Deviasi

Deviasi
#part 20


__ADS_3

"apa ini?!"


Tuan Iwasaki menggebrak meja kerjanya dengan marah.


Sakimoto hanya terdiam memandang Tuan Besarnya yang sedang bersungut marah menatap foto di ponsel, kiriman dari mata2nya yang mengikuti Kenzo.


"berani sekali dia menentangku!" teriak Tuan Iwasaki sampai serak.


"tenangkan diri anda,Tuan Besar...Tuan Muda pasti punya alasan tersendiri.." kata Sakimoto berusaha meredam amarah Tuan yang sudah di abdinya puluhan tahun itu.


"aku tidak mau memiliki keturunan dari orang tidak jelas!" teriaknya lagi.


Haaahh...mungkin ini perasaan orangtua anda dulu saat anda memilih Nyonya Besar, batin Sakimoto menghela napas.


"Tuan Muda yang memaksa gadis itu, Tuan..."


"apa?" Tuan Sakimoto menaikkan alisnya sebelah


"menurut informasi orang kita, Tuan Muda lah yang memaksa gadis itu untuk menikah dengannya...bahkan.."


"apa?"


"Tuan Muda menyekap kedua orangtua gadis itu saat menolak permintaannya untuk memiliki gadis itu,"


Tuan Iwasaki langsung melotot marah.Wajahnya yang mulai keriput pun menjadi merah padam sampai ke daun telinganya.


"anak itu!!"


Tuan Iwasaki langsung membuang semua barang2 diatas mejanya hingga jatuh berantakan.


"bawa anak itu pulang, bila perlu tembak kedua kakinya jika melawan!"


Sakimoto menghela napasnya lagi,


Ayah dan anak sama saja, keluh Sakimoto.


"baik Tuan.." angguk Sakimoto hormat dan mengundurkan diri keluar dari ruang kerja Tuan Besarnya yang sudah seperti kapal pecah.


*****


"hentikan!" erang Reina merasakan sesapan dan ******* kasar Kenzo di dadanya yang seperti bayi kelaparan.


Kenzo melepas mainannya, menatap Reina dengan mata birunya.


"kenapa? kamu sudah resmi jadi milikku, aku bebas melakukan sesuatu padamu sesuka hatiku.."


Kenzo menyeringai merasakan Reina yang memberontak untuk turun dari pangkuannya.


Pria pemaksa dan gadis keras kepala itu sudah resmi menjadi suami istri beberapa jam yang lalu.


Belum juga Reina melepas gaun pengantin mahalnya, Kenzo sudah menyerangnya dengan brutal.


Kenzo duduk bersandar di sofa, mengamati inci demi inci tubuh gadis yang sudah mutlak dan resmi jadi miliknya ini.


Sanggul Reina sudah berantakan, bibirnya bengkak karena ciuman, leher jenjangnya pun tak luput dari bekas2 memerah jejak kepemilikan Kenzo.


Gaunnya sudah melorot dipinggang rampingnya, mengekspos buah dadanya yang ranum, tidak besar tapi begitu pas dalam genggaman tangan Kenzo.


Reina menatap Kenzo, napas pria itu memburu, terasa panas menghembus depan tubuhnya yang terbuka.


"kapan benihku tumbuh?"


Kenzo mengelus perut rata Reina.

__ADS_1


"kuharap tidak akan pernah tumbuh," kata Reina, masih mencoba berontak dari pangkuan Kenzo.


Kenzo mengetatkan rahangnya, beranjak berdiri sambil menggendong Reina dan membawanya ke ranjang kingsize dihadapan mereka.


"selama berada disini, aku akan terus menanam benihku padamu," desis Kenzo mengungkung Reina dibawah tubuhnya.


"lepaskan aku!" teriak Reina


"kamu harus segera mengandung anakku!"


Kenzo menunduk, mencium paksa bibir Reina dengan brutalnya.


Tak ada kelembutan sama sekali, Kenzo bermain kasar, melukai tubuh dan hati Reina.


Reina membenci mata biru yang terus memandanginya saat si pemilik bersatu dengannya dengan brutal, tak ada kelembutan.


Ingin rasanya menampar bibir yang menyeringai itu, saat tahu, tubuh Reina bereaksi dengan sentuhan dan kecupan si pria bar2.


"aku membencimu," pekik Reina tertahan ciuman Kenzo saat mendapat pelepasannya yang pertama.


*****


Reina terjaga, suasana kamar tampak temaram karena hanya lampu tidur yang meneranginya.


Perlahan Reina menyingkirkan tangan Kenzo yang memeluk pinggangnya posesif.


Reina melirik takut jika Kenzo terjaga saat berhasil melepas pelukannya.


Reina beringsut pelan turun dari ranjang dan berjingkat menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


Tak berlama2 karena lagi2 Reina takut Kenzo terjaga mendengar gemericik air saat ia mandi.


Berbalut kimono mandi, Reina menyelinap keluar.


Reina menuruni tangga pelan2 seraya mengawasi keadaan sekitar.Perutnya benar2 lapar, cacing diperutnya berdemo minta diisi.


Setelah berkeliling sambil mengendap2 akhirnya Reina menemukan dapur dengan lemari es besar disudut ruangan.


"waahhh surga dunia ..." gumam Reina terpukau saat membuka lemari es yang berisi penuh makanan dan minuman siap saji.


Reina meraih sebotol besar susu dan mengambil beberapa roti isi daging.


Reina pun bergegas memasukkan roti ke dalam microwave untuk menghangatkannya.


"hadduuuuhhh segar sekali!" pekik Reina pelan selesai menghabiskan setengah gelas susu dengan tegukan2 besar.


Belum sempat Reina mengambil roti dalam microwave, terdengar derap langkah mendekat ke arah dapur.


Dengan tergesa Reina menyambar gelasnya dan membungkuk bersembunyi dibawah meja bar yang tertutup.


"siapa yang memanaskan makanan malam2!"


"itu suara Akira!" batin Reina menutup mulutnya dengan tangan.


"mungkin pelayan lupa, Tuan..."


Reina mengenali suara pria satunya yang merupakan salahsatu pengawal yang sering mengekori Kenzo kemana pun pergi.


"tegasi mereka!" bentak Akira marah.


Padahal itu semua ulah Reina, kasihan pelayan yang tidak tahu apa2!


"maaf Tuan Akira, tamu anda di villa belakang tidak mau makan sampai malam ini.."

__ADS_1


"aahh gadis itu menyusahkan saja!"


"gadis? siapa?" batin Reina penasaran.


Begitu mendengar derap langkah yang menjauh, Reina keluar dari persembunyiannya.


Ia mengikuti Akira dan pengawal menuju keluar villa utama dan menuju ke arah belakang villa.


Tampak Villa yang tak terlalu besar berada di sana.


Reina semakin penasaran dan terus mengikuti Akira.


Para pengawal yang melihat kedatangan Akira bergegas mengikuti masuk ke dalam, yang membuat Reina memiliki kesempatan untuk mendekat ke arah villa itu.


Reina berjalan mengendap ke sisi samping villa dimana terdapat jendela disana.


"kenapa kamu selalu menyusahkan!"


Terdengar teriakan Akira dari dalam membuat Reina tersentak kaget.


"isshhh ternyata si asisten datar bisa berteriak juga!" dumal Reina mengelus dadanya karena kaget.


"kamu yang menculikku, wajar kalau aku merepotkanmu!"


suara ini! Reina menutup mulutnya dengan kedua tangan.


*****


"anda belum tidur Tuan?"


Edward melirik sekilas asistennya.


"aku tidak bisa tidur memikirkan Ayah yang pasti sedang marah besar!" gumam Edward


Willy sampai bergidik ngeri mendengarnya.Dia benar2 takut hanya membayangkan saja, Tuan Besarnya marah.Kemarahan ketua klan mafia besar benar2 menakutkan!


Edward menghela napas mengingat saat tadi ia menjadi saksi pernikahan kakaknya.


Edward sampai tak bisa berkata2, kakaknya berani melangkah menikah tanpa restu Ayahnya hanya karena menolak untuk dijodohkan.


Gadis bandara bisa meluluhkan kakaknya.


Edward tak memungkiri, kecantikan Reina memang membuatnya terpesona.


Gaun pengantin dan dandanannya yang sederhana malah membuat kecantikannya semakin terpancar.


"apa kamu tidak curiga dengan pernikahan kakakku?" tanya Edward teringat wajah si pengantin wanita yang seperti tertekan dan terpaksa.


"apa Tuan ingin saya menyelidikinya?"


"tentu dan jangan sampai ketahuan, kakakku bisa membunuhmu.." angguk Edward.


"baik, Tuan...selamat beristirahat.."


*****


Jadi si asisten datar itu menculik Dena?bahkan berani sekali ia membentak Dena! Tak bisa dibiarkan!! geram Reina hendak memasuki villa dengan amarah memuncak.


Hampir saja ia meraih pegangan pintu, sebuah tangan menarik pinggangnya kuat.


"apa yang kau lakukan disini?!"


Suara menggelegar yang membuat Reina ketakutan setengah mati!

__ADS_1


*****


__ADS_2