Deviasi

Deviasi
#part 67


__ADS_3

Reina tersadar.


Bau obat-obatan terasa menyengat indra penciumannya.


Perlahan Reina mengerjapkan mata, mencoba fokus untuk melihat keadaan sekitar.


"dimana ini..." lirih Reina bingung


Tubuhnya terasa lemas.Kepalanya terasa berat.


Pandangannya berkunang2 saat mulai fokus melihat tempat dimana ia berada.


Reina berusaha sekuat tenaga untuk mencoba bangun.


Aarrgghhhh....ingin rasanya Reina berteriak keras2.


Satu hal yang langsung menarik perhatian Reina.


Tidak ada lagi yang menghalangi pandangnya saat berbaring.


Perut buncitnya sudah tidak ada!


"bayiku...."


Reina bingung setengah mati.


Jika perut buncitnya sudah kembali rata, lalu dimana baby twins nya ?


Bukankah perkiraan hari kelahiran baby twins nya masih seminggu lagi?


"to...tolong...tolong...." lirih Reina mengisak.


Ruang rawat rumah sakit yang mewah ini tampak lengang.


Reina seorang diri di ruangan yang dapat dipastikan ruang rawat kelas VVIP di rumah sakit ini.


"Ya Tuhan....."


Ingin rasanya Reina berteriak meraung - raung.


Sungguh rasa sakit di perutnya tidak sesakit rasa sakit hatinya.


Pasti Ayah Kenzo mengambil anak2nya.


Tiba2 pintu ruangan terbuka, rombongan perawat dan dokter menyerbu masuk.


"Nyonya, anda sudah sadar?"

__ADS_1


Seorang perawat mendekati Reina.


"dimana anakku...dimana..." isak Reina.


Dokter dan perawat pun saling berpandangan.


"baby anda berada diruangan bayi, Nyonya...Nyonya istirahat dulu untuk memulihkan tubuh..."


"bawa aku kesana!"


Isak tangis Reina membuat Dokter dan perawat pun iba melihatnya.


"Nyonya pulihkan tenaga dulu, pasti saya akan mengantar Anda kesana...."


Perawat mencoba menenangkan Reina.


"kenapa keras kepala sekali?!"


Tuan Iwasaki senior memasuki ruangan, membuat Dokter dan perawat menundukkan kepala.


"tinggalkan kami," titah Tuan Iwasaki


"baik, Tuan..."


Bergegas orang2 pun keluar, meninggalkan Tuan Iwasaki senior dan Sakimoto yang menjinjing sebuah koper.


"cucu2ku aman dalam pengawasanku, kau tak perlu keras kepala untuk melihat dan memastikan keadaan mereka,.."


Reina menatap Tuan Iwasaki dengan penuh kebencian .


"Saki, keluarkan dokumennya.."


Sakimoto pun berjalan mendekat ke arah ranjang pasien dimana Reina sedang terduduk lemah bersandar di headboard ranjang.


Perlahan Sakimoto menarik meja untuk makan yang tersedia di ranjang pasien.


Sakimoto meletakkan koper dan membukanya, mengeluarkan beberapa kertas dokumen.


"itu adalah dokumen berisi penyerahan sebagian harta kekayaanku untukmu karena sudah melahirkan cucu2ku, generasi ketiga klan Iwasaki.."


Sakimoto mundur selangkah saat Reina menunduk menatap kertas2 dokumen di meja di hadapannya.


"kau akan mendapatkan saham 25% dari seluruh jaringan bisnis klan Iwasaki di dalam atau pun luar negeri, villa beserta beberapa mobil mewah, creditcard tanpa limit, juga deposito dengan mata uang ¥ ,£ dan $ ..."


Reina menggigit bibirnya menahan rasa nyeri di dadanya.


"sebagai gantinya kau harus pergi, dan menyerahkan cucu2ku dalam pengasuhan dan pengawasanku!"

__ADS_1


Gila! Pria tua ini sinting !!


Reina memejamkan matanya, mencoba menahan airmata yang sudah mengancam untuk membobol keluar.


"anda pikir, anak2ku itu barang yang bisa di barter dengan kekayaan?"


Dengan berani Reina menatap Tuan Iwasaki yang juga tengah menatapnya tajam.


"jika aku meminta 100% saham milik klanmu yang terhormat, apakah Anda bisa mengabulkanya, Ayah....-mertua??"


Tuan Iwasaki melotot marah.


"dasar wanita mata duitan! Berani sekali kamu melunjak!!" teriak Tuan Iwasaki


"tidak bisa kan? Begitu juga aku,..."


Reina meraih kertas2 dokumen itu dan dengan perlahan menyobeknya dihadapan Tuan Iwasaki yang sudah merah padam menahan amarah.


Sakimoto pun ikut terkejut, kemudian tersenyum dalam diam.


Anda benar2 tidak salah memilih wanita ini menjadi pendampingmu, Tuan Muda...Nyonya Reina, adalah orang kedua yang berani menentang Tuan Besar...


Sakimoto tertawa dalam hati melihat Tuan Besarnya serasa ingin meledak.


"hartamu tidak akan pernah sebanding dengan anak2ku, buah cintaku dengan Kenzo, anak lelakimu..."


"kurang ajar sekali kau! Kau tidak tahu berhadapan dengan siapa HAH??!!"


"silahkan keluar, dokter memyuruhku untuk beristirahat, Ayah Mertua..."


Dengan marah Tuan Iwasaki menendang kursi tunggu hingga terbalik.


Tanpa bicara sepatah kata pun, Tuan Iwasaki keluar ruangan dengan membanting pintu.


Sakimoto menarik napas dan menghembuskannya perlahan.


"maafkanlah Tuan Besar, Nyonya....saya permisi, semoga Anda lekas pulih..."


Sakimoto menundukkan kepalanya hormat dan beranjak pergi.


Reina hanya menunduk dan terdiam.


Menggigit bibirnya keras2, menahan rasa sakit hati yang tak tertahan.


Aaaarrrrggghhhhhhhh !!!!


*********

__ADS_1


__ADS_2