Deviasi

Deviasi
#part 26


__ADS_3

Gedung mewah berlantai 30 yang merupakan kantor pusat Iwasaki Group tampak sibuk pagi itu.


Ribuan karyawan melakukan aktifitas bekerja mereka yang telah terprogram.


Beberapa mobil berhenti, berbaris rapi di depan lobi.


Dengan sigap beberapa pengawal turun dari mobil, dan berbaris.Salahsatu dari mereka membukakan pintu untuk sang penguasa.Tuan Iwasaki senior, turun dari mobil di sambut dengan barisan pengawalnya yang membungkuk hormat.


"selamat pagi, Tuan Iwasaki.." sambut security yang bertugas dipintu utama dengan hormat.


Tuan Iwasaki hanya melirik sekilas dan berlalu diikuti Sakimoto dan para pengawalnya menuju lift khusus untuk para petinggi perusahaan.


Lift pun berhenti di lantai teratas gedung, dimana ruangan penguasa klan Iwasaki berada.


Tuan Iwasaki pun duduk di kursi kebesarannya.


"semua pertemuan akan dihandle oleh Tuan Muda kedua, Tuan Besar..." lapor Sakimoto


"Bagus...anak itu berusaha merebut hatiku Saki.."


Tuan Iwasaki tersenyum sambil mengangguk2kan kepalanya.


"iya Tuan, sejak kepulangannya, banyak proyek yang berhasil ditanganinya...Tuan Muda kedua bekerja keras hingga hari ini.." jelas Sakimoto


Tuan Iwasaki tersenyum puas, biarlah dia anak tiri, selama ia menguntungkan perusahaan dan klan, tidak ada salahnya menganggapnya sebagai anak kandung yang harus balas budi kepada kedua orangtua.


"Tuan Ryujin ingin mengajak anda makan siang bersama di resto AFC, Tuan.."


"Punya rencana apa dia sering mengajakku untuk bertemu...?"


"bukankah anda dan beliau hendak menjodohkan Tuan Muda dengan putrinya?" jelas Sakimoto


"ya...aku memang berniat menjodohkan mereka, tapi aku punya banyak kandidat, hanya kebetulan salah satu putrinya.."


Orangtua ini benar2....batin Sakimoto gemas


"selamat pagi Ayah..."


Edward memasuki ruang kerja Tuan Iwasaki, menghentikan sebentar pembicaraannya dengan Sakimoto.


"selamat pagi, Tuan Muda..." angguk Sakimoto hormat


"maaf aku terlambat..." ucap Edward membungkukkan badannya.


"kami juga baru saja tiba, Tuan Muda tidak perlu meminta maaf..." kata Sakimoto merasa kagum dengan sikap Tuan Mudanya ini.


"aku ingin meminta bantuanmu Saki, untuk menggantikanku meeting dengan tim pengembangan sampai aku kembali dari Nagoya.."


Sakimoto tersenyum.


"anda bisa melanjutkan meeting karena Tuan Kenzo sudah berangkat ke Nagoya pagi ini.."


"kakak ada disini?" tanya Edward kaget


"iya..Tuan Kenzo sudah kembali..."


"tapi...bagaimana dengan is.."


"pergilah 'nak...ada yang ingin aku bicarakan dengan Saki," potong Tuan Iwasaki tahu maksud dari pembicaraan putra keduanya itu.


"baiklah, aku permisi..." pamit Edward mengundurkan diri dengan sopan.


Sakimoto masih tersenyum, mengingat keributan di pagi hari tadi.

__ADS_1


Tuan Mudanya marah bukan main karena ditipu olehnya saat berada di ruang makan untuk sarapan tapi tak menemukan adiknya.


Lagi2 dahinya di acungi pistol, benar2 anak yang sudah diasuhnya itu sangat kurang ajar, hingga Tuan Iwasaki menggebrak meja karena marah.


Tuan Mudanya pergi tanpa menyentuh sarapannya.


Langsung memutuskan ke Nagoya, padahal Sakimoto belum bicara apapun soal perusahaan dengan segala ***** bengeknya.


Darimana Tuan Mudanya itu tahu soal perusahaan di Nagoya? Sakimoto hanya tersenyum melihat keahlian Tuan Mudanya yang pertama itu.


*****


"Tuan Muda, mobil sudah siap berangkat.."


"kakakku sudah lebih dulu ke sana Will,.."


"Tuan Kenzo?" tanya Willy terkejut


"siapa lagi kakakku kalau bukan dia?" ketus Edward berjalan memasuki ruangannya.


Willy dengan setia mengikutinya dari belakang.


"tapi bukankah Tuan Kenzo masih di pulau itu?"


"aku tidak tahu alasannya kembali secepat ini.."


Edward pun duduk dikursi kerjanya, menyandarkan punggungnya.


"saya akan mencari informasi, Tuan.."


"apa mungkin ada hubungannya dengan perjodohan itu?" tanya Edward memijit dahinya.


"semua kemungkinan bisa terjadi, Tuan...saya akan mencari informasi untuk anda.."


"kalau begitu saya permisi, Tuan..."


"berhati2lah...kamu tahu sifat kakakku 'kan?"


Willy hanya mengangguk dan tersenyum sebelum keluar ruangan.


"jika kakak disini, apakah kakak ipar juga disini?"


Edward memutar kursinya menghadap jendela besar yang menyuguhkan pemandangan, awan yang tampak biru cerah.


Edward tersenyum sendiri saat teringat wajah kakak iparnya yang begitu cantik saat tertawa bersamanya menceritakan lelucon konyol.


Apa mungkin masih ada wanita sepertimu lagi di dunia ini ? batin Edward, jantungnya terasa berdegub kencang.


*****


Reina melewati hari dengan berkeliling mansion bersama Dena hingga kaki mereka terasa pegal.


Tuan Fuji yang menjadi pemandu sepertinya tak lelah sedikit pun.


"silahkan duduk, saya akan membuatkan lemon dingin untuk Nyonya.." kata Tuan Fuji ramah


"aku tak suka minuman masam..." kata Reina


"ini adalah minuman favorit Tuan Muda,...besok, saya akan memgajak anda ke kebun lemon dibelakang..."


"apa? kebun lemon??" seru Dena kaget


"ya...lemon untuk minuman dan semua buah2an disini adalah hasil kebun sendiri.."

__ADS_1


"apa kita bisa pergi sekarang?" seru Dena begitu antusias


"mungkin besok saja, Nona karena Nyonya sudah tampak lelah.." kata Tuan Fuji sibuk meracik minuman.


Mereka bertiga duduk di bar mini yang berada di ruang santai.


"aku ingin tidur..." kata Reina menguap


"mandilah biar segar, sebelum makan malam.." kata Dena sambil mengerutkan dahi merasakan minuman lemon yang masam tapi segar.


"baiklah...aku mandi dulu.." Reina beranjak dari kursinya dan pergi menaiki tangga menuju kamarnya.


Sesampainya di kamar, Reina merebahkan tubuhnya di ranjang yang empuk itu.


"aku ingin sekali bertemu..." lirih Reina, menatap langit2 kamar yang tinggi, dengan hiasan lampu gantung khas eropa.


Reina memejamkan mata, hingga terbayang wajah Kenzo yang tampan, dengan mata birunya yang bersorot dingin.


"aku rindu..." bisik Reina, tak terasa bulir airmatanya turun membasahi pipinya.


*****


Kenzo memandang keluar melalui jendela mobil yang akan membawanya kembali menuju mansion ayahnya.


Perjalanan yang tampak lengang di malam hari, membuat mobil melaju dengan cepat, hingga mereka pun sampai ke mansion tepat pada saat makan malam.


"selamat datang, Tuan Muda..." sambut Sakimoto di depan pintu utama.


Kenzo yang keluar dari mobil hanya menatap dingin Sakimoto.


"bagaimana perjalanan Anda?" tanya Sakimoto


"bukan urusanmu, orang tua," ketus Kenzo dan berlalu.


Sakimoto tersenyum menanggapinya tanpa tersinggung sedikit pun.


Kenzo berjalan memasuki mansion dan mengernyit melihat seseorang yang duduk di ruang tengah.


"kakak?" seru Edward berdiri dari duduknya


"aku mau mandi dulu, tunggulah sebentar.."


"baik kak," angguk Edward


Tak sampai 30 menit, Kenzo kembali ke ruang keluarga.


"Tuan Besar sedang menghadiri perjamuan, Tuan Muda bisa makan malam bersama sekarang.." kata Sakimoto melihat kedua kakak adik itu berada di ruang tengah.


Kenzo dan Edward pun mengikuti Sakimoto menuju ruang makan.


"kapan kakak kembali? kenapa tidak mengabariku?"


"aku mendadak pulang, mana sempat mengabarimu? lagipula kenapa kamu tidak tinggal disini?"


"mencoba mandiri 'kak..." senyum Edward meraih gelas berisi air mineral.


"cih, jangan2 ingin mengikutiku keluar dari sini?"


Edward hanya tertawa, karena tahu sifat Ayah dan kakak lelakinya yang sama2 keras dan tidak ada yang mau mengalah, hingga sering bentrok karena salah paham masalah kecil.


"kamu adalah panutanku kak...cuma kamu yang bisa mengertiku selama ini dan mau menganggapku keluarga..."


*****

__ADS_1


__ADS_2