
Deretan mobil2 mewah berhenti berjejer di halaman depan mansion utama.
Para pengawal pun bergegas turun dari mobil dan berbaris rapi di alur tangga menuju pintu utama mansion.
Satsuki menuruni mobil dan membuka pintu mobil di bagian penumpang.
Tuan Iwasaki senior pun menuruni mobil yang disambut dengan para pengawal yang membungkukkan tubuh mereka dengan hormat.
Tuan Iwasaki tampak mengernyit saat melihat mobil yang dikenalinya milik Edward, putra keduanya.
"selamat datang, Tuan Besar..." sambut Sakimoto berdiri di depan pintu utama.
"apa Edward di sini?" tanya Tuan Iwasaki
"benar, Tuan...Tuan Edward sedang bersama Tuan Kenzo," angguk Sakimoto menjawab
Tuan Iwasaki hanya memandang Sakimoto dan melanjutkan langkahnya memasuki mansion.
Sakimoto mengekor dibelakang Tuan Iwasaki menuju ruang kerjanya.
"apa yang terjadi selama aku pergi?"
"tidak ada, Tuan Besar....hanya Nyonya Muda minta temannya untuk menemaninya disini..."
"apa?"
"sahabat Nyonya Muda berada disini..."
Tuan Iwasaki tampak mengetatkan rahangnya.
"semakin lama semakin melunjak dia!" desis Tuan Iwasaki
Sakimoto hanya menarik napas dan menghembuskannya berat.
"bagaimana persiapan kelahirannya?"
"semua sudah siap, Tuan...sesuai yang anda pinta..."
"bagus! Aku ingin dia segera pergi dari sini!"
"Tuan....apa anda tidak kasihan dengan cucu anda nanti? Mereka pasti membutuhkan ibunya untuk 6 bulan pertama..."
"aku tidak akan memiliki semua ini jika terlalu banyak belas kasihan!"
Sakimoto kembali menarik napasnya dalam2 dan menghembuskannya perlahan.
"setidaknya biarkan cucu anda mendapat ASI eksklusif, Tuan..." kata Sakimoto lagi
Tuan Iwasaki sampai menaikkan sebelah alisnya.
"sejak kapan kau banyak tahu tentang bayi, pria tua??!" bentak Tuan Iwasaki senior.
"dari internet,Tuan..."
"internet banyak berita bohong!!" sanggah Tuan Iwasaki
Padahal bisnismu banyak berkembang karena internet, batin Sakimoto gemas.
"pokoknya jalankan rencana sesuai apa yang aku katakan kemarin! Begitu cucuku lahir, langsung pisahkan dengan ibunya!"
"Tuan...."
"semua sudah kau siapkan kan? Melihat banyak uang pasti wanita itu pergi dari kehidupan Kenzo!"
"sepertinya Nyonya Muda bukan wanita seperti itu, Tuan.."
"tahu apa kau?! Jangan2 kau sudah terpengaruh olehnya hah??!"
Sakimoto sampai mengelus dadanya.
"sudah sana pergi buatkan aku teh herbal!" usir Tuan Iwasaki sambil menggerakkan tangannya.
"baik, Tuan..." angguk Sakimoto sambil menundukkan kepalanya.
*********
__ADS_1
Reina mencoba bersembunyi saat mendengar suara langkah kaki yang mendekat ke arah pintu ruang kerja Tuan Iwasaki senior.
Sambil menutup mulutnya, Reina mencoba bersembunyi ke bawah anak tangga yang tertutup pohon palem hias.
Reina berjongkok disana.Menutup mulutnya untuk meredam suara isak tangisnya.
Ya, Reina tanpa sengaja mendengar pembicaraan antara Tuan Iwasaki senior dan Tuan Sakimoto.
Benar2 Reina sungguh tak menyangka, dia akan dibuang begitu anaknya lahir.
Dia akan dipisahkan dengan baby twinsnya.
Semua kebaikan yang ditunjukkan orang2 hanya kedok semata untuk merebut anak2nya.
Aku harus memberitahu Dena dan pergi dari sini, sebelum anak2ku lahir...batin Reina.
Melihat situasi aman,Reina pun berjingkat pergi ke sana, menuju lantai 2 dimana kamarnya berada.
Reina akan mengamankan barang2 berharga miliknya untuk menyambung hidup begitu pergi dari mansion utama.
"ada apa,Rei...?"
Dena tampak bingung saat berpapasan dengan Reina yang sembab.
Reina pun menarik tangan Dena untuk mengikutinya masuk ke dalam kamar dan mengunci pintunya.
"apa kamu tahu,Dena...baru saja aku mendengar pembicaraan Ayah Kenzo dan Tuan Saki.."
"pembicaraan apa?"
"mereka berencana mengambil bayiku,Dena...mereka ingin memisahkanki dengan anak2ku..." isak Reina.
"apa??!"
"kita harus segera berkemas dan pergi sejauh mungkin begitu ada kesempatan..."
"ta-tapi..."
"ayo, Dena, bantu aku!"
"apa Kenzo mengetahui hal ini?"
Reina menatap Dena dengan berlinang airmata.
"apakah aku masih bisa mempercayainya?"
"coba saja bertanya padanya..?"
"lalu? Bagaimana jika Kenzo tak jauh berbeda dengan mereka? Kenzo calon penerus kekuasaan..."
"Rei...."
"aku mohon....aku tidak bisa kehilangan bayiku..."
"kita tidak bisa pergi segampang itu,Rei...kita harus menyusun rencana..."
Tubuh Reina langsung luruh terduduk ke lantai yang beralas karpet tebal.
"apa yang harus aku lakukan, Dena...."
Reina mengisak lirih, perut buncitnya terasa kaku seolah baby twinsnya ikut merasakan perasaan Reina.
"dengarkan aku, Rei....hari kelahiran babymu masih sekitar 2 minggu lagi, kita masih punya waktu untuk menyusun rencana..."
Reina mengusap airmatanya yang tak berhenti mengalir.
"kita coba untuk memancing pembicaraan dengan Kenzo dan Eddy...hanya mereka harapan kita bisa keluar dari mansion ini, bila perlu kita keluar dari negeri ini..."
"apa mereka bisa kita percaya, Dena?"
"kita coba untuk percaya, aku tahu Kenzo begitu mencintaimu,Rei..."
Dena memeluk tubuh Reina yang masih saja terisak.
"aku akan mencoba...."
__ADS_1
"kita coba sambil melihat situasi...semoga Tuhan berpihak kepada kita..."
*******
Kenzo memasuki kamar setelah selesai membicarakan bisnis baru yang akan dirintis Edward di Nagoya.
Sinar matahari senja memasuki ruang kamar dari jendela2 besar yang tidak tertutup tirai.
Reina tampak terduduk di sofa yang berada di balkon kamar,.emandang ke arah taman mansion yang luas, berhias pohon2 tinggi dan besar.
"apa yang sedang kau pikirkan?"
Kenzo duduk di hadapan Reina, sedikit terkejut mendapati mata istrinya itu bengkak.
"kau menangis?" tanya Kenzo lagi sambil mengulurkan tangannya menyentuh pipi Reina yang halus
"iya...aku habis nonton drama..." senyum Reina
"kau bisa bodoh terlalu banyak menonton drama,sayang..."
"dan aku jauh lebih bodoh karena mencintaimu, Tuan..."
"apa?"
Kenzo menatap Reina dengan mata birunya yang tajam.
Reina menarik tangan Kenzo, memintanya duduk mendekat.
"apa anakku akan bermata biru sepertimu?" tanya Reina, mendekatkan dirinya masuk ke dalam pelukan Kenzo yang hangat.
"mungkin....yang pasti, mereka akan tampan sepertiku..." Kenzo tertawa senang
Rasanya tak sabar ia ingin bertemu dengan baby twinsnya.
Buah cintanya bersama Reina.
"apa aku bisa pulang ke negaraku?"
"apa?"
"aku ingin pulang ke negaraku..."
Kenzo melepas pelukannya.
"untuk apa kamu pulang? Kamu ingin berpisah dengan baby kita?"
DEG! Jantung Reina seakan berhenti berdetak mendengarnya.
"apa anakku tidak boleh melihat negaraku?"
"tidak tanpa persetujuanku,sayang..."
"kau tahu begitu berbahayanya diluar sana?"
Apa kau tak tahu betapa berbahayanya Ayahmu dan para antek2nya??? Jerit Reina dalam hati
"aku tidak bisa melindungimu jika kamu jauh dariku, sayang...tetaplah disampingku, dalam pengawasanku..."
Ingin rasanya Reina berteriak, menceritakan semua apa yang didengarnya.
Apakah Kenzo bisa percaya bahwa Ayahnya sendiri berniat memisahkan anak dan ibunya?
Apakah Kenzo akan berani melawan Ayahnya untuk membelanya?
Beribu pertanyaan memenuhi kepala Reina.
"jika aku bersikeras, apa kamu akan memisahkanku dengan baby twins?"
"apa kamu mau berpisah dengan mereka?"
Reina menatap mata biru Kenzo.
"lebih baik aku mati daripada harus berpisah dengan anak2ku...."
******
__ADS_1