
Reina menuruni tangga pelan2, untuk bergabung dengan Kenzo di meja makan.
Sengaja ia memakai piyama tidur dengan bahan satin, yang panjangnya hanya setengah paha, kakinya polos tak memakai apapun, hingga dapat merasakan dinginnya lantai marmer dibawah kaki telanjangnya.
Pasti suami durhaka ingin membalik meja saat melihatku dengan piyama, batin Reina geli.
Fuji sampai terkejut dengan penampilan Reina, apalagi sudah ada Tuannya yang menunggu duduk di meja makan.
Reina memandang Fuji dengan bertanya, yang membuat Fuji langsung menggeleng.
Reina memasuki ruang makan, menarik kursi dengan pelan hingga menyadarkan Kenzo yang masih fokus dengan tab di tangannya.
Kenzo menaikkan sebelah alisnya menatap Reina.
Reina pun duduk bersandar sambil menyibak rambutnya yang masih setengah basah.
Fuji bergegas memanggil para pelayan untuk menyajikan makanan.
"apa ini?" tanya Reina melihat piring berisi seperti sup dan tampak asing baginya.
"foie gras, Nyonya...." jawab Fuji tersenyum
"foie gras?" tanya Reina lagi bingung, karena ia benar2 tidak pernah tahu bahkan memakannya.
"iya...ini masakan dari olahan hati angsa.."
Kenzo menyeringai melihat reaksi Reina yang tampak pias.
"aku tidak mau, aku mau nasi goreng saja!"
tolak Reina mendorong piring dihadapannya menjauh.
Fuji tampak heran melihatnya, Nyonya muda nya menolak makanan mahal, apalagi ini salahsatu menu favorit Tuan Mudanya.
"baik, Nyonya...nasi goreng akan saya sediakan sebentar lagi.." kata Fuji begitu melihat Kenzo mengangguk untuk mengambil piring Reina.
"well, istriku banyak tingkah hari ini..." kata Kenzo pelan penuh tekanan sambil mengambil gelas air minum
"tidak sebanyak tingkah tunanganmu!" ketus Reina berani
"apa?" Kenzo menatap tajam Reina dibalik gelasnya.
Reina mengangkat bahunya, ikut meraih gelas air minum dan menyesapnya.
"selamat malam, Tuan..Nyonya.." sapa Akira yang memasuki ruangan.
Reina tersenyum dari balik gelasnya, membuat Kenzo menaikkan sebelah alisnya.
"persiapan upacara sudah selesai,Tuan..besok pagi kita bisa memulainya.." lapor Akira
"persiapan? upacara apa?" tanya Reina bingung
"terimakasih, Akira, kau bisa istirahat," angguk Kenzo tanpa mempedulikan pertanyaan Reina.
Akira mengangguk dan membungkukkan badannya hormat untuk mengundurkan diri.
Dengan tenang Kenzo menikmati makan malam tanpa peduli dengan tatapan penuh selidik Reina.
*****
"bangun!" teriak Kenzo menarik tubuh Reina untuk terbangun dari tidur nyenyaknya.
Reina langsung terlonjak kaget.
"segera bersiap!" titah Kenzo melihat Reina yang masih setengah sadar tampak bingung.
"kemana? ini masih pagi buta..."
__ADS_1
Reina menguap dan melihat jam di atas nakas masih menunjuk pukul 4 pagi.
"kenapa kamu banyak bertanya? bukankah sebagai istri harus selalu mematuhi perintah suami hemm??" Kenzo mencengkeram dagu Reina hingga mendongak kesakitan
"istri itu diperlakukan dengan lembut!" pekik Reina marah menahan sakit.
Kenzo melepasnya dan pergi keluar dari kamar.
"huh, dasar suami gila! pshyco!!" dumal Reina, mau tak mau beranjak bangun dan berjalan ke kamar mandi.
Tak butuh waktu lama, dengan berselubung handuk Reina keluar dari kamar mandi dan terkejut bukan main banyak pelayan wanita sudah menunggunya.
"mau apa kalian disini??" tanya Reina histeris
"kami akan membantu Nyonya bersiap,"
"aku bisa sendiri!!" tolak Reina galak
"perintah Tuan Kenzo adalah hidup dan mati kami Nyonya..."
"apa??" Reina tercengang tak percaya
"mari, kita harus cepat!"
Para pelayan segera mengerubungi Reina.
Hampir 1 jam para pelayan berkutat, menyanggul rambut Reina, me make up wajahnya dan yang terlama memakaikannya kimono.
Reina menatap dirinya di cermin dengan kagum.Dia tampak cantik dengan balutan kimono yang mewah, dengan motif burung phoenix, perpaduan warna emas dan merah yang menyala.
"mari Nyonya, saya bantu untuk turun ke bawah, karena Tuan sudah menunggu..."
Reina hanya menurut dan tidak membuat ulah, menggengam lengan salah seorang pelayan, perlahan berjalan keluar kamar.
Dengan hati2 mereka membantu Reina menuruni tangga.
Kenzo menghentikan bicaranya saat melihat Akira menunduk, memberi hormat.
Senyum miring menghias bibirnya melihat wanitanya begitu cantik dalam balutan kimono mewah.
"saya akan menyiapkan mobilnya, Tuan..."
Kenzo tak menggubris Akira, masih lekat menatap istrinya yang berjalan pelan2 menuju ke arahnya.
"aku tahu aku lebih mempesona dari tunanganmu itu!" dengus Reina sarkas.
Kenzo hanya menyeringai, lalu mengecup kening Reina.
"aku punya kejutan besar untukmu, sayang..."
*****
"kita mau kemana?" tanya Dena bingung melihat keluar dari jendela mobil.
Pagi2 buta kamarnya sudah diserbu pelayan wanita, membantunya mandi, dan bersiap.
Dan kini ia duduk manis di mobil, tak banyak bergerak karena ia memakai kimono.
Edward yang tampan dengan setelan jas mahal berwarna serba hitam duduk di sampingnya.
"kita akan ke tempat upacara sumpah kakak ipar.."
"sumpah? sumpah apa?" Dena semakin bingung
"sumpah jika kakak ipar akan bersama kakakku sampai mati.." jawab Edward kalem
"apa??"
__ADS_1
"kenapa kamu terkejut seperti itu?"
"apa yang akan kalian lakukan dengan Reina??"
"kakak ipar akan mengikuti serangkaian upacara, dan puncaknya adalah saat kakak ipar akan mendapat tato di tubuhnya.."
"tato?"
"ya...sebagai tanda ia sudah menjadi bagian dari klan kami.." angguk Edward tersenyum.
Dena menelan saliva nya takut, benar2 ketakutan.
******
Kenzo membantu Reina turun dari mobil.
"dimana ini?" tanya Reina bingung saat mobil berhenti di halaman luas sebuah rumah bergaya klasik Jepang.
"nanti kamu akan tahu, ayo.." ajak Kenzo
Mereka pun memasuki rumah yang sudah di sambut dengan banyak orang berpakaian serba hitam.
Reina semakin tidak mengerti karena dengan dipaksa mengikuti serangkaian acara.
Tubuhnya sudah terasa sakit, kakinya nyeri, karena harus berkali2 membungkuk dan berlutut.
Sebelum akhirnya, Reina dibawa ke dalam aula besar yang sudah diubah dengan sedemikian rupa, banyak orang sudah duduk di bawah.
Kenzo menunggunya, duduk bersimpuh di depan altar, bersama seorang pria tengah baya seperti biksu.
Tak jauh darinya duduk Edward dan Dena yang sudah pucat pasi.Akira dan Willy pun duduk di belakang Edward.
Dan Reina melarikan pandangnya ke pasangan paruh baya yang amat sangat dikenalnya.
"ayah...ibu...??"
Air mata merebak dan tumpah membasahi pipinya.
Jadi benar Kenzo yang menculik ayah ibunya??!
"silahkan Nyonya..." bisik pelayan wanita mengajak Reina duduk berhadapan dengan Kenzo.
Reina menatap ibunya yang sudah sesenggukan menahan tangisnya.
"apa yang kau lakukan??" pekik Reina saat Kenzo meraih sabuk kimono Reina dan hendak melepasnya.
Kenzo tak menjawab, tangannya terus bekerja melepasnya.
Reina menahan tangan Kenzo yang hendak menyibak kimononya supaya terbuka.
Kenzo menatap tajam Reina, mendapat penolakan, ia pun melirik Akira yang langsung berdiri dari duduknya dan berpindah tempat ke belakang orangtua Reina.
"menolaklah...dan akan ku kirim orang tuamu ke neraka..." bisik Kenzo pelan ke telinga Reina.
Reina membulatkan matanya, mengalihkan pandang ke arah orang tuanya yang tak mengetahui bahwa Akira sudah mengeluarkan sebuah belati.
"aku membencimu! aku membencimu Kenzo!!"
Kenzo menyeringai dan menyibak kimono Reina hingga terbuka memamerkan tubuh atasnya, dan langsung memeluknya.
Semua orang menahan napas melihat punggung terbuka Reina yang mulus.
Reina tak pernah dipermalukan seperti ini, banyak mata menatap tubuh atasnya yang terbuka.
Isak tangisnya berubah jeritan keras saat sesuatu yang tajam dan panas menembus kulit punggungnya.
Pandangan Reina mulai menggelap, tak terdengar lagi suara tangis ayah ibunya, juga Dena.
__ADS_1
Rasa sakit yang teramat sangat membuatnya tidak sadarkan diri.
******