Deviasi

Deviasi
#part 17


__ADS_3

Dena dan Reina akhirnya berhasil meloloskan diri dari keramaian pesta, meskipun harus berbohong kepada Ayah Dena yang tampak kecewa karena gagal mengenalkan putrinya pada Bigboss.


Dena dan Reina memasuki cafe yang berada dipinggir pantai, dekat dengan penginapan mereka.


Mereka tampak duduk kelelahan, karena berjalan lumayan jauh dengan gaun pesta.


"isshhh kurang ajar!" umpat Dena, saat seorang pria bule bersiul ke arah mereka.


Pengunjung cafe yang rata2 orang asing tampak memandang aneh ke arah meja Dena dan Reina duduk.


"salah masuk tempat deh 'Den.." gerutu Reina, merasa risih banyak mata yang memandang ke arahnya, apalagi ditambah senyuman menggoda dari para pengunjung yang rata2 pria bule.


"mau gimana lagi, aku capek banget Rei.." keluh Dena memijit2 betisnya yang terasa kaku.


"kenapa tadi tidak bawa blazer.." dumal Reina bersedekap, menutupi dadanya.


Angin pantai yang lumayan berhembus kencang membuat punggungnya yang terbuka terasa menggigil.


"hei," seru Dena memanggil pelayan


"pesan coklat panas 2 ya," kata Dena yang langsung di angguki pelayan cafe.


"apa kita tidak pulang saja?" tanya Reina meniup2 kepalan tangannya karena kedinginan.


"minum dulu sebentar, penginapan sudah dekat.."


Dena asyik memandang ke sekeliling, tampaknya ia sudah terbiasa nongkrong di sini.


"apa kamu sering disini?" tanya Reina ikut memandang ke sekeliling.


Tampaknya tamu semakin banyak saat hari semakin malam.


"dulu, saat ikut tinggal bersama ayahku, aku sering nongkrong disini...kamu tahu, ayahku hanya sibuk bekerja sampai lupa ia punya anak.."


Reina menatap wajah sendu Dena.


"banyak uang tak menjamin hidupmu bahagia.."


"iya, kamu benar..." angguk Reina menatap cincin dijari manisnya.


"ayahku selalu memberikan apapun, tapi tak bisa memberiku yang namanya bahagia,"


"karena itu kamu pergi ke kota ku?"


"iya...dan aku menemukan apa itu arti keluarga bersamamu..." senyum Dena, cantik sekali.


"terimakasih...aku jadi terharu.." lirih Reina


"tak perlu terharu..sebagai ucapan terimakasihmu, nanti bayar coklatnya ya?"


Dena tertawa geli melihat Reina yang mengerucutkan bibirnya.


"tahu begitu aku langsung pulang saja!" omel Reina


Dena semakin tertawa, yang mau tak mau membuat Reina ikut tertawa.


Pelayan datang membawakan 2 cangkir besar berisi coklat panas yang masih mengepul.


Dena dan Reina pun segera menyeruputnya untuk menghangatkan badan.


"enak sekalii.." ucap Dena terkekeh


"iya...baru kali ini aku minum coklat seenak ini.."


"ini minuman favoritku disini.."


"oh ya? aku pikir minuman alkohol favoritmu.."


"isshh aku cewek baik2!"


Reina tertawa.

__ADS_1


Dua gadis cantik berpakaian pesta yang seksi semakin membuat terpesona banyak pengunjung.


"selamat malam Nona..."


Reina dan Dena saling berpandangan sebelum menoleh ke belakang, dimana asal suara menyapa mereka.


Serentak kedua gadis itu terlonjak kaget, membulatkan mata melihat siapa yang berdiri dihadapan mereka.


Akira tersenyum, berdiri bersama beberapa pria berjas, pengawal mereka.


"ayo kita lari..." bisik Dena


"aku hitung sampai 3..." bisik Reina


"1...2..lariiii..."


Dena dan Reina langsung berlari meninggalkan cafe.


Sesuatu yang sia2 karena dengan cepat mereka tertangkap para pengawal yang sigap mengejar mereka.


"lepaskan aku!" teriak Dena dan Reina.


"Nona...menurutlah, jangan sampai kami berbuat lebih.." kata Akira dingin, mengawasi 2 gadis yang sibuk memberontak dari pegangan para pengawal.


"mari Nona ikut kami, tolong kerjasamanya.."


"aku tidak sudi!" maki Reina terus memberontak.


Tampak Akira mengangguk kepada salah seorang pengawal, yang dengan cepat mengeluarkan saputangan yang sudah dibubuhi obat bius.


Tak menunggu waktu lama, Dena dan Reina melemah, terasa lemas, sebelum akhirnya jatuh pingsan.


*****


Reina mengerjapkan matanya perlahan membukanya.


Tubuhnya terasa lemas, kepalanya terasa pusing dan berat.


"dimana ini..." ucapnya mencoba beringsut untuk bangun.


Reina terduduk di atas ranjang King size, di sebuah ruang Presidential Suite.


"bagaimana rasanya dibius gadis liarku?"


Suara ini! Reina tersentak kaget, mengalihkan pandangnya dengan takut ke arah sofa, dimana di sana telah duduk seseorang yang selama ini ditakutinya.


Kenzo yang duduk dengan setelan jas mahalnya.


Pakaian serba hitam yang membuatnya tampak seperti iblis yang tampan.


Dia duduk bersandar, dengan menyilangkan kedua kaki jenjangnya.


"well... jauh juga pelarianmu.." katanya lagi membuat Reina semakin bergidik ngeri.


"tapi sayang , aku tetap bisa menemukanmu.."


Reina beringsut mundur hingga tubuhnya membentur headboard ranjang.


Kenzo tersenyum, menyeringai senang melihat ketakutan Reina.


"tolong lepaskan aku..." isak Reina gemetar


"apa?" tanya Kenzo beranjak berdiri


"lepaskan aku..." ulang Reina mengisak


Kenzo berjalan mendekatinya, masih dengan memakai sepatu ia naik ke ranjang mendekat ke arah Reina.


"aku tidak pernah melepas apa yang sudah jadi milikku.." desis Kenzo, meraih dagu Reina dan mendongakkannya supaya menatap mata birunya.


"aku bukan milikmu!" umpat Reina menantang mata biru itu.

__ADS_1


Reina tahu, Kenzo sangat menyukai ketakutannya.


Kenzo sangat menikmati Reina yang merasa terintimidasi oleh mata birunya yang tajam.


Kenzo tersenyum, mendekatkan wajahnya ke arah Reina, hingga hembusan napasnya menghangati wajah Reina, membuat jantung Reina berdegub kencang.


"kenapa aku malah terpesona dengan wajah tampannya!" umpat Reina dalam hati.


"sudah berapa lama aku tak menyiksamu hemm?"


Reina merinding mendengar bisikan Kenzo ditelinganya.


Kenzo menunduk mengecup leher telanjang Reina.


"lepaskan aku!" teriak Reina merasa jengkel dan jijik pada tubuhnya yang langsung bereaksi dengan kecupan Kenzo dilehernya.


Reina mendorong dada Kenzo yang terbalut kemeja berwarna hitam serasi dengan dasinya, menjauh.


Kenzo tersenyum, melihat jari manis Reina yang masih melingkar cincin pemberiannya.


Diraihnya tangan Reina dan mengecupnya.


"hamillah anakku.."


"apa?"


"berikan aku anak..."


"haaa???"


******


"mana Reina??!" tanya Dena penuh emosi pada Akira yang hanya menatapnya dingin


"dasar sialan!!" maki Dena emosi melihat Akira yang tak bergeming sedikit pun dan hanya fokus pada laptop dihadapannya.


Dena berjalan mondar mandir dalam ruangan yang terkunci.


Akira mengunci dirinya dalam ruangan bersama Dena, supaya gadis itu tak bisa kabur.


"buka pintunya atau aku hancurkan!"


"silahkan jika anda mampu menghancurkannya.."


acuh Akira tak bergeming sedikitpun.


"aarrrggghhh..!!" Dena berteriak histeris.


"tenanglah Nona, atau ..."


"atau apa sialan ?!"


Akira membuka jasnya sedikit, menunjukkan pistol yang dia simpan dalam saku dalam jas nya.


"kamu pikir aku taku..."


PRANG!


Vas bunga di samping Dena pecah hancur berantakan setelah Akira mengarahkan pistol ke arahnya.


Pistol canggih yang mampu menembak tanpa menimbulkan suara.


"saya tidak ingin anda mengalami seperti vas bunga itu.."


Dena menelan salivanya takut.


Siapa sebenarnya pria dihadapannya ini? Darimana dia bisa mendapat senjata mengerikan seperti itu?


"apakah anda bisa tenang sekarang dan tidak mengganggu saya bekerja?"


Dena mengangguk pelan dengan otomatis, karena

__ADS_1


Dia terlalu takut untuk melawan saat ini.


*****


__ADS_2