
Edward duduk berhadapan dengan Kakei.
2 pria dewasa yang sama2 menatap tajam, membuat Dena dan Reina saling melirik satu sama lain.
"well...aku ingin mendengar penjelasanmu kakak ipar," ucap Edward memulai pembicaraan.
Siang yang terik, keempat orang dewasa itu saling duduk berhadapan di set kursi taman yang berada di gazebo samping kolam renang mansion Edward.
"aku sudah mengatakannya padamu, Ed....Kakei tidak sejahat yang kau kira selama ini..."
"asal kakak tahu, dia pernah mencoba membunuhku dulu saat...."
"saat kau menjadi 'bagian' klan Iwasaki?"
Reina langsung menembak telak Edward, membuatnya langsung terdiam.
"aku sudah tahu semua,Ed..."
Dena meraih tangan Edward dan menggenggamnya erat.
"sekalipun kau bukan bagian dari mereka lagi, aku tetaplah keluargamu..."
Kakei duduk bersandar sambil melipat tangannya di depan dada.
"kembalilah kakak ipar, Kak Kenzo tak pernah berhenti mencarimu selama ini..."
Reina tersenyum dan menggelengkan kepalanya perlahan.
"aku hanya akan kembali untuk mengambil putra2ku, dan aku akan pergi lagi, jika perlu selamanya dari klan Iwasaki..."
"Rei...apa kau sudah yakin?"
"Tentu saja, Dena, aku bukan menantu yang mereka inginkan...untuk apa aku bertahan? Lagipula, kakak Edward juga akan meresmikan pertunangannya.."
Edward tersenyum masam.
"kini kau sudah menjelma menjadi menantu idaman, kakak ipar..."
"Ya, dan semua itu karena Kakei dan Tuan Yamaguchi yang kini menjadi Ayah angkatku..."
Edward dan Dena saling memandang.
"baiklah, kakak ipar...aku akan selalu mendukungu, meskipun aku masih berharap kau akan kembali dengan kakakku..."
"aku tidak akan pernah kembali padanya, karena aku sudah terlalu banyak tersakiti saat bersamanya...."
********
Akira menatap Tuannya yang tampak merenung melihat beberapa lembar foto yang tersebar di atas meja kerjanya.
Saat ini mereka berada di mansion pribadi Kenzo, tanpa ada anak2.
__ADS_1
Tuan Iwasaki senior menjaga cucu2nya sangat ketat, bahkan melarang mereka untuk pergi keluar dari mansion utama selain untuk ke sekolah meskipun ke mansion pribadi milik Ayah mereka sendiri.
Kenzo memejamkan mata seraya menyandarkan tubuhnya ke kursi kebesarannya.
"Nyonya Muda saat ini berada di London,Tuan...dan besok pagi akan kembali ke Osaka.." lapor Akira kembali menyerahkan map berisi laporan2 hasil pasukan khusus milik Kenzo.
"kami masih menyelidiki keberadaan klan Yamaguchi yang bersama Nyonya,..."
Kenzo membuka mata birunya.
"apakah mereka ada hubungannya dengan menghilangnya istriku?"
"kalau menurut saya, mereka kemungkinan terlibat,Tuan....mengingat selama 6 tahun ini, Nyonya seperti hilang di telan bumi...hanya klan Yamaguchi yang memiliki kekuatan setara dengan klan kita..."
Kenzo menatap potret Reina.
Reina yang cantik tampak memakai baju seperti gadis belia.Kemeja hitam kebesaran dipadu hotpants yang memamerkan kaki jenjangnya yang mulus.
Rambutnya diikat asal ke atas, dengan kacamata hitam untuk menyamarkan identitasnya.
Penampilan yang benar2 mencerminkan pribadinya, bebas, tidak ada kekangan.
Kenzo tersenyum miring saat pandangannya jatuh ke potret tangan Reina yang berhias cincin berlian di jari manisnya.
"aku akan ke mansion utama, siapkan mobil.."
"baik, Tuan...."
********
"tidak biasanya kau menyambut Daddy?"
Kenzo meraih tangan putranya dan menggandengnya.
"Aunty Kanami datang bersama kakek Ryujin,"
Kenzo berhenti melangkah dan memandang putranya.
"Aunty menangis dan berkata akan bunuh diri jika tidak menikah, aku bingung Daddy..."
Kenji tampak menggeleng2kan kepalanya.
"Dimana kakakmu?"
"kakak berada di kamar karena tidak mau bertemu dengan Aunty dan kakek Ryujin.."
"ikutlah kakakmu, Daddy akan menyusulmu nanti," titah Kenzo seraya mengelus rambut putranya.
Kenji menganggukkan kepalanya dan berlari menaiki tangga, Kenzo mengawasi tubuh putranya itu sampai menghilang dibalik pintu kamarnya.
"Tuan, jangan menggunakan emosi..." kata Akira saat Kenzo hendak melangkah ke ruang keluarga.
__ADS_1
Kenzo hanya melirik tanpa berkata apapun, dan melangkah menuju ruang keluarga.
Pemandangan yang sudah tak asing lagi selama hampir 6 tahun bagi Kenzo.
Ayahnya duduk di sofa tunggal dengan wajah tegang, Ryujin yang duduk disamping putrinya berwajah merah menahan amarah, dilengkapi Kanami yang menangis terisak2 mencari simpati kedua pria lanjut usia yang bersamanya.
"apa kalian tidak bosan selalu dalam keadaan yang sama selama 6 tahun ini?"
Kenzo mencemooh orang2 yang kini menatapnya tajam.
"apa kau bisa menjelaskan ini?"
Tuan Iwasaki menunjuk Sakimoto yang langsung menyalakan televisi berlayar 100 inch.
Disana terpampang berita tentang Kenzo dan Kanami dengan wajah di blur.
Lengkap dengan video saat Kanami keluar dari kamar hotel disusul Kenzo beberapa saat setelahnya.
Kenzo hanya menatap jemu.
"Ayah tidak mau tahu, akhir minggu ini kalian harus bertunangan dan sebulan kemudian acara pernikahan kalian!!" teriak Tuan Iwasaki.
Kepalanya terasa pecah karena memikirkan bisnisnya yang semakin terpuruk ditambah lagi dengan berita tak senonoh yang menghias hampir semua media massa.
Akira memandang Tuannya yang tampak datar tanpa ekspresi apapun.
"terserah Ayah saja, aku sudah tidak peduli!"
Kenzo memutar tubuhnya dan berjalan keluar dari ruang keluarga, dan Akira pun buru2 mengikutinya.
"Tuan,...apakah anda yakin?"
Kenzo menghentikan langkahnya diujung tangga.
"ini salah satu cara memancing Nyonya mu keluar dari persembunyiannya.."
"mak-maksud Tuan?"
"undang semua relasi bisnis kita untuk menghadiri acara sialan besok,"
"apakah termasuk klan Yamaguchi?"
"tentu, jadikan mereka tamu istimewa kalau perlu,"
Akira memandang Tuannya bingung.
"menginap saja malam ini, kita bicarakan rencana kita setelah anak2 tidur,"
"baik, Tuan..." angguk Akira
Kenzo pun menaiki tangga menuju kamar kedua putranya.
__ADS_1
********