Deviasi

Deviasi
#part 82


__ADS_3

Acara pertunangan berakhir dengan suasana yang menegangkan.


Tuan Iwasaki langsung pergi begitu saja, meninggalkan Ryujin dan Kanami tanpa sepatah kata apapun.


Begitu juga Kenzo yang langsung menyusul pergi begitu Akira datang dan membisikkan sesuatu.


"dasar! Ayah dan anak sama saja!" umpat Ryujin


"sabar, Pa...yang penting aku sudah maju selangkah, tinggal selangkah lagi untuk menjadi Nyonya Besar..." kata Kanami tersenyum melihat jari manisnya yang tersemat cincin berlian.


"kau harus segera menguasai mereka! Mereka sudah sangat tidak menghargai keberadaan kita!"


Ryujin tampak bersungut2 dengan emosinya.


"iya, Pa....tenanglah..."


Kanami meraih tangan Ryujin dan menggenggamnya erat.


"percayalah padaku, Pa..."


*******


Reina berjalan mengendap2 keluar dari kamar begitu ia selesai mengganti gaunnya dengan kemeja kebesaran milik Kakei dipadu hotpants super pendek yang memamerkan paha mulusnya.


Karena cuaca buruk di Osaka, kepulangan Kakei dan Reina diundur besok pagi, dan membuat mereka terpaksa menginap dihotel semalam ini.


Kakei menyewa Presidential suite hotel yang letaknya tak jauh dari hotel milik Iwasaki grup.


Dan malam ini, Reina ingin menikmati malam di club yang menjadi fasilitas primadona hotel ini.


Letaknya di lantai yang sama dengan kamar Reina, berada di lantai teratas gedung.


"mau kemana?"


Reina langsung menegakkan tubuhnya.


Lampu2 yang semula disetting Kakei dengan nuansa redup seketika menjadi terang benderang.


Reina menyugar rambutnya sebal.


"aku mau ke club sebentar..." kata Reina sambil meringis gugup mendapat tatapan tajam dari Kakei.


Kakei menaikkan alisnya melihat penampilan Reina yang bak gadis ABG.


"masuk kamarmu!" titah Kakei galak

__ADS_1


"Oh, ayolah.....sekali ini saja...." rengek Reina


"aku tidak mau mengambil resiko!" tolak Kakei mentah2


"isshhh.....aku sudah dewasa Kakei!"


"penampilanmu sekarang saja seperti ABG!"


"aarrrgghhh!!!" teriak Reina membuat Kakei sampai menutup telinganya.


"aku tetap akan pergi!" teriak Reina dan berlari keluar ruangan.


Reina berusaha berlari sekencang mungkin sebelum Kakei mengejar bersama para pengawal.


Reina berhenti di ujung lorong saat merasa keadaan aman.


"aisssshhh....capek sekali..." dumal Reina.


Sesaat ia menatap pantulan dirinya di cermin dinding setinggi tubuhnya.


Reina merapikan rambutnya dan memantas dirinya sebelum melangkah ke dalam club.


Suasana club lumayan ramai, beberapa orang tampak bergoyang di lantai dansa mengikuti irama musik dari DJ.


Reina melangkah ke arah meja bar, yang langsung disambut dengan senyum cerah bartender.


"kau bertanya atau menghina?"


Si bartender pun terkekeh mendengar balasan Reina yang galak.


"disini tidak ada smoothie, Nona manis..."


Reina langsung mendelik yang langsung disambut tawa renyah bartender.


"racikkan saja minuman paling enak, dasar stress," dumal Reina.


Reina memutar kursinya menghadap ke lantai dansa, melihat suasana yang semakin malam bertambah ramai.


Tanpa Reina sadari, diruang VIP room, yang berada dilantai 2, melalui dinding kaca, 2 orang pria dewasa tengah mengawasinya.


"rasanya seperti dejavu..." seringai Kenzo


Akira menatap Tuannya, kemudian mengalihkan ke arah Nyonya Mudanya yang sedang duduk dikursi menikmati minuman yang disodorkan bartender.


Ya, Akira mengingatnya.

__ADS_1


Hampir sama dengan kejadian yang telah lampau.


"apa Tuan akan mengawasi saja dari sini?" tanya Akira melihat saat seorang pria mendekati Nyonya Mudanya.


"kupikir terlalu cepat jika menculiknya sekarang, apalagi si pecundang itu berada disini.."


kata Kenzo tak lepas menatap Reina yang tampak mengelak dari jangkauan tangan si pria hidung belang.


"Nyonya sudah benar2 berubah.." gumam Akira


Kenzo hanya diam tanpa sedikit pun mengalihkan perhatiannya pada Reina.


Sementara itu, Reina menahan tangan pria hidung belang yang mencoba mengelus pipinya.


"berhenti disitu atau aku patahkan tanganmu, sialan!" desis Reina menatap tajam ke arah lawannya.


Si pria tampak pias, bukan karena tatapan tajam Reina, tapi 2 orang pria berbadan besar berpakaian serba hitam yang berdiri tak jauh dari Reina sedang menunjukkan pistol dari balik saku jas mereka.


Si pria hidung belang pun memilih mundur, karena tahu pasti Reina bukan wanita sembarangan jika diikuti pengawal bersenjata.


"ayo kembali ke kamar,"


Reina tersentak kaget.


Kakei sudah berdiri di belakangnya.


Berpakaian serba hitam.Tampan.Tapi seperti setan.


"ayo berdansa sebentar...musiknya enak,"


Reina menarik tangan Kakei menuju lantai dansa bergabung dengan orang2.


Reina mulai menari mengikuti irama musik yang menghentak, membuat tubuh bergoyang dengan sendirinya.


Kakei sampai terpesona melihat bagaimana Reina meliukkan tubuhnya dengan seksi, seakan mengundang semua orang untuk mengagumi kecantikannya.


Kenzo yang masih mengawasi Reina sampai mengepalkan tangannya erat.


"dasar liar!" teriak Kenzo marah melihat bagaimana semua orang mengalihkan pandang ke arah Reina dengan kagum.


"Tuan.....sepertinya Nyonya harus kita bawa pergi secepatnya, jika tidak, Tuan Muda Yamaguchi bisa benar2...."


"atur semuanya, aku tidak ingin sampai pecundang itu menyentuh istriku!"


"baik, Tuan..."

__ADS_1


**********


__ADS_2