
Kakei melangkahkan kaki jenjangnya keluar dari mobil sportnya yang seharga jutaan dollar itu.
Kakei menatap gedung pencakar langit yang berdiri menjulang di hadapannya melalui kacamata hitam yang menggantung dihidung mancungnya.
Para pengawal Kakei mengawal secara tersembunyi, oleh karena itu Kakei tampak seorang diri menghadiri acara bisnis perebutan tender di Hokaido ini.
Tak lama kemudian datang beberapa mobil yang berhenti di depan lobi utama gedung.
"cih, dia datang juga!" decak Kakei melihat Kenzo yang menuruni mobil seraya merapikan kancing jas nya.
Kakei pun bergegas menuju lobi dimana Kenzo masih berbincang dengan Akira, asisten sekaligus tangan kanan kepercayaannya.
"well...well...suatu kesialan besar bertemu putra mahkota Iwasaki..." seru Kakei saat berdiri tak jauh dari tempat Kenzo.
Kenzo hanya melihat sekilas kemudian melanjutkan kembali pembicaraannya dengan Akira.
"dasar baji*ngan tengik!" ejek Kakei lagi
Kenzo pun langsung menghentikan pembicaraannya.
"ada perlu apa, Tuan Muda Yamaguchi yang manja?" tanya Kenzo
"what?"
"aku tidak punya banyak waktu mengurusi hal2 tidak penting..maaf,"
Kenzo pun mengajak Akira memasuki gedung.
"sejak memiliki wanita kau bisa berubah juga! Menggelikan hidupmu di atur oleh wanita! Aku penasaran ingin 'mencicipi' wanita mu juga.."
Dan berhasil!
Kenzo langsung berjalan cepat ke arah Kakei berdiri dan menarik kerah kemejanya.
"jaga bicaramu, Yamaguchi! Aku tak segan2 merobek mulutmu!" desis Kenzo
__ADS_1
"Tuan,..." Akira langsung maju ke depan melerai perkelahian.
"aku tak sabar menantinya, Putra Mahkota!" ejek Kakei tersenyum menyeringai.
Didorongnya tubuh Kenzo seraya merapikan kembali setelan jasnya.
Kakei tertawa saat berjalan melewati Kenzo.
"Tuan, anda tidak perlu mengurusinya!" kata Akira melihat Kenzo yang berwajah tegang menatap punggung Kakei yang menjauh.
"aku bersumpah akan membunuhnya suatu hari nanti," desis Kenzo.
Akira hanya menghembuskan napasnya berat.
"kita kalahkan saja hari ini dengan merebut tendernya, Tuan..." kata Akira
Kenzo merapikan jasnya kemudian memasuki gedung diikuti Akira dan pengawal.
********
Akira pun menyusul masuk dengan membawa beberapa map berisi dokumen untuk di approve.
"selamat siang, Tuan..." sapa Rumi saat memasuki ruangan Kenzo
"ada apa, Rumi?" tanya Akira yang berdiri di samping Kenzo menunggu dokumen2 yang sedang diperiksa.
"Tuan Edward ingin bertemu, Tuan Akira...apakah bisa saya persilahkan masuk?"
"Eddy? biarkan dia masuk..." angguk Kenzo
"baik, Tuan...permisi,"
Rumi pun bergegas keluar kembali untuk memanggil Edward dan mempersilahkannya masuk.
"kakak?" Edward menyerbu masuk
__ADS_1
"saya permisi dulu, Tuan..."
Akira pun mengundurkan diri untuk keluar ruangan.
"duduklah, ada apa, Ed?"
Kenzo menunjuk ke sofa yang berada diruangannya, mempersilahkan Edward duduk di sana.
"bagaimana kabarmu dan kakak ipar? Calon keponakanku?"
Kenzo terkekeh mendengarnya.
"kau ini! Kau bisa setiap saat datang ke mansion utama dan melihat keadaan kami..."
"aku tidak bisa meninggalkan Dena sendiri dimansionmu..."
"kenapa? Apa aku mencium bau hubungan yang serius?"
"kau tahu sendiri begitu berartinya Dena untuk kakak ipar..." keluh Edward
Kenzo hanya menganggukkan kepalanya.
"mungkin kakak ipar akan senang bisa bertemu dengannya..."
"kau tahu Ayah begitu ketat menjaga kakak iparmu, apalagi sudah semakin dekat hari melahirkannya..." geleng Kenzo
"sejak kapan kakak menurut dengan Ayah?"
Edward tersenyum mengejek, membuat Kenzo menaikkan sebelah alisnya tak suka.
"atur saja waktunya, kau bisa membawa Dena ke mansion utama..."
Edward pun melebarkan senyumnya.
*********
__ADS_1