
Akira bergegas keluar saat mendengar keributan.
"ck! sial!" umpatnya begitu membuka pintu dan melihat Tuan Mudanya berjalan menjauh sambil memanggul istrinya yang terus meronta dan berteriak.
"sepertinya Nona Muda sudah tahu kita ..."
"diam!" bentak Akira marah membanting pintu.
Baru kali ini ia gagal melaksanakan tugas dari Tuan Mudanya.
Ya, Akira diberi tugas untuk menyekap teman Reina, yang suatu saat digunakan sebagai senjata untuk mengurung Nona Mudanya itu jika sudah tidak bisa dikendalikan lagi sifat liarnya.
Baru kali ini, seorang Kenzo tidak bisa mengatasi seseorang tanpa ancaman.
Seorang Reina sudah membuat Kenzo kuwalahan.
Akira berjalan ke arah Dena yang terduduk di sofa, senyum mencemooh terbit dibibirnya.
"akhirnya....Reina tahu aku disini..." kata Dena, membuat Akira semakin naik pitam.
"lihat saja besok, aku pastikan kamu akan dihukum!" desis Dena beranjak pergi meninggalkan Akira yang bersungut marah.
*****
"hentikan!!" teriak Reina marah
Kenzo menyentak dirinya dalam2 ditubuh Reina, menyemburkan benih bibit premium miliknya.
Kenzo pun tumbang di atas tubuh Reina, peluh membasahi tubuh polos mereka.
Reina memberontak, masih dengan napas tersengalnya.
"lepaskan aku ! dasar baj*ngan! sialan!" maki Reina
Tubuhnya terasa sakit, hatinya pun lebih sakit.
Inti tubuhnya terasa nyeri tak terperi, semalaman hingga fajar menyingsing Kenzo terus menghunjamnya tanpa ampun.
Kenzo mengangkat tubuhnya, menatap wanita dibawah kungkungannya.
Kenzo senang Reina yang kesakitan, senang menatap mata bening yang bersorot marah itu.
Reina bersiap mencakar wajah Kenzo tapi dengan cepat dicekalnya tangan Reina.
Kenzo menunduk, mencium kasar wanitanya, menggigit bibirnya sebelum melepasnya dan beranjak bangun dari ranjang yang berantakan.
Kenzo menyeringai melihat kamar yang seperti kapal pecah karena ulahnya menghukum Reina, mengajaknya bercinta dengan berpindah tempat.
Di sofa, di atas meja rias dan semua sudut ruangan yang bisa digunakannya untuk memiliki wanita liarnya itu.
Kenzo memakai piyama hitamnya, tatapannya tak beralih dari Reina yang terbaring kusut di ranjang.
Rambutnya berantakan, bibirnya merah dan bengkak, sekujur tubuhnya penuh dengan bekas merah kepemilikan Kenzo.
"mandilah, hukumanmu belum selesai !"
kata Kenzo kembali tersenyum menyeringai melihat mata Reina yang membulat sempurna.
"pergi !!" teriak Reina meraih bantal dan melemparnya ke wajah tampan yang tertawa menyebalkan itu.
Kenzo keluar kamar, menutup pintunya dengan keras, membiarkan Reina menangis terisak di dalam.
"selamat pagi, Tuan..." sapa Akira melihat Kenzo menuruni tangga.
"ada apa Akira?" tanya Kenzo menatap asistennya yang tampak tak biasa itu.
"Tuan Besar ingin anda segera pulang, Tuan.."
Kenzo tak menjawab, hanya mendengus.
"Tuan Besar menyuruh pengawal untuk membawa paksa Anda jika menolak untuk pulang..."
"aku akan pulang jika wanitaku sudah hamil,"
__ADS_1
"Tapi, Tuan..."
Akira tak melanjutkan kata2nya mendapat lirikan tajam mata biru Tuan Mudanya itu.
Kenzo berjalan santai ke arah dapur, Akira pun segera mengikutinya.
"perintahkan pelayan menyiapkan sarapan dan merapikan kamar begitu istriku turun,"
"baik Tuan.."
*****
Reina duduk di depan meja rias.Dia sudah mandi, mengenakan gaun terusan diatas lutut, tak ada perhiasan, hanya cincin berlian yang melingkar di jari manisnya.
Wajahnya terpoles make up tipis, dengan lipstick merah muda membuat cerah wajahnya.
Rambutnya dibiarkan tergerai setelah dikeringkan, untuk menutupi lehernya yang penuh bekas ciuman Kenzo.
Reina bergidik ngeri kembali mengingat Kenzo yang tak puas memilikinya.
"selamat pagi Nona...sarapan sudah siap, Tuan Muda menunggu anda di bawah.."
Pelayan2 menyerobot masuk tanpa permisi lagi.
"kami akan membersihkan kamar, silahkan Nona.."
Pelayan yang tampak berusia lanjut mengusir Reina keluar kamar dengan sopan.
Reina membanting sisirnya dengan keras ke atas meja rias, beranjak berdiri dan keluar kamar.
Reina menuruni tangga perlahan, masih terasa nyeri di pusat tubuhnya.
Reina berjalan ke arah ruang makan, dimana Kenzo sudah terduduk di sana.
Kenzo yang tampan, sudah tampak segar sehabis mandi,berganti baju dengan kemeja hitam dan jeans.
"dasar setan, iblis," umpat Reina dalam hati karena Kenzo selalu berpakaian serba hitam.
"selamat pagi, Nyonya.." sapa Akira
"maafkan saya, " ucap Akira membungkukkan badannya hormat meminta maaf.
Pelayan bergegas menarik kursi untuk Reina di samping Kenzo.
Dan beberapa pelayan segera menyajikan hidangan sarapan.
"aku akan keluar sebentar, tetap disini jangan kemana2!" kata Kenzo
"aku mau bertemu Dena," ucap Reina menatap Kenzo dengan berani
Akira menatap Tuan Mudanya takut.
"biarkan mereka bertemu, tambah saja pengawal untuk berjaga mengawasi mereka," titah Kenzo
"aku bukan tahananmu!" desis Reina marah
"kamu milikku!" tegas Kenzo
Reina memutar bola matanya malas.
"cepat habiskan sarapanmu!"
Reina menurut, untuk bisa bertemu dengan Dena, ia harus jadi wanita yang tunduk dan patuh.
Selesai sarapan, Reina mengantar Kenzo menuju mobil yang sudah menunggu di depan villa.
Kenzo mengecup dahi Reina sebelum masuk ke mobil diikuti Akira.
Begitu mobil hilang dari pandangan, Reina bergegas menuju belakang villa untuk menemui Dena.
Tampak banyak pengawal yang berjaga di sana.
"Dena?" panggil Reina membuka pintu
__ADS_1
"Reina?!" seru Dena keluar dari kamar.
Kedua gadis itu memekik senang dan saling berpelukan.
"apa kamu tak apa2?" tanya Reina mengusap airmata Dena yang menetes dipipinya.
"aku tak apa2," angguk Dena tersenyum
"apa kamu terluka?"
"tidak Rei...aku diperlakukan dengan baik.."
"benarkah? jangan membohongiku..."
"ya...mereka tidak melukaiku, hanya mengurungku.."
"syukurlah.. karena aku mendengar Akira membentakmu kemarin malam..."
"aku sudah biasa sejak diculiknya," dumal Dena
Reina mengajak Dena duduk di sofa.
"apa kamu sudah makan?"
"iya...rasanya cuma aku yang diculik tapi mendapat fasilitas bintang 5," kata Dena terkikik
"kamu senang?" gerutu Reina
"senang...karena aku diculik bersamamu!"
Reina langsung memanyunkan bibirnya.
"aku mendengar kamu sudah menikah dengan pria balok es, apa itu benar?"
"darimana kau tahu?"
"pelayan yang bergosip saat bersih2 disini,"
"isshhh menyebalkan!" tukas Reina
"selamat teman...kita semakin tidak bisa kabur dari sini.." kata Dena menghela napas
Dua gadis itu duduk bersandar di sofa, memandang kemewahan dihadapan mereka.
"tahu tidak..."
"apa?"
"aku berpikir.. mereka juga menyekap kedua orangtuamu...."
Reina menoleh, menatap Dena tak percaya.
"apa?"
"ini hanya perkiraanku, kau harus mencari informasi untuk memastikannya..."
"aku cari dimana?" gerutu Reina
"haiiissshh....pasti ada informasi di dekat suamimu itu! coba cari di ruang kerjanya, atau dimanapun yang berhubungan dengannya!"
"bagaimana kalau aku langsung bertanya padanya?"
"iiisshhh kamu bodoh sekali! bagaimana kalau mereka malah membunuh orangtuamu karena kamu banyak bicara?!"
"apa?" pekik Reina kaget
"aku sudah mengalaminya sendiri karena banyak bicara! asisten suamimu itu mengancam akan membunuhku dengan pistol canggihnya.."
"berani sekali dia!" teriak Reina
Dena membungkam mulut Reina dengan tangannya, takut para pengawal menyerbu mereka.
"sshhtt...jangan berisik! kita harus menyusun rencana!" bisik Dena
__ADS_1
"i-iyaa.." angguk Reina lemah.
******