
"Tuan.."
Edward yang sedang menekuni sarapannya mengangkat wajahnya menatap Willy.
"ada apa?" tanya Edward sambil meraih gelas berisi air putih dan meminumnya perlahan.
"Tuan Kenzo akan meninggalkan kota ini siang nanti.."
"Oh ya? apa kakakku akan pulang ke Jepang?"
"sepertinya tidak, Tuan..menurut informasi Tuan Kenzo akan ke kota S, dan menetap disana untuk beberapa waktu.."
"kota S ? tapi untuk apa kakak disana?"
"mungkin mengurus hotel dan club yang baru dibelinya Tuan.." jelas Willy
Edward terdiam. Rasa penasaran semakin membuncah, memenuhi pikirannya.
"apa kakakku masih di hotel?"
"masih Tuan, sepertinya akan sarapan di resto hotel.."
"baiklah, aku akan menemuinya.."
Edward melap bibirnya dengan tisu sebelum beranjak keluar dari ruang pribadinya.
Edward mengikuti Willy keluar, menuju ke hotel tempat Kenzo menginap bersama para pengawalnya.
Hotel tempat mereka menginap tak berjauhan, hanya sekitar menempuh perjalanan selama 15 menit.
Mobil yang ditumpangi Edward berhenti didepan lobi hotel yang langsung disambut oleh petugas hotel yang berjaga di pintu masuk utama.
"selamat pagi Tuan, ada yang bisa saya bantu?"
"dimana resto hotelnya, aku ingin bertemu saudaraku,"
"baik, mari ikuti saya.."
Petugas hotel berbicara bahasa inggris dengan fasih dan ramah kepada Edward yang berjalan mengikutinya menuju resto hotel.
"maaf Tuan, apakah saya bisa mengetahui nama saudara anda supaya saya bisa cek daftar reservasinya..?"
"Kenzo,"
Petugas mengangguk dan berbicara dengan petugas resto.
"Tuan Kenzo berada di private room, silahkan.."
Edward mengangguk dan berjalan kembali mengikuti petugas resto hotel.
Tampak disana Kenzo sedang berada diruang private yang terlindung dengan dinding kaca kedap suara.
Edward mengernyit melihat kakaknya yang duduk menikmati sarapan bersama seseorang.
"tunggulah di sini Willy.." titah Edward yang dijawab dengan anggukan hormat Willy.
Petugas resto meminta izin Kenzo sebelum mempersilahkan Edward bergabung ke dalam private room.
"hallo kak," sapa Edward memasuki private room
Kenzo memandang adiknya yang tersenyum lebar sambil mendekatinya.
Reina yang merasa tak asing mendengar suara seseorang langsung menoleh.
Reina tertegun, begitu juga Edward.
"kamu...?" Edward memandang tanya ke arah Reina
Reina menjadi salah tingkah, kembali bertemu Edward disini.
Kenzo menatap bergantian Reina dan Edward.
"apa kalian saling mengenal?" selidik Kenzo
"ya,"
"tidak!"
__ADS_1
Reina dan Edward menjawab serempak dengan jawaban yang berbeda, membuat Kenzo semakin menyelidik.
Reina menunduk tak berani menatap mata biru Kenzo yang tajam penuh tanya ke arahnya.
"siapa dia kak?" tanya Edward penasaran
"calon kakak iparmu.." jawab Kenzo asal
"apa??"
Lagi2 Reina dan Edward serempak bersuara.
"Jadi dia kekasihmu? yang membuatmu menolak perjodohanmu dengan putri keluarga Ryujin?"
"apa?"
Reina menatap Kenzo sambil mengernyit.
Kenzo menyeringai, berbahaya.Ada sesuatu dibalik senyumnya itu.
"dia dijodohkan dan menolaknya karena aku?dia sedang merencanakan apalagi??" batin Reina ngeri
"aku harus pergi sekarang.." kata Kenzo beranjak berdiri dari kursi, mengulurkan tangannya supaya Reina ikut berdiri bersamanya.
Edward menatap Reina tak percaya, betapa gadis yang ada dihadapannya kini, begitu berbeda saat mereka bertemu di bandara.
Reina begitu cantik dengan gaun putihnya yang sebatas lutut, dengan perhiasan berlian yang berkelip di leher dan kedua telinganya.
Rupanya kakak benar2 memuja gadis bandara ini, batin Edward.
Kenzo menggandeng Reina keluar ruangan, yang langsung diikuti para pengawal.
"apa maksudnya kamu dijodohkan?" tanya Reina
Kenzo yang berjalan disampingnya hanya terdiam, terus saja melangkah.
"isshhhh menyebalkan!" dumal Reina menyentak lepas pegangan tangan Kenzo.
Reina berjalan mendahului Kenzo menuju lift yang akan membawa mereka kembali ke ruang Presidential Suite.
"ikuti dia, aku akan menemui adikku dulu," titah Kenzo pada para pengawal yang dengan sigap langsung terbagi 2 mengikuti Reina dan Kenzo yang meraih ponselnya dan menghubungi Edward.
"apa kau masih disana?"
"ya, aku baru akan pergi.."
"temui aku di lobi,"
"Ya kak,"
Hubungan terputus, dan Kenzo pun beralih menuju lobi hotel dan duduk di sofa yang tersedia di sana.
Edward menyusul tak lama kemudian, diikuti Willy.
"mana pengawalmu?"
"aku percaya pada Willy bisa menjagaku lebih dari pengawal.."
"naif sekali.. apa kamu tak sadar banyak yang mengincar nyawamu?"
"aku tahu..."
"lalu?"
Edward terdiam memandang kakaknya yang juga tengah menatapnya.
"baiklah.. besok aku akan bawa pengawal.."
"kapan kamu kembali?"
"esok lusa, kenapa?"
"apa ayah yang menyuruhmu kemari?"
"iya.." angguk Edward merasa salah tingkah dengan pertanyaan2 Kenzo.
"sudah kuduga.." gumam Kenzo
__ADS_1
"kapan kakak pulang?" tanya Edward memberanikan diri
"mungkin aku akan menetap sementara sampai bisnisku stabil disini.."
Edward terdiam.
"baiklah, jika tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, aku akan pulang ke hotel.." pamit Edward
Kenzo hanya mengangguk dan ikut berdiri mengantarkan Edward.
*****
Reina memandang pintu kamar yang terbuka.Kenzo muncul disana, sudah melepas jas dan melonggarkan dasinya.
"mana bajuku?" tanya Kenzo melepas dasi dan beberapa kancing kemejanya
Reina yang sedang tidur2an pun beringsut bangun dan berjalan ke walk in closet.
Reina mengambil 1 setelan baju, dan meletakkannya di atas ranjang.
"temani aku mandi.." titah Kenzo
"tidak terimakasih.." tolak Reina memilih duduk di sofa
"melarikan diri membuatmu jadi pembangkang,"
Reina hanya mengangkat bahunya tak peduli, membuat Kenzo semakin marah.
Kenzo berjalan mendekatinya, membuat Reina menjadi ketakutan.
Tanpa banyak kata, Kenzo langsung menarik Reina dan membopong tubuhnya.
"lepaskan aku, tunangan orang!" teriak Reina
"apa?" Kenzo menghentikan langkahnya.
"adikmu yang bilang kan kau dijodohkan??!" teriak Reina lagi.
Kenzo memandang Reina, setelah memahami kata2 Reina, bibirnya mengembang senyuman.
"apa aku ini milikmu?"
"heee?"
"apa kamu cemburu?"
"jangan bermimpi!" dumal Reina memalingkan wajahnya yang memerah.
"hamil lah anakku, biar aku jadi milikmu selamanya.." bisik Kenzo ditelinga Reina.
"aku bukan istrimu!" gerutu Reina berusaha meredam degub jantungnya.
"ayo kita menikah.."
"badanmu panas ya??" Reina mengulurkan tangannya menyentuh dahi Kenzo.
"panas sekali sampai butuh pelepasan.."
salah ngomong deh, batin Reina jengkel.
Kenzo melanjutkan jalannya menuju kamar mandi, dan menurunkan Reina di tepi bath up yang sudah terisi air hangat bercampur aromatherapy.
Kenzo menarik paksa kancing gaun Reina hingga berhamburan terlepas dan jatuh ke lantai.
Reina langsung menyilangkan tangan menutupi dadanya yang terbuka, karena Kenzo tak berhenti menatapnya.
"lepas sendiri atau aku..."
Ya Tuhaaann .... kenapa aku tak bisa melawan mata biru itu ! teriak Reina dalam hati.
Dengan menggigit bibir bawahnya, Reina perlahan melepas gaunnya dan pakaian dalamnya, ragu2 menyusul masuk Kenzo dalam bath up.
"milikku yang cantik..." desah Kenzo menarik tubuh Reina ke atas tubuhnya, hingga duduk berhadapan dengannya.
Kenzo memiringkan wajahnya, mengecup bibir Reina lembut dan berubah ******* kasar saat Reina terengah membuka bibirnya.
"remuk lagi tubuhku..." lirih Reina.
__ADS_1
******