
Reina terjaga merasakan silau mentari pagi yang menerobos sisi2 gorden yang tak tertutup rapat.
Reina menggeliat, meregangkan tubuhnya, seolah melepas penat yang menjalar di sekujur otot2 tubuhnya.
Beranjak untuk duduk di headboard ranjang, Reina pun menatap sekitar.
Kamar mewah bernuansa putih.
Sebuah vas besar berisi mawar2 putih kesukaan Reina menghias meja di sudut ruangan.
Reina pun turun dari ranjang, berjalan pelan ke arah vas bunga dan menghirup harumnya mawar putih yang segar karena langsung dipetik dari kebun.
Reina menggeser pintu kaca yang mengarah ke balkon, dan keluar.
Suasana sibuk para pekerja mansion tampak di bawah Reina.
Ya, Reina menginap di mansion utama milik Tuan Yamaguchi.
Sungguh betapa sayangnya seorang Tuan Yamaguchi kepada Reina.
Latar belakang Reina yang begitu malang, membuat Tuan Yamaguchi mengangkat Reina menjadi putrinya.
Dimanjakannya Reina dengan fasilitas2 mewah yang terkadang membuat Reina merasa jengah dan tak kuasa untuk menolaknya.
"selamat pagi, Nona..."
Reina memutar tubuhnya, rambut panjangnya yang berwarna cokelat pun terkibas seiring tubuhnya yang berputar.
"selamat pagi, Suki..."
"saya akan menyiapkan air mandi, Anda...Tuan Muda mengirim ini untuk Anda.."
Beberapa pelayan membawa paper bag yang pasti berisi gaun, sepatu, aksesoris dan tak lupa, set perhiasan.
"padahal baju2ku masih banyak yang belum aku pakai..." keluh Reina berjalan mendekat ke arah ranjang dimana banyak paper bag diletakkan.
"Anda adalah permata Tuan Yamaguchi..." kekeh Suki sambil menyiapkan perlengkapan kosmetik untuk perawatan tubuh dan wajah Reina.
"kedatangan Anda merubah mansion ini menjadi lebih hidup, Nona..." imbuh Suki
"benarkah?"
Suki mengangguk seraya tersenyum.
"mari, silahkan mandi, Tuan Besar sudah menunggu Anda untuk sarapan bersama..."
Reina mengangguk dan masuk ke dalam kamar mandi.
Reina pun mandi dengan cepat karena tak ingin Tuan Yamaguchi terlalu lama menunggunya.
Reina bersiap kurang dari setengah jam, dan kini berdiri menghadap cermin setinggi tubuhnya.
Reina memakai gaun setinggi lututnya.Berwarna biru berlin dengan hiasan pita dibawah dadanya.
Kalung dan anting berlian berkelip,menambah kesan mahal gaun yang dipakainya.
"flatshoes saja, aku masih malas memakai heels,"
tolak Reina saat seorang pelayan mengambil highheels berbahan beludru berwarna senada dengan gaunnya.
Reina tersenyum menatap pantulan dirinya di cermin.
Setelah merasa sempurna, Reina pun keluar dari kamar sambil menjinjing tas nya.
Tas keluaran terbaru dari branded ternama.
"selamat pagi, Papa..." sapa Reina begitu memasuki ruang makan dengan meja panjang yang sudah berisi berbagai macam makanan.
__ADS_1
Tuan Yamaguchi pun berdiri dari duduknya dan menyambut Reina.
"selamat pagi, putriku....apa tidurmu nyenyak?"
Reina mengangguk seraya membalas pelukan Tuan Yamaguchi.
"nyenyak sekali, Pa...Papa sehat bukan?"
"tentu sayang, Papa sehat sekali apalagi melihatmu secantik ini..."
Tuan Yamaguchi memegangi kedua tangan Reina, menatapnya penuh kagum dari atas ke bawah dan sebaliknya.
"aku cantik karena Papa..."
Tuan Yamaguchi tertawa senang.
"ayo kita sarapan, Papa sudah lapar..."
Reina mengangguk dan berjalan menuju kursi di samping Tuan Yamaguchi.
"kalian tidak menungguku?" protes Kakei memasuki ruang makan sambil mengancingkan jasnya.
Kakei mendekati Reina, mengecup puncak kepala Reina sebelum duduk di sampingnya.
"waktuku terbuang percuma hanya untuk menunggumu anak bandel," omel Tuan Yamaguchi.
Reina menepuk punggung tangan Tuan Yamaguchi lembut, sambil menggelengkan kepalanya pelan.
"hari ini aku harus bertemu klien, jadi berangkat lebih awal..." kata Reina sebelum Kakei membalas Ayahnya.
"aku akan mengantarmu," kata Kakei sambil menyuap potongan buah segar.
"ada sopir,"
"tidak! Aku yang akan mengantarmu!"
"turuti saja 'nak...dunia luar masih terlalu berbahaya untukmu, apalagi...."
Tuan Yamaguchi berhenti berkata oleh tatapan tajam Kakei, seolah mengingatkannya untuk tidak mengungkit masa lalu yang sudah pasti akan membuat Reina kembali down.
"aku putri Papa sekarang, aku kuat, dan Papa tidak perlu khawatir..." senyum Reina
Tuan Yamaguchi tersenyum.
"aku percaya padamu 'nak...kamu putriku yang kuat, wanita hebat.."
******
Bandara Osaka,
Akira berjalan disisi Kenzo diikuti beberapa pengawal dibelakang mereka.
Kedatangan mereka ke Osaka untuk mengurus masalah di perusahaan anak cabang mereka.
Kedatangan Kenzo benar2 menarik perhatian orang2 yang berada di bandara.
Apalagi rombongan mereka yang berpakaian serba hitam.
Semua terpana dengan Kenzo dan Akira yang berjalan didepan, dengan setelan jas mahal dilengkapi kacamata hitam yang bertengger dihidung mancung mereka, menambah kadar ketampanan mereka 2x lipat.
"kenapa tidak kai sterilkan bandara seperti biasanya..." keluh Kenzo merasa risih
"maaf, Tuan...besok akan saya sterilkan..."
"kamu ini semakin lama tidak becus bekerja!"
Kenzo mengomel seperti biasa seraya masuk ke mobil yang sudah menunggunya.
__ADS_1
Mereka akan langsung berangkat ke perusahaan.
Kenzo tak bisa berlama2 karena ia sudah berjanji dengan kedua putranya untuk meluangkan waktu libur 1 hari guna menemani keduanya.
Kenzo duduk nyaman dikursi penumpang, menyandarkan punggungnya dan menatap keluar melalui jendela mobil yang gelap.
Suasana kota tampak padat, kendaraan2 pun tampak ramai memenuhi jalan raya.
Trafficlight menyala merah, dan semua mobil pun berhenti hingga menyala hijau kembali.
Sebuah mobil SUV mewah berwarna hitam mengkilap berhenti di samping mobil Kenzo.
Kenzo mengawasi mobil di sampingnya dan terlintas dalam pikirannya untuk memiliki mobil serupa saat kembali ke Tokyo besok.
Dan napas Kenzo seakan terhenti saat perlahan kaca mobil diturunkan sebentar kemudian menutup lagi.
Wajah yang tak asing terlihat sekilas di sana.
Wajah yang amat sangat familiar baginya.
Wajah yang selama 5 tahun ini menghilang dari hidupnya.
Reina!
"hentikan mobilnya!" titah Kenzo menggelegar saat trafficlight menyala hijau.
"tapi, Tuan...kita harus berjalan karena..."
"aku bilang berhenti!!"
Dan tanpa aba2 Kenzo keluar dari mobil, mengundang kemarahan pengendara lainnya yang terpaksa menginjak rem mendadak karena terkejut dengan Kenzo yang tiba2 keluar dari mobil.
"Reina!!" teriak Kenzo berusaha berlari mengejar mobil SUV yang langsung berjalan pergi.
"Reina!!"
Kakei yang mengemudi melihat dari spion, tampak seseorang berlari mengejarnya.
"ada apa?" tanya Reina melihat Kakei yang mengemudi sambil sesekali melirik spion.
Kakei hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
"aku harus ngebut sebelum klienmu marah2,"
Reina terkekeh geli, dan melanjutkan kembali menatap tab nya.
Bagaimana bisa baji*ngan itu disini?! Sial! Aku harus menyembunyikan Reina!
Kakei pun menginjak pedal gas untuk menambah kecepatan mobilnya, supaya Kenzo tidak bisa mengejarnya.
"Tuan!!! Kenapa Anda gegabah sekali!! hampir saja kita kecelakaan!!" protes Akira menyusul Kenzo dan menariknya ke tepi jalan, sudah tidak peduli lagi Kenzo akan melubangi dahinya karena protesnya.
"Reina ada di sini, sialan!!"
"apa?"
"segera hubungi markas bawah untuk datang kesini!"
"Tuan, mungkin Anda salah lihat..."
"mataku belum rabun bo*doh!!"
"kita sudah mencari ke semua pelosok negara ini, Tuan..."
"jangan banyak bicara bang*sat! Lakukan perintahku sekarang juga!!"
*********
__ADS_1