
Reina duduk tenang di kursinya.
Dengan wajah datar, Reina menatap ke arah Kenzo dan Kanami bergantian.
Ya, pertemuan telah usai.
Semua anggota komisaris telah meninggalkan ruangan kecuali ketiga orang dengan hubungan yang rumit.
"well... jika tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, aku akan keluar..." kata Reina meraih tas tangan branded nya.
''baguslah kalau sadar diri untuk pergi dari sini," sahut Kanami dengan nada sinis.
Kanami duduk bersandar sambil bersedekap.
"kamu yang keluar!"
Kanami dan Reina sama2 mengalihkan pandang ke arah Kenzo.
"tak perlu kau usir, aku akan keluar," ucap Reina dengan senyumnya yang tenang.
"pergi!"
Kenzo menatap tajam ke arah Kanami yang langsung berubah pias.
Senyum angkuhnya langsung sirna.
"kau mengusirku?" Kanami berteriak marah
"keluar atau pengawal yang akan menyeretmu!"
Reina yang hendak berdiri pun mengurungkan niatnya, dan menatap pertunjukkan dihadapannya.
"kau mengusirku demi dia?"
Kanami menunjuk ke arah Reina yang duduk tenang.
"aku ini tunanganmu! Kita akan menikah sebentar lagi!!"
Kenzo pun menekan bel tak jauh dari meja.
Beberapa pengawal berpakaian serba hitam masuk ke dalam ruangan.
"aku akan mengadukanmu pada Ayahmu!"
Kanami langsung meraih tas tangannya dan berlalu pergi setelah menyentak tangan salah satu pengawal yang hendak menariknya keluar.
Pintu kembali tertutup.
Suasana pun berubah senyap.Dingin.
Kenzo duduk menghadap Reina.
Reina mencoba bersikap tak acuh saat Kenzo mengintimidasi lewat tatapan mata birunya yang tajam.
Mata biru yang sangat dibenci Reina, tetapi malah menurun ke kedua putra kembarnya.
"hampir 6 tahun, kemana saja kau pergi selama ini?" tanya Kenzo dingin
"itu bukan urusanmu, Tuan Kenzo Iwasaki..."
"tentu masih urusanku karena aku suamimu!"
"itu dulu," sahut Reina cepat
Kenzo menyeringai.Tampan, tapi menakutkan.
"aku tak pernah menceraikanmu, tak akan pernah!" desis Kenzo
"jangan membuatku tertawa, Tuan..."
__ADS_1
Reina tersenyum mengejek.
"lebih baik aku pergi, aku tak punya waktu berbasa basi disini!"
Reina pun beranjak berdiri.
"aku belum selesai, sayang...!"
Kenzo meraih tangan Reina dan menariknya hingga Reina terjatuh ke pangkuan Kenzo karena tidak bisa menjaga keseimbangan tubuhnya.
"lepaskan aku!" bentak Reina marah.
Kenzo menyerukkan wajahnya ke leher Reina.
"aku rindu sekali denganmu..." bisik Kenzo
Dihirupnya wangi tubuh Reina yang masih sama seperti 6 tahun yang lalu .
"lepaskan aku breng*sek!" umpat Reina
Kenzo menarik wajahnya dan menatap Reina.
"aku bukan istrimu !!"
Kenzo langsung menarik kepala Reina dan menyatukan bibir mereka.
Kenzo menci*um bibir Reina dengan keras.Buas.
Seolah dengan begitu ia menebus kerinduan selama 6 tahun bersama Reina.Istrinya.Miliknya.
Reina memberontak, memukuli bahu Kenzo.
Kenzo semakin bersemangat melu*mat habis bibir Reina.
Bibir yang selalu membantah dan memakinya, tapi membuatnya candu, untuk terus menci*umnya.
Kenzo melepaskan bibirnya saat dirasa Reina telah kehabisan oksigen.
Bibirnya bengkak.Mata hitamnya berkaca kaca.
PLAK!
Reina menampar keras pipi Kenzo saat berhasil turun dari pangkuannya.
"sudah cukup kalian merendahkanku!"
Kenzo mengusap bibirnya yang sedikit sobek dan mengeluarkan darah.
Wanita ini ! Ternyata masih saja liar ! Batin Kenzo.
Reina melangkah menuju pintu keluar.
Kenzo pun bergerak cepat meraih tubuh Reina sebelum tangannya memegang handle pintu.
Kenzo menghempaskan tubuh Reina ke dinding, hingga membuat Reina terpekik kaget dan kesakitan.
Kenzo meraih kedua tangan Reina dan mencekalnya keras.
"masih saja liar dan membuatku bersemangat untuk menundukkanmu!"
Kenzo kembali menyatukan bibir mereka.
Reina memberontak keras.
Tapi tenaga Kenzo lebih kuat.
Dengan mudahnya Kenzo menarik resleting gaun Reina hingga merosot turun dan berkumpul dipinggang Reina yang ramping.
Kenzo melepas ciumannya, menatap Reina yang tampak berusaha keras menghirup udara banyak2 ke paru2nya.
__ADS_1
Mata Kenzo berkilat penuh gai*rah saat memandang tubuh atas Reina yang terbuka, menampakkan kedua asetnya yang tampak lebih besar dibanding 6 tahun yang lalu.
"biarkan aku pergi!" bentak Reina lagi.
Kenzo hanya menyeringai.
Klik!
Terlepas sudah pelindung aset Reina.
Dengan cepat Kenzo memajukan wajahnya dan bertingkah seperti bayi yang kehausan dan kelaparan.
Reina memekik tertahan.
Kenzo menikmati kedua aset Reina berganti2.
Napas Kenzo memburu, terasa panas menghembus wajah Reina, saat Kenzo kembali memandang Reina setelah puas menikmati aset Reina.
Reina menggelengkan kepalanya saat tangan Kenzo menyusup ke balik gaunnya yang terangkat.
Kenzo dengan cepat melepas pertahanan terakhir Reina.
"lepaskan aku, baji*ngan! Demi Tuhan, aku benar2 membencimu!"
Reina terus saja memaki Kenzo.
Ruang pertemuan yang kedap suara tak mampu membantu Reina mencari pertolongan dengan berteriak2.
Reina menatap Kenzo ngeri saat pria itu menarik turun resleting celananya.
"bagaimana jika kita membuatkan adik untuk putra2 kita hemm?"
Kenzo kembali merapatkan tubuhnya.
"aku ingin anak perempuan yang cantik...bermata hitam sepertimu...." serak Kenzo menggigit pelan leher Reina.
"minta saja pada tunanganmu, pasti dengan senang hati ia akan membuka lebar2 kakinya untukmu!" teriak Reina.
Kenzo melepas cengkeramannya pada tangan Reina dan menarik wajah Reina, menahan teriakan Reina saat tubuh mereka kembali menyatu setelah 6 tahun berpisah.
Kenzo menggeram menahan kenikmatan tiada tara saat dirinya berada di dalam tubuh Reina seutuhnya.
Reina tak bisa lagi menahan tangisnya.
Sungguh, penghinaan Kenzo benar2 melukainya.
Kenzo mendiamkan dirinya, menikmati penyatuan dirinya dan Reina.
Kenzo menatap Reina yang menahan isakan dengan menggigit bibirnya.
"aku mencintaimu, Reina Iwasaki...."
Reina menatap nanar wajah Kenzo yang tampan.
Sebulir air mata membasahi pipi Reina.
Kenzo menghapusnya dengan ciumannya yang lembut.
"kembalilah padaku, kita mulai dari awal lagi..."
Kenzo tak mampu lagi menahan tubuhnya dan bergerak memiliki Reina dengan possesif nya.
Reina hanya mampu mencengkeram jas Kenzo hingga kusut.
Tak butuh lama, Kenzo memeluk erat tubuh Reina saat mencapai nirwana nya.
Reina mengisak dalam pelukan Kenzo.
"aku benar2 membencimu...."
__ADS_1
********