
London, Inggris
Reina menikmati sarapan bersama Tuan Yamaguchi dan Kakei di salahsatu resto ternama di pusat kota.
Beberapa pengunjung tampak mengalihkan pandang sesaat ke arah meja Reina berada.
Orang2 bergumam, penasaran dengan keberadaan Reina yang sarapan saja harus mengosongkan 3 meja di sekeliling mereka untuk para pengawal yang juga ikut sarapan.
"apa mereka kerabat keluarga kerajaan?"
"mana mungkin? Lihat mereka saja bermata sipit sepertinya mereka orang Jepang?"
"tapi wanita itu sangat cantik, seperti aktris saja.."
"mungkin juga dia artis terkenal, dan mereka semua staffnya?"
Kakei dan Reina tersenyum geli mendengar pembicaraan para pengunjung dengan aksen orang Inggris yang sangat kental tapi terasa sangat lucu ditelinga Reina dan Kakei.
"kalian ini kenapa?"
Tuan Yamaguchi memandang Kakei dan Reina heran karena terus saja saling menahan tawa.
"mereka mengira aku artis, Papa.." jawab Reina tak bisa menahan tawanya lagi.
Akhirnya Kakei tertawa juga mendengarnya.
"ada2 saja orang2 disini!"
"Reina sangat cantik, Pa...tak salah mereka mengira seperti itu..." timpal Kakei
Ya, Reina tampak cantik pagi ini.
Reina mengenakan gaun terbuka berwarna putih sepanjang mata kaki.
Rambutnya dibiarkan tergerai menutupi bahu dan punggungnya yang terbuka, menutupi tatoo burung phoenix dipunggungnya.
Kalung berlian melingkar dilehernya, begitu juga dengan tangan dan jari manisnya yang juga melingkar cincin bertahta berlian.
Cincin pernikahan Reina dan Kenzo, yang masih saja dipakai Reina.
Cincin yang selalu mengingatkan sakit hatinya, dendamnya, tapi entah mengapa Reina enggan untuk melepasnya.
Bruk!
Reina menoleh ke arah suara yang terdengar seperti benda jatuh.
Tampak seorang bocah lelaki kecil berambut cokelat tertelungkup di lantai yang tak lama kemudian terdengar suara tangisannya yang cempreng.
Reina pun segera beranjak dari duduknya dan mendekati bocah lelaki itu.
"hey, boy....don't cry..." kata Reina seraya meraih bocah itu dan membantunya bangun dari jatuhnya.
"mommyyy...." isak bocah itu.
Reina tertegun menatap wajah bocah lelaki yang sedang menangis itu.
__ADS_1
Mata biru ini...
"Daniel.... Are you okay?"
Tubuh Reina terasa membeku.
Suara ini...
Reina menggendong bocah itu dan memutar tubuhnya.
Reina pun kini berhadapan dengan seseorang yang sama2 terkejutnya dengan dirinya.
"Reina....? Kau kah itu?"
Dena menutup mulutnya tak percaya.
Reina hanya mengangguk.
"ta-tapi....kamu...sedang apa disini?"
Dena sampai tergagap saat memandang penampilan Reina yang jauh lebih cantik daripada saat bersama Kenzo dulu.
Penampilan Reina yang sekarang benar2 berubah menjelma menjadi wanita kelas atas.
"apakah dia...."
"Dia Daniel, putraku...."
"putramu?" Reina terkejut mendengarnya.
Si bocah pun meronta ingin digendong ibunya.
Dena meraih tubuh gemuk putranya dan memeluknya sayang, menghiburnya supaya tidak menangis lagi.
"lalu, kapan kau menikah? Sudah banyakkah yang terjadi yang tidak ku ketahui?"
Dena tersenyum.
"sudah 6 tahun berlalu Rei... Aku saja sudah putus asa mencari keberadaanmu yang seperti hilang di telan bumi,"
Reina menundukkan kepalanya.
"kau benar...."
"ayo, kita sarapan bersama..."
"aku...."
"sayang....kau berbicara dengan siapa?"
Dena dan Reina pun sama2 menoleh.
Dan kini seorang pria, berambut cokelat terang dengan mata biru nya yang membulat terkejut, berdiri dihadapan Dena dan Reina.
"ini, suamiku, ayah putraku, dia, adik iparmu...Edward..."
__ADS_1
Ingin rasanya Reina menangis keras.
Edward yang tampan dengan jeans dan kemeja hitam, serasi dengan gaun Dena yang juga berwarna hitam, menatap nanar sosok Reina yang kini benar2 berubah dihadapannya.
Reina yang semakin cantik, dengan aura kuat seorang pemimpin.
"well....bagaimana kabarmu kakak ipar?"
Edward tersenyum.Masih seperti dulu.Senyum yang ramah menghias wajah tampannya.
Setitik airmata jatuh membasahi pipi Reina.
"aku baik, Ed...." senyum Reina.
"bagaimana kalau kita duduk sambil menceritakan perjalananmu selama 6 tahun in"
"sudah saatnya kami harus pergi,"
Kakei menghampiri Reina dan meraih tangannya.
"kamu?!"
Edward membola tak percaya menatap pria yang kini berdiri di samping Reina.
"kakak ipar! Apa kau tidak tahu dia siapa??!"
Reina menarik napas dalam2.
"dia penolongku, Ed..."
"apa?"
"dia yang menolongku dari keterpurukanku..."
"apa maksudmu kak?"
"Kakei yang membantuku bangkit, hingga sekarang aku bisa berdiri dihadapanmu menjadi wanita kuat..."
"tapi dia musuh...."
"keluargamulah musuhku!"
"ta-tapi..."
"aku dipisahkan dengan anak2ku, bahkan suamiku bercinta dengan wanita lain disaat aku terpuruk!"
"kakak...."
"karena Kakei lah aku bisa bangkit dan berdiri disini, untuk membalas semua rasa sakitku!"
"tidak mungkin Kak Kenzo mengkhianatimu....Dia mencarimu selama ini...dan dia..."
"dan dia akan menikahi tunangannya, wanita yang diajaknya bercinta!"
"semua pasti salah paham....kak.."
__ADS_1
"aku akan membalas semuanya, dan merebut kembali anak2ku!"
********