Deviasi

Deviasi
#part 27


__ADS_3

Reina merasa bingung karena selalu saja setiap bangun tidur merasa tubuhnya letih luar biasa, dan lagi2 ia terbangun dalam keadaan polos karena semua baju yang dikenakannya kembali teronggok berserakan di lantai, bersama bantal2.


Ranjang pun tampak berantakan seperti sesudah melewati pergulatan yang panas.


Reina selalu bermimpi yang sama setiap malam, memadu kasih dengan Kenzo.


Bergegas Reina membersihkan diri, dan menuju ke bawah.


Tampak Akira disana, sedang duduk di ruang tengah bersama Dena yang sibuk membolak balik halaman surat kabar.


"selamat pagi, Nyonya Muda.." sapa Akira langsung berdiri dari duduknya dan membungkukkan badan dengan hormat.


"dimana Tuanmu?" tanya Reina tak menghiraukan sapaan Akira.


"Tuan Muda tidak ada disini, Nyonya.."


"jangan membohongiku, Akira!" bentak Reina


"Tuan Muda berada di mansion Tuan Besar selama ini..." jelas Akira dengan wajah datarnya


"kamu kenapa Rei?" tanya Dena bingung


"aku yakin pasti Kenzo pulang kesini semalam...."


Reina masih berdiri di tangga, mengacak rambutnya gemas.


"mungkin kamu sedang bermimpi.."


"tidak Dena, aku yakin pasti Kenzo pulang setiap malam!" pekik Reina


Akira menghela napas, begitu juga Dena.


"ayo kita sarapan dulu..." ajak Dena mendekati Reina dan mengajaknya turun menuju ruang makan.


"sampai kapan aku dikurung disini Akira?"


"sampai Tuan menyelesaikan urusannya,Nyonya..."


"urusan apa?" selidik Reina


"saya kurang tahu, Nyonya...Tuan tidak mengatakan apapun.."


"apa kamu bisa menghubungi Tuanmu untukku?"


Akira menatap sejenak, kemudian mengangguk.


"tapi saya tidak berjanji Tuan Muda menjawab panggilannya..."


"aku tak peduli, cepat hubungi dia," titah Reina.


Tidak ada jawaban dari Kenzo setelah beberapa kali menghubungi.


"mungkin Tuan Muda sedang sibuk, Nyonya..."


"issshhh menyebalkan!" gerutu Reina


Dena senyum2 memandang Reina yang tampak cemberut.


"sudahlah....habiskan sarapanmu..." kata Dena menahan tawanya.


Reina mencebikkan bibirnya,


awas saja jika bertemu, aku akan menghajarmu! batin Reina bersungut marah.


******


"ternyata kakak ipar anda berada di negara ini, Tuan.." lapor Willy begitu sampai kembali ke ruangan Edward.


"benarkah?" Edward menaikkan kedua alisnya kaget


"benar Tuan, kakak ipar anda datang bersama temannya dan Akira dengan pesawat pribadi Tuan Kenzo.."

__ADS_1


"apa Ayah tahu?"


"sepertinya tidak, karena Akira langsung membawa ke mansion Tuan Kenzo, yang sekarang dijaga ketat oleh para pengawal, bahkan Tuan Kenzo memerintahkan pengawal terlatihnya dari markas bawah..." jelas Willy


"apa rencana kakakku..." gumam Edward


"Tuan Besar hendak menjodohkan Tuan Kenzo dengan putri mantan perdana menteri..."


"apakah ayahku tahu status kakakku?"


"sepertinya sudah tahu,Tuan...karena Tuan Besar menyuruh Tuan Satsuki untuk menjemputnya langsung..."


"Satsuki??" Edward langsung membulatkan matanya tak percaya.


Edward tahu siapa Satsuki di klannya.Pria paruh baya kepercayaan Ayahnya untuk menghabisi semua musuhnya dengan kejam.


"sebenarnya ada apa ini..."


"mungkin hanya dugaan saya saja,Tuan...jika Tuan Besar tidak merestui pernikahan kakak anda..."


"apa??"


"maafkan kelancangan saya,Tuan..."


Edward memijit pelipisnya.


"mungkin kamu benar Edward...karena aku sangat mengenal Ayahku..." ucap Edward


"mungkin Tuan Besar hanya ingin yang terbaik untuk anak2nya..."


"ya...tapi dengan cara yang salah..."


Willy terdiam melihat Tuan Mudanya sibuk memijit pelipisnya sambil memejamkan mata.


"aku merasa kasihan dengan kakak ipar...apa dia bisa kuat..."


"kakak ipar anda wanita yang kuat, Tuan.." senyum Willy


"bagaimana kau tahu?"


Edward menghentikan kesibukannya memijit dan menatap Willy.


"ya...aku pun tak menyangka ada wanita yang bisa berada disisinya..." senyum Edward


Semua pria pasti akan memperebutkan wanita seperti kakak ipar, bahkan jika saja kakakku belum menikahinya, aku berpikir untuk merebutnya, batin Edward.


Pintu ruangan diketuk dan Willy pun berjalan ke arah pintu untuk membukanya.


"maafkan saya mengganggu, Tuan Willy.."


"ada apa?" tanya Willy dingin pada Sofia, sekertaris Edward


"Tuan Muda Kenzo ingin bertemu dengan Tuan Edward.." lapor Sofia


"apa aku mengganggu?"


Edward langsung berdiri dari kursinya melihat Kenzo yang muncul di pintu.


"selamat siang, Tuan Kenzo.." sapa Willy membungkuk hormat.


"siang, Will...apa kau bisa meninggalkan kami?"


"tentu, Tuan...permisi..." angguk Willy berjalan keluar ruangan dan menutup pintunya.


"ada apa kak?" tanya Edward terheran karena kakaknya tak pernah sekali pun memasuki ruang kantornya, meskipun ruangan mereka berada di lantai yang sama.


Kenzo berjalan menuju ke arah sofa dan duduk di sana, menyilangkan kedua kaki jenjangnya yang terbalut celana kain berwarna hitam.


"apa kamu bisa membantuku?"


"membantu?" kernyit Edward bingung

__ADS_1


"kau pasti tahu maksudku..."


Edward menatap mata biru kakaknya, mata yang sama dengan miliknya.


"kau pasti sudah tahu, istriku berada di negara ini.."


aahh sial! jangan2 Willy ketahuan saat mencari info, batin Edward menelan saliva takut.


"yaa...aku, sudah tahu..."


"dan kau pasti sudah tahu, betapa tak amannya dia jika bersamaku..."


Lagi2 Edward menelan salivanya kasar, dia tahu benar betapa banyak musuh yang mengincar kehancuran klannya.


"aku tak bisa menjaganya sendiri selama Ayah terus memaksa perjodohan sialan ini!" umpat Kenzo


"lalu apa yang bisa aku bantu kak...?"


"apa kau bisa membantu Akira memperketat mansionku?" Kenzo menatap tajam adiknya itu.


"bukankah pengawal pilihanmu sudah sangat terlatih bahkan untuk berperang sekalipun?"


"ya...dan aku ingin memperkuatnya lagi dengan semua pengawal2mu.."


Kenzo menatap adiknya itu, ada sorot yang begitu khawatir disana, bukan hanya musuh, tapi juga dari pihak Ayahnya sendiri yang bisa saja menyerangnya.


Apalagi ada Satsuki yang tak mengenal siapapun untuk dibunuh jika itu adalah perintah langsung dari Ayahnya.


"apa karena ada Satsuki?" tebak Edward


"itu salahsatunya.." angguk Kenzo


"baiklah...aku akan membantumu kak..."


Edward mengangguk dan tersenyum.


"terimakasih Eddy...kamu memang dapat kuandalkan..." kata Kenzo sambil berdiri dari duduknya.


"senang bisa membantumu.." angguk Edward.


"apa kau punya acara sore ini?"


"aku rasa tidak ada, kenapa?"


"aku akan mengajakmu ke mansionku..."


apa aku tak salah dengar? aku akan diajak ke mansionnya? tempat yang selama ini tidak bisa dijamah siapapun? batin Edward.


"aku akan menunggumu usai jam kantor, "


Edward tak mampu berkata2, hanya mengawasi punggung kakaknya itu berjalan ke arah pintu dan keluar ruangan.


"apa aku sedang mimpi?" gumam Edward menepuk pipinya sendiri.


*****


Reina dan Dena sedang bersantai dikursi malas yang berada di tepi kolam renang.


Mereka berenang untuk menghilangkan kebosanan karena selangkah pun tak bisa menginjakkan kaki keluar dari istana milik Kenzo ini.


"kau dengar sesuatu?" Dena terbangun dari posisi duduknya yang bersandar malas


"apa?" tanya Reina yang merasa mengantuk karena lelah berenang.


"ada suara mobil berhenti," kata Dena meraih bathrobe untuk menutupi tubuh yang hanya memakai bikini seksi seperti Reina.


Reina pun langsung menyambar bathrobe miliknya, dan memakainya asal saat melihat beberapa pengawal memasuki area kolam renang.


Matanya membulat sempurna, melihat dua orang pria yang berjalan ke arahnya.


Dua pria gagah dan tampan, dengan postur tubuh yang sama tinggi, bermata biru hanya warna rambut yang membedakan mereka.

__ADS_1


"kamu??"


******


__ADS_2