en.


Reina pun beranjak turun sambil menjinjing tasnya.


Di ruang makan sudah menunggu Edward dan Dena, yang cantik dengan setelan blazer dan celana panjang, berwarna hitam.


"selamat pagi kakak ipar..." sambut Edward


Seperti biasa, tersenyum dengan menawan, membuat Reina lagi2 terpesona, sama halnya dengan Edward yang memandang Reina yang tampak begitu cantik dengan gaunnya yang diatas lutut.


"lap dulu air liurmu!" Dena menepuk lengan Edward gemas.


Edward tersenyum malu saat ketahuan Dena karena memandang takjub kakak iparnya itu.


"pagi Eddy.." senyum Reina berjalan ke arah meja makan.


Fuji langsung sigap menarik kursi untuk Reina duduki.


"apa aku akan diajak pergi hari ini?" tanya Reina


"kakak memintaku untuk mengajakmu berkeliling kota sebentar,"


" benarkah??" seru Reina begitu girang.

__ADS_1


Edward mengangguk.


"duduklah Willy, kita sarapan bersama..." titah Reina


Willy yang berdiri tak jauh, menatap Edward, dan mengangguk patuh saat melihat Edward yang mengangkat tangannya mempersilahkan duduk.


Mereka sarapan dengan diselingi obrolan ringan, dan menyelesaikannya dengan suasana yang akrab.


Reina tampak bahagia begitu melangkah keluar dan mendapati 3 mobil berbaris rapi.


Willy membukakan pintu penumpang untuk Edward dan Reina, sementara ia duduk di belakang kemudi dengan Dena yang berada di sampingnya.


"dimana si asisten datar ?" tanya Reina pada Dena yang dijawab dengan kedikan bahunya.


"asisten datar?" tanya Edward menatap Reina bingung


"maksudku, Akira..ya Akira...apa kamu melihatnya?" tanya Reina gugup


"dia sudah ikut Tuannya..." jawab Edward geli


"kemana?"


"tentu saja bekerja, kakak ipar..." kekeh Edward


"Oohh..."


Reina duduk bersandar dan melihat keluar jendela mobil.


*****


"maaf Tuan,.. ada seseorang yang ingin bertemu.."


Rumi, sekertaris Kenzo melapor dengan takut2, apalagi mendapat tatapan tajam dari Akira.


"siapa?" tanya Akira dingin.


"putri Tuan Ryujin, Tuan Akira...Nona Kanami.."


Akira mengangkat alisnya terkejut, dan menoleh ke arah Kenzo yang duduk bersandar sambil bersedekap.


"untuk apa dia kesini?" tanya Kenzo


"mungkin ingin mengantar makan siang, karena saya melihat Nona Kanami membawa kotak makanan..." jelas Rumi


Akira dan Kenzo saling menatap.


"baik, Tuan.." Rumi mengundurkan diri


Tak lama, seorang gadis dengan tubuh ramping memasuki ruangan.


Tubuhnya yang ramping terbalut gaun terusan berwarna putih, sewarna dengan sepatunya.


Wajahnya cantik dengan riasan make up tipis, rambutnya sengaja digerai.


"apa aku mengganggu?" katanya lembut.


Kenzo hanya menatap dingin ke arahnya.


"maaf Nona, sebaiknya anda membuat janji dulu sebelum anda ke sini..." terang Akira


"janji? apa aku harus membuat janji dengan calon suamiku sendiri?"


"maaf Nona?" Akira terkejut mendengarnya.


"aku dan Kenzo sudah diputuskan untuk bertunangan bulan depan.."


Akira langsung menatap Kenzo yang masih terdiam duduk di kursi kebesarannya.


"aku membawa makan siang untukmu.."


Tanpa dipersilahkan, Kanami beranjak menuju sofa dan meletakkan kotak2 makanan di atas meja.


"Tuan...." Akira terdiam melihat gelengan kepala Kenzo.


"apa kita bisa makan siang bersama?"


******


"Eddy..."


"ya?"


"apa aku boleh tahu dimana tempat kerja kakakmu?"


Edward menatap Reina yang juga tengah menatapnya dengan penuh perhatian.

__ADS_1


"kau akan mengundang tanya banyak orang di sana, Rei..." keluh Dena


"mereka kan tidak mengenalku?"


"justru tidak mengenalmu itu, mereka jadi penasaran!" dumal Dena


"apa benar begitu?" Reina menatap Edward lagi


"benar kata Nona Dena, kakak ipar...apalagi kakakku sangat banyak pengagum di sana..."


"aiishshhh..kalian ini sama, menyebalkan!"


Edward tertawa melihat Reina yang mencebikkan bibirnya.


"baiklah...aku akan mengajakmu ke perusahaan.."


"benarkah??" Reina memekik senang


"tapi dengan 1 syarat.."


"apa itu??"


"tetaplah di sampingku, dan jangan bicara apapun kepada siapapun di sana.." jelas Edward


"itu hal yang mudah Eddy! aku pikir apa!"


Reina tertawa senang sambil menepuk2 pundak Edward.


Edward pun memerintahkan Willy untuk melajukan mobil menuju perusahaan.


Tak sampai 1 jam, mobil yang ditumpangi Reina memasuki lobi sebuah gedung bertingkat.


Reina dan Dena mendesah kagum, melihat gedung perkantoran yang tampak elit itu.


Security yang berjaga di depan pintu utama langsung berlari menyambut.


Edward lebih dulu turun begitu Willy membukakan pintu mobil, disusul Reina yang menyambut uluran tangan Edward untuk turun.


Beberapa pasang mata langsung menyapa mereka dengan penuh tanda tanya.


"siapa yang bersama Tuan Muda kedua?"


"cantik sekali wanita itu,..."


"sepertinya dia bukan orang Jepang, lihat kulitnya yang eksotis itu!"


Semua orang memandang takjub ke arah Reina yang berjalan bersisian dengan Edward, diikuti Dena dan Willy.


Para pengawal sigap menjaga mereka di depan dan belakang.


"ayo.." ajak Edward begitu pintu lift khusus petinggi perusahaan membuka yang akan membawa mereka ke lantai teratas dimana ruangan Kenzo berada.


"kita sudah sampai, kakak ipar.." kata Edward berdiri di depan pintu berpelitur mewah.


Reina menatapnya dengan kagum, jika pintunya saja seindah ini, bagaimana dalam ruangannya? batin Reina.


"aku akan menunggumu disini bersama Willy.." kata Dena berjalan ke arah sofa yang tersedia di sudut ruangan dekat dengan jendela gedung yang besar.


"Tuan Edward?" sapa Rumi saat berjalan mendekat sambil membawa baki berisi minuman.


"apa kakakku ada?" tanya Edward ramah


"beliau ada di dalam, sedang menerima tamu.."


Reina membalas tatapan Rumi, gadis berperawakan kecil dan berwajah cantik khas wanita Jepang.


Gadis itu tampak bertanya dengan tatapan matanya yang sipit.


"tamu?" tanya Edward lagi


Rumi mengangguk,


"saya akan menelpon Tuan Akira untuk memberitahu kedatangan Anda, Tuan.."


Edward mengangguk setuju, yang langsung disambut Rumi dengan meraih telepon di atas meja tak jauh dari pintu masuk.


Tak lama pintu pun terbuka, Edward langsung mengajak Reina masuk ke dalam.


"selamat siang, Tuan Edward..." sapa Akira menunduk hormat


"maaf aku mengganggu ka.."


Edward menghentikan bicaranya saat melihat siapa yang menjadi tamu Kenzo.


"kamu..."

__ADS_1


*****


__ADS_2