Deviasi

Deviasi
#part 14


__ADS_3

"Reina??"


Reina menoleh ke arah suara yang memanggilnya.


"Bibi Maya," Reina menatap wanita paruh baya bertubuh tambun yang merupakan tetangganya itu.


"kamu kemana saja? lama bibi tidak melihatmu?!"


"aku tinggal di mess 'bi..karena hotel sedang ramai.." bohong Reina


"Ooh..."


"aku mau masuk dulu ya bi.." pamit Reina buru2 karena malas dengan tetangganya yang hobi bergosip itu.


"kamu mau bersih2 ya? rumahmu pasti banyak debu setelah orang tuamu pergi.."


"pergi?" kernyit Reina


"iya.. Ayah ibumu kan sudah lama pergi setelah dijemput beberapa orang asing..."


"apa?" Reina membulatkan matanya


"iya...bibi kemarin bertanya dengan yang menjemput orangtuamu...pria tampan, matanya sipit dan kulitnya putih.."


Jangan2 Akira yang dimaksudnya? batin Reina


"apa dia calon suamimu? dia bilang akan membawa orangtuamu ke rumah baru sebagai mahar pernikahanmu..."


Reina terperangah mendengarnya.


"suamimu orang kaya ya? dilihat dari penampilannya sih...pakai jas, mahal.."


Reina tak mampu berkata apa2 lagi, mendengar tetangganya yang terus saja berbicara.


"besok anak bibi mau melamar ke hotel tempatmu kerja biar bisa dapat suami kaya sepertimu!"


"semoga 'bi ..." senyum Reina kemudian bergegas masuk ke dalam rumah dengan kunci serep yang diberikan Ayahnya.


Rumahnya sepi, Reina memandang ke sekeliling.


Benar, banyak debu dimana2, batin Reina, menghela napasnya sedih.


Orangtuanya kini ikut terlibat dalam masalahnya.


Kemana Akira membawa pergi orangtuanya? Reina mendadak pusing memikirkannya.


Diambilnya ponsel dalam tas nya dan menghubungi Dena.


"apa kau sudah sampai dirumah Rei?"


"iya...orangtuaku pergi.."


"apa kau punya petunjuk kemana orangtuamu pergi?" seru Dena dari seberang


"aku tak tahu...tapi aku tahu siapa yang membawa orangtuaku pergi.."


"siapa?? jangan katakan..."


"Akira yang membawa orangtuaku pergi!"


Reina terisak menangis, sudah tak tahu lagi apa yang harus dilakukannya.


"aahhh sialaann.." teriak Dena dari seberang


"aku harus apa...lelaki itu sudah membuatku tak berkutik sebelum melawannya!" tangis Reina


"tenanglah Rei...pasti ada jalan keluarnya..."


Reina semakin mengisak keras, mengingat kedua orangtuanya yang ia tak tahu keberadaannya.


"jangan menangis Rei...pulang dulu ke kost, kita pikirkan bersama.." hibur Dena.


"iya..setelah bersih2 aku akan pulang.."


"baiklah...aku tunggu.."


Hubungan terputus.


Reina bergegas membersihkan rumahnya, mengambil beberapa baju2nya dan barang2 penting lainnya.


"Ayah ibu, pasti aku akan menemukan kalian.."


*****

__ADS_1


"Tuan..."


Akira memasuki ruang CEO tempat dimana Kenzo berada.


Kenzo hanya menatap asistennya sekilas dan kembali memandang keluar lewat dinding kaca dihadapannya.


"Tuan, apa yang akan anda lakukan? Tuan Besar marah2 seharian ini...." lapor Akira.


"biar saja dia marah2... besok aku akan kembali ke Indonesia, siapkan jet nya.."


"aku harus segera membuat hamil gadis liar itu.."


"apa anda benar2 akan melawan Tuan Besar?"


Akira membulatkan matanya tak percaya, sungguh Tuan Mudanya ini benar2 berani!


"cuma dengan cara ini perjodohan itu tak akan terjadi, sudah cukup hidupku di atur oleh Ayah,"


Akira hanya menatap Tuannya itu, dia begitu ngeri hanya membayangkan Tuan Besarnya mengamuk jika saja benar Tuan Mudanya berhasil menghamili Nona Reina.


"bagaimana keadaan gadis liarku?"


"Nona Reina tinggal di tempat temannya, kemarin dia pulang ke rumah orangtuanya..."


"sesuai dugaanku.." Kenzo menyeringai, membayangkan gadis liarnya mungkin marah2 dan juga menangis saat tahu orangtuanya tidak ada dirumah.


"orangtua Nona Reina aman Tuan, kapan anda akan mempertemukan mereka?"


"saat aku menikahinya karena hamil anakku.."


"apa Tuan serius?"


"kapan kamu melihatku main2 Akira?"


Akira menelan salivanya takut ditatap mata biru itu.


"baiklah, jika tidak ada yang lain, saya akan menyiapkan jet pribadi Anda Tuan.."


Kenzo mengangguk dan mengibaskan tangannya supaya Akira segera pergi dari ruangannya.


*****


"kepalaku pusing Dena..." keluh Reina


Kedua gadis itu tidur2an di karpet ruang tamu kost Dena.


"aku hanya takut orangtuaku tidak ada di negara ini.." getir Reina mengacak2 rambutnya


"sekaya apa pria itu, bisa berlaku seenaknya dinegara orang!" keluh Dena ikut mengacak2 rambutnya.


"yang pasti kaya sekali..."


Reina mengingat kembali bagaimana Kenzo memanjakannya dengan barang2 mewah dan perhiasan mahal.


Reina menatap jari manisnya yang melingkar cincin berlian pemberian Kenzo, berkedip mahal padanya.


"masa kita harus kembali ke hotel lagi untuk mencari petunjuk dimana kedua orangtuamu?"


"haaiiisshh aku tak mau kembali ke sana!"


"tapi kita tak punya petunjuk apapun.."


Reina menghembuskan napasnya kasar, semua jalan keluar yang dipikirkan hanya berakhir jalan buntu.


"kita sudah tak punya opsi lagi selain bertanya langsung pada Tuan Kenzo..."


Ingin rasanya Mitha berteriak, menangis meraung2.


Sungguh ia tak ingin lagi berurusan dengan pria bernama Kenzo itu !


*****


Sebuah mobil mewah melesat keluar dari arah Bandara dan membelah jalan raya yang tampak padat.


Kenzo menatap keluar jendela, dan kembali menekuni layar ponselnya.


Ada foto Reina disana.Tertidur miring, dengan tubuh polos yang terbalut selimut kusut.Rambutnya terurai menyebar dibantal.


Kenzo mengelus layar ponsel dengan ibu jarinya, seolah menyentuh Reina disana.


Gadis liarnya yang cantik, Reina yang selalu bertambah cantik usai bercinta panas dengannya.


"dimana posisinya?" tanya Kenzo tak melepas pandang dari foto Reina.

__ADS_1


"Nona masih berada di tempat temannya.. apa anda ingin menjemputnya..?"


"tidak , biarkan saja dia menikmati pelariannya sebelum aku kembali mengurungnya!"


Akira bergidik ngeri mendengar kata2 Tuannya itu.


Mobil melaju dengan kecepatan sedang menuju hotel tempat Kenzo menetap.


"Tuan Edward menelepon Tuan.." lapor Akira lagi


"terimalah.." titah Kenzo


"selamat malam Tuan Edward," sapa Akira


"dimana kalian? Aku mencari Kak Kenzo. "


"kami berada di Indonesia Tuan.."


"apa? tapi mengapa kalian pergi tiba2?"


"ada sesuatu yang harus kami selesaikan Tuan,"


"apa aku bisa bicara dengan kakakku?"


"tentu Tuan Edward, tunggu sebentar.."


Akira menyerahkan ponselnya pada Kenzo.


"ada apa mencariku?" tanya Kenzo datar


"kak...Ayah bisa marah.."


"aku tak peduli,"


"hari ini kita akan menjamu Tuan Ryujin dan putrinya..."


"kamu saja yang menjamunya, aku tak berminat.."


Terdengar Edward menghela napasnya berat.


"kak...apakah benar kamu memiliki kekasih disana?" tanya Edward ragu2.


"calon istri,"


"apa??"


"kenapa sejak pulang dari amerika kau berisik sekali? apa kau salah pergaulan disana?"


"kakak!"


"aku sibuk, telepon lagi nanti,"


Kenzo memutus hubungan telepon sepihak.


Edward yang berada di negeri Jepang menatap ponselnya penuh dengan rasa penasaran.


Kakaknya yang begitu dingin dan tampak tak minat menjalin hubungan dengan perempuan, baru saja berkata ia punya calon istri, seperti apa wanita yang bisa membuat kakaknya itu luluh?


Edward semakin penasaran.


"apa aku harus menyusulnya?" gumam Edward


"Tuan Muda, apakah anda di dalam?"


"Ya, masuklah.."


Sakimoto beranjak masuk ke dalam kamar pribadi Tuan Mudanya itu.


"apakah anda tidak bersiap? sebentar lagi tamunya datang..." lapor Sakimoto


"kakakku saja sudah pergi, untuk apa tamu itu datang?" tanya Edward


"Ya, Tuan Kenzo sudah pergi, benar2 mirip dengan Tuan Besar, berani melawan..." kekeh Sakimoto


"apa Ayah dulu juga dijodohkan?"


"Ya, Tuan Besar dulu juga hendak dijodohkan, tapi menolak karena sudah memiliki pujaan hati, yaitu ibu anda Tuan.."


"kakak mirip dengan Ayah.."


"iya...seperti pinang dibelah kapak, hahaha..."


"Saki..."

__ADS_1


******


__ADS_2