
"panas..." racau Reina
Kenzo dan Reina sudah tiba di ruang Presidential Suite, tempat tinggal Kenzo sementara saat berada di negara ini.
Akira hanya menatap tanpa berani bertanya saat Kenzo menarik Reina memasuki kamar dan menutup pintunya.
Akira bertanya2 dalam hati, apa mungkin Kenzo memiliki rasa dengan gadis itu, meskipun Akira mengakui memang gadis bernama Reina itu sungguh cantik dan tidak pantas untuk bekerja sebagai petugas kebersihan.
Pasti akan menjadi masalah besar jika Tuan Besarnya tahu apa yang saat ini terjadi dengan calon pewarisnya itu.
"kalian boleh istirahat, aku juga ingin istirahat.."
"baik Tuan, selamat malam.."
Para pengawal membubarkan diri, setelah mematikan sistem lift yang menuju lantai Presidential Suite, Akira pun memasuki kamarnya.
Suasana ruangan langsung hening, berbanding terbalik dengan suasana kamar Kenzo.
Reina terus saja meracau merasakan panas ditubuhnya yang semakin menjadi2.
Kenzo hanya menatap dingin gadis dihadapannya itu, gadis yang mabuk parah dan tanpa menyadari, minumannya sudah tercampur sedikit obat.
Reina seperti orang gila yang kebingungan mencari pelepasan atas panas tubuhnya yang ia sendiri tak mengerti.
Kenzo pun menarik Reina menuju kamar mandi luas yang berada dikamarnya.
Dinyalakan shower saat Reina sudah berdiri tepat dibawahnya.
Reina berteriak2 gelagapan merasakan shower yang menyiram dan membasahi seluruh tubuhnya yang masih berpakaian lengkap tapi minim itu.
Kenzo membulatkan matanya menatap Reina.Tubuhnya yang basah kuyup tercetak jelas dengan begitu indahnya.
Selama ini Kenzo tak pernah bertemu gadis seindah dan seli*ar ini.
Pergaulan kelas atasnya hanya membuatnya bertemu gadis2 kalangan elite yang benar2 sopan dan santun.
Gelenyar aneh menyerbu tubuh Kenzo, melihat Reina yang berusaha melepas bajunya.
"apa yang kamu lakukan?!" bentak Kenzo dalam bahasa Inggris
Reina terlonjak kaget.
"tolong...tubuhku panas sekali...tolong aku.."
Kaosnya yang basah berhasil lolos, memamerkan tubuh atasnya yang indah, tampak menggoda Kenzo hingga tak mampu menelan saliva nya.
Dan kini Reina mencoba melepas kancing celana pendeknya dengan susah payah.
"hentikan gadis bodoh!" maki Kenzo saat celana pendek itu melorot sampai ke lutut
Reina adalah pemandangan terindah yang sulit ditolak mata untuk mengaguminya.
Reina pasti akan menyesal esok hari atas apa yang dilakukannya malam ini.
Ia berjalan ke arah Kenzo yang masih berpakaian lengkap, setelan jas mahalnya langsung basah karena tubuh Reina yang menubruknya.
"tolong aku..."
Reina berjinjit saat membenamkan wajahnya ke leher Kenzo yang hangat.Harum parfumnya semakin memabukkan Reina yang sudah hilang akal warasnya.
Dengan berani Reina melepas kancing2 jas Kenzo dan meloloskan dasinya.Kemeja Kenzo terbuka seluruhnya.
Reina menahan napasnya melihat pria gagah dihadapannya ini.
Tubuh atasnya tertutup tato.Tat*o Naga berwarna hitam, meliuk memanjang.
__ADS_1
Reina mengulurkan tangannya menyentuh dada bidang yang tertutup tat*o itu.
"sungguh li*ar gadis ini," batin Kenzo
"dingin...aku suka..." bisik Reina tersenyum.
Matanya sayu menatap mata biru Kenzo yang juga tengah menatapnya.
Tubuh mereka melekat satu sama lain.
"tubuhmu dingin..."
"kamu pasti akan menyesal besok!"
Kenzo meraih pinggang Reina, mendekapnya erat.
Ditundukkannya kepalanya dan menciumnya.
"benar2 penggoda!" bisik Kenzo menyusuri leher putih Reina.
Reina mende*sah, semakin membuat hilang kendali Kenzo yang mencoba keras menahannya sekuat tenaga.
Kenzo mengangkat tubuh Reina dan membawanya ke ranjang kingsize miliknya.
Reina terbaring dengan telentang, seolah menantang Kenzo untuk membelainya.
Reina menggerakkan tubuhnya gelisah, panas tubuhnya menuntut pelepasan.
Kenzo membuka ikat pinggangnya dan meloloskan celananya, kini tubuh polosnya mengungkung Reina dibawahnya.
Reina menarik tengkuk Kenzo, menyatukan bibir mereka tak sabar. Gadis yang polos sudah berubah li*ar karena obat.
Kenzo pun hilang kendali, mengikuti keinginan Reina untuk di cum*bu dan di sentuh.
Kenzo menyentuh semua, meninggalkan bekas kepemilikan dengan ciuman2 panasnya.
Reina terengah menatap biru yang berkilat di atasnya.
"kamu pasti menyesal besok," bisik Kenzo dengan bahasa Inggrisnya yang fasih.
Reina yang tak mengerti ucapan Kenzo hanya menjambak rambutnya minta dipuaskan.
Kenzo bersiap menyatukan tubuh mereka.
Reina memekik saat merasakan sesuatu memasuki inti tubuhnya.
Kenzo mengerang merasakan sempitnya gadis dibawah kungkungannya ini.
"mana mungkin gadis li*ar sepertimu masih perawan.." desah Kenzo tak berhasil juga menembus dinding Reina.
Reina mencakar punggung Kenzo hingga sedikit berdarah, merasakan perih dan nyeri.
Mereka menyatu sekarang meski dengan paksaan dari Kenzo.
Kenzo menikmati kehangatan Reina yang terisak kesakitan.
Dibungkamnya tangisan Reina dengan ciumannya, dan mulai bergerak perlahan memiliki gadis itu seutuhnya.
Dan saat isakan berubah desah*an, Kenzo mempercepat iramanya, memburu pelepasannya.
Reina merasakan tubuhnya bergetar hebat.
Kenzo menyentak penuh miliknya ke dalam kehangatan Reina, hingga terbenam seluruhnya.
Reina membulatkan mata saat merasakan sesuatu yang hangat mengalir dalam rahimnya.
__ADS_1
Pria diatasnya ini mencapai puncaknya.Menebar benih2 bibit premium memenuhi rahimnya yang perawan.
*****
Tokyo
"sampai kapan Kenzo berada di sana?"
"kemungkinan hingga 2 pekan, mungkin juga lebih Tuan Besar..."
Sakimoto, pria berusia senja, menunduk hormat kepada pemimpinnya yang usianya sama senjanya seperti dirinya.
Tuan Iwasaki Senior menatap keluar halaman rumahnya yang luas.
Rumah mewah tapi bergaya tradisional khas bangsawan negeri matahari terbit.
"selamat pagi Ayah.."
Seorang pria tampan, bermata biru dan berambut pirang membungkukkan badannya hormat.
Edward Iwasaki, anak lelaki bungsu keluarga Iwasaki, adik tiri Kenzo.
"Hem," deham Tuan Iwasaki tak menoleh sedikit pun ke arah anak tirinya.
"mari Tuan Besar, Tuan Muda, sarapan sudah siap,"
Sakimoto memecah keheningan kedua lelaki dewasa berbeda usia itu.
Edward tak pernah mengerti kenapa Ayahnya begitu dingin padanya, karena Edward tak pernah tahu asal usul kehadirannya dalam keluarga klan Iwasaki ini.
Yang ia tahu, ia adalah anak kedua, dan dipersiapkan untuk membantu mengelola bisnis gurita raksasa Ayahnya bersama kakaknya.
"Saki, kenapa Ayah tak pernah memandangku? apa beliau sudah tak menyayangiku..?"
"Tuan Besar menyayangi anda Tuan...mana mungkin beliau tidak menyayangi putranya?"
Sakimoto tersenyum, menghibur Tuan Mudanya yang tampan berwajah kebaratan.Mirip sekali dengan ibunya.
"dimana kakakku Saki? sejak pulang aku belum melihatnya.."
"Tuan Kenzo berada di Indonesia Tuan muda, sedang mengurus bisnis disana..."
Edward berjalan mengikuti Sakimoto menuju sisi rumah yang lain, ruang makan untuk keluarga Iwasaki.
Tuan Iwasaki lebih dulu sampai disana, menunggu sambil mendengarkan laporan dari para sekretarisnya.
"silahkan Tuan Muda,"
"terimakasih Saki,"
Para pelayan menyiapkan sarapan dimeja besar, tidak ada wanita di dalam rumah besar Iwasaki.
Sejak Nyonya Besar mereka meninggal, Tuan Iwasaki melarang keras kehadiran wanita dirumahnya.
"dan ini laporan yang anda minta Tuan Besar,"
Wajah Tuan Iwasaki menegang begitu melihat foto2 dari dalam amplop yang diserahkan sekretarisnya.
Foto2 Kenzo saat berada di Club bersama Reina.
"selidiki mereka!"
"baik Tuan Besar.."
******
__ADS_1