
Reina memandang jemu ke arah Kenzo yang duduk dihadapannya.
Mereka duduk di sofa yang tersedia di lobi hotel, dikelilingi para pengawal yang membuat mereka jadi pusat perhatian.
Kenzo duduk tenang, memakai kemeja dan jas hitam, dipadu celana denim serta memakai kacamata hitam.
Reina memandang sekeliling, mencari sosok Akira, si asisten datar yang menyebalkan, karena beberapa hari ini ia tak bertemu dengannya.
"apa?" tanya Kenzo melihat Reina yang tampak mencari sesuatu.
"dimana Akira?" tanya Reina berani
"untuk apa menanyakannya? apa kamu rindu padanya?" tanya Kenzo ketus
"iya...aku sangat merindukannya...ingin rasanya memeluk dan menciuminya.." balas Reina
"coba saja kalau berani!" hardik Kenzo
Reina tersenyum malu2 semakin membuat Kenzo naik pitam.
Reina duduk bersandar, menyilangkan 2 kakinya yang terbalut celana jeans dan memakai sepatu highheels.
Sore ini, mereka tampak benar2 seperti pasangan karena mengenakan pakaian yang serasi.
Masih menjadi tanda tanya Reina, darimana Kenzo tahu, bisa memberikan baju , sepatu bahkan pakaian dalam yang sesuai ukuran tubuhnya.
"apa aku boleh beli minuman di cafe itu? rasanya haus sekali..." kata Reina hendak berdiri tapi dicegah oleh salahsatu pengawal.
Kenzo berkata sesuatu dan seorang pengawal bergegas pergi menuju cafe.
"Ya...ya...titah baginda Tuan Besar siapa yang berani melawan??" cibir Reina.
Reina kembali duduk bersandar, tak lama pengawal pun datang membawa 2 cup berisi minuman hangat.
"maaf Tuan, saya terlambat.."
Reina melirik sekilas kehadiran Akira yang rapi dengan setelan jas seperti biasanya.
"apa pesawat sudah siap?"
"Ya Tuan, kita bisa menuju bandara sekarang..."
Kenzo beranjak berdiri, merapikan kancing jasnya.
Diulurkannya tangannya pada Reina, yang disambut Reina dengan wajah cemberut.
Kenzo berjalan sambil menggandeng Reina menuju pintu utama dimana beberapa mobil sudah berbaris menunggu.
"kita mau kemana?" tanya Reina bingung
"nanti juga kamu tahu," jawab Kenzo pendek, tanda bahwa ia tak menyukai menjawab banyak pertanyaan.
Reina masuk ke mobil disusul Kenzo yang duduk di sampingnya.
Akira yang biasa duduk bersama satu mobil, entah mengapa berpindah ke mobil yang lain.
Dan Reina pun teringat sesuatu, dimana Dena?
Reina mencengkeram lengan Kenzo.
"dimana Dena?" tanya Reina
Kenzo hanya menoleh menatap Reina sebentar, lalu memalingkan wajahnya acuh.
Reina menarik lepas kacamata hitam Kenzo dengan berani, karena ia sudah tak peduli lagi dengan amarah Kenzo.Reina hanya ingin tahu dimana Dena berada.
Kenzo menarik tangan Reina kasar hingga tubuhnya terjerembab ke dada bidangnya.
"apa kamu tidak bisa tenang?" desis Kenzo
Reina menatap mata biru itu dengan nyalang.
__ADS_1
"katakan dimana Dena!"
Kenzo mengamit dagu Reina dan menunduk untuk menciumnya secara brutal.
Reina memberontak dengan memukuli dada Kenzo.
"apa harus kembali ke hotel lagi untuk menghukummu dulu??"
Kenzo menggigit bibir Reina sebelum melepasnya, membuat Reina memekik kesakitan.
Airmata menggenang di pelupuk matanya, bukan karena sakit dibibirnya, tapi rasa khawatir akan keberadaan Dena.
Kenzo mendudukkan Reina kembali disampingnya, dan meraih kacamata hitamnya untuk dipakainya lagi.
Reina membuang pandangnya keluar jendela mobil, mengusap kasar airmatanya yang menetes dipipi.
"Dena...kamu dimana?"
*****
"Tuan, anda mendapat pesan dari Akira," lapor Willy
Edward yang sedang mengepak barang2nya dikoper kecil menatap Willy.
"pesan apa?" tanya Edward bingung, karena ia jarang berkomunikasi dengan asisten kakaknya itu.
"Akira meminta kita untuk menyusulnya ke Pulau L, tapi tidak menyebutnya untuk keperluan apa.."
Willy pun sedikit bingung dengan pesan yang dikirim oleh Akira.
"apa kita menurutinya saja?" tanya Edward ragu
"saya akan memerintah beberapa pengawal untuk menjaga anda dari jauh, Tuan..."
Edward mengangguk setuju.
"hubungi pilot, kita akan menuju pulau L,"
Willy mengangguk dan mengundurkan diri dengan membungkuk hormat.
Edward meraih ponselnya, dan menghubungi Sakimoto untuk mengabarkan kepulangannya diundur 2 hari ke depan.
*****
Reina duduk tenang didalam pesawat jet pribadi milik Kenzo.
Lagi2 Reina memandang bingung karena sosok Akira tak bersama mereka dalam 1 pesawat, karena pesawat hanya diisi Kenzo dan Reina serta beberapa pengawal.
"ada yang aneh.." gumam Reina sendiri
Kenzo yang mendengar gumaman Reina pun menoleh ke arah Reina, masih dengan kacamata hitam bertengger dihidung mancungnya.
"bicara denganku?" tanya Kenzo
"dimana Akira?" jawab Reina balik bertanya.
"kamu sudah bosan hidup ya?" desis Kenzo
Reina mencebikkan bibirnya.
"selamat sore, Nyonya.."
"NONA!" koreksi Reina marah
Sang pramugari tersentak kaget, memandang takut ke arah Reina dan Kenzo berganti2.
"maafkan saya...apakah anda ingin minum? snack mungkin?" tawar pramugari sabar dan ramah
"aku tidak LAPAR!" tolak Reina menggeleng keras
"anda dengar sendiri, Nyonya tidak lapar," kata Kenzo menyeringai melihat Reina yang merajuk
__ADS_1
"baik,Tuan...saya permisi.." pamit pramugari
Ingin rasanya Reina mencakar wajah tampan pria dihadapannya ini.
Meskipun masih memakai kacamata hitam, Reina tahu, mata biru itu sedang menatap mengejeknya.
"apa?" tanya Kenzo dingin merasa ditatap penuh kebencian oleh Reina.
"aku membencimu Tuan Kenzo yang terhormat!"
"Oh ya?" Kenzo pura2 terkejut
"aku membencimu sampai sumsum tulangku!"
Kenzo menyeringai mendengarnya.
"buktikan bencimu itu padaku, Nona muda.."
Reina memandang Kenzo berapi2, memberi isyarat pada Kenzo dengan gerakan tangan memotong leher membuat Kenzo tertawa keras.
Sesuatu yang tak pernah terjadi, Kenzo tertawa!
Reina semakin cemberut menatap Kenzo, membuang pandang keluar jendela pesawat.
Penerbangan selama hampir 2 jam pun terlewati.
Pesawat mendarat di bandara sebuah pulau yang tak begitu ramai.
Kenzo yang hendak menggandeng Reina pun langsung ditepis tangannya oleh Reina.
"dimana ini?" tanya Reina bingung saat berada dipuncak tangga untuk menuruni pesawat.
Kenzo mendahului berjalan keluar dan menuruni tangga.
"dasar gunung es!" dumal Reina menyusul menuruni tangga pesawat.
Beberapa mobil sudah menunggu, dan Kenzo menunggu Reina untuk masuk ke mobil.
"masuk!" titah Kenzo keras membuat Reina tak berani membantahnya dan bergegas masuk ke mobil.
Kenzo menyusul masuk dan duduk di sebelah Reina.
Lagi2 Kenzo berbicara bahasa asing dengan sopir, sebelum mobil melaju meninggalkan bandara.
Tak butuh waktu lama, mobil memasuki pelataran sebuah villa yang besar dan mewah.
Bangunannya mayoritas terdiri dari dinding kaca, sehingga memanjakan yang tinggal di dalamnya memandang ke arah pantai.
"selamat datang Tuan Kenzo," sambut seorang pria dengan hormat, berdiri di depan pintu masuk.
"apa semua sudah siap?" tanya Kenzo sambil melirik Reina yang masih bingung memandang sekitar.
"semua sudah siap Tuan, Tuan Edward pun akan mendarat 30 menit lagi..."
Kenzo mengangguk, dan berjalan masuk.
Beberapa pelayan wanita langsung mengajak Reina untuk masuk ke dalam villa dan membawanya ke lantai atas.
"mari Nona muda, saya bantu membersihkan badan..." kata salah seorang pelayan mencoba melepas baju Reina.
"apa yang kamu lakukan?!" teriak Reina marah
"Tuan meminta kami untuk membantu Nona membersihkan badan dan bersiap..."
"bersiap? bersiap untuk apa?!"
"untuk acara pernikahan anda, Nona muda.."
"apa???"
*****
__ADS_1