Di Antara Perbatasan Senja

Di Antara Perbatasan Senja
Diary


__ADS_3

~ Lembar ke 7


Sudah beberapa hari ini aku tak bertemu dengan Jehan, gadis itu sama sekali tak terlihat meski aku mencarinya. Aku menduga jika dia menghindari ku, tapi karena apa ? apa mungkin karena pernyataan cinta yang aku ungkapkan padanya beberapa hari lalu.


Saat pak Egan menyuruhku memberitahukan kepada semua siswa jurusan IT membuatku sedikit senang, dengan begitu aku jadi punya alasan untuk pergi ke kelas Jehan, mungkin dengan kesana aku bisa melihat dan bertemu dengannya.


Pulang sekolah aku langsung menghampiri kelas Jehan, ya aku melihatnya, gadis itu duduk sambil fokus pada handphone nya, padahal tadi sempat melirik ku sekilas, namun kenapa dirinya tak peduli dan fokus dengan handphone nya sendiri.


Sakit, tentu saja, aku tau Jehan sedang menghindar, tatapan gadis itu sudah menjelaskan bahwa kini gadis itu memang menjauhi ku. Padahal aku sudah senang bisa dekat dengannya, namun melihat nya menghindari ku tentu membuat hati ku terluka.


Aku sadar sepenuhnya jika ini salahku, tak seharusnya aku mengungkapkan perasaanku yang hanya membuat hubungan kami merenggang.


Aku memutuskan untuk menunggu Jehan di kantin, aku akan berbicara dengannya. Setiap ucapan yang Jehan ucapkan membuat hatiku sakit, apalagi tatapan gadis itu yang terlihat tidak suka membuat ku terluka. Apa yang salah dengan perasaan ku, aku sendiri tidak bisa menahan rasa ini.


Namun seolah keras kepala, aku memaksa nya, meminta waktu darinya untuk memberikan ku kesempatan, Jehan menerima nya, meski aku tau dia tidak pernah mengharapkannya. Aku hanya berharap semoga suatu saat, aku bisa menggapai hatinya, memiliki nya, dan mendapatkan balasan atas perasaan ini, mesti itu terasa mustahil untuk terjadi.


______________________________________________


~Lembar ke 8


Hubungan dengan Jehan berjalan semakin baik, aku bahkan tak menyangka bisa sedekat ini dengannya, hubungan kontrak selama 4 bulan ini ternyata membawa banyak perkembangan.


Jehan juga tak lagi menghindar, bahkan bisa di bilang hubungan kami semakin dekat, gadis itu juga tak protes ketika aku selalu memeluk nya, mencium atau menggenggam tangannya.

__ADS_1


Setiap aku memberikan kata sayang Jehan hanya tersenyum malu-malu, itu membuatku gemas. Seperti ini saja sudah cukup, aku sungguh tak ingin Jehan pergi.


Aku mencintainya sungguh, aku lebih rela menjadi teman nya daripada dia menjauhi ku lagi, sungguh aku tak sanggup untuk itu.


Aku percaya jika takdir akan berjalan semestinya, gadisku pasti akan bahagia suatu saat nanti, dan aku akan terus berusaha untuk membuatnya bahagia, sebisa mungkin ya aku akan terus berusaha untuk itu.


______________________________________________


~Lembar ke 9


Lima bulan berlalu tanpa terasa, dan selama itu pula aku tak lagi bertemu dengan Jehan, gadis itu juga akhir-akhir ini sangat sulit di hubungi.


Saat pulang sekolah, aku berjalan sendirian di pelataran lantai atas, namun siapa sangka, aku bisa melihat Jehan, gadis itu kini sedang duduk di depan kelas sendirian. Aku pun menghampiri nya, karena jujur aku sangat merindukannya.


Ucapan dan sikap Jehan membuatku bingung, gadis itu terus mengeluarkan kata yang menyakiti hati.


Jehan pergi meninggalkan ku, hal itu membuatku secara spontan berlari mengejarnya, namun ya dia tetap pergi tanpa menoleh sama sekali. Semakin hari, Jehan semakin menjauhi ku, seolah tak mengenalku sama sekali, gadis itu selalu membuang muka setiap kami tak sengaja bertemu.


Hatiku selalu berdenyut sakit, setiap melihatnya dekat dengan laki-laki lain. Sampai tiba di mana aku melihat Jehan di cium oleh laki-laki lain, aku sudah tak dapat menutupi kecemburuan ku lagi, emosi ku meluap tinggi hingga tanpa berfikir dua kali aku menggendongnya dan membawa nya pergi.


Aku melarangnya dekat dengan laki-laki lain, ya meskipun Jehan tak akan mendengarkan, setidaknya dia tau jika aku tak pernah suka itu. Jehan mengatakan jika dia tak lagi menginginkanku, itu tentu saja membuat perasaan ku hancur. Perasaan ini semakin dalam, namun Jehan malah menghancurkannya begitu saja.


Aku memang begitu menyayanginya, bahkan aku rela melakukan apapun untuk gadis itu. Ya memang apa salahnya, aku hidup sendirian selama ini, tak punya sandaran dan tujuan, seolah hidup tanpa rasa, namun prinsip itu berubah semenjak aku bertemu dengan Jehan, aku jadi mempunyai sedikit semangat untuk maju.

__ADS_1


Namun sama seperti awal, Jehan menjauhi ku, meski berbagai cara aku lakukan untuk mendekat, dia juga selalu mempunyai cara untuk menjauh, hal itu membuat ku sadar, jika memang dia tak lagi ingin ini berjalan.


______________________________________________


~Lembar ke 10


5 Tahun kemudian... 17 Oktober 20__xx


Aku kembali datang setelah 5 tahun menghilang, aku membutuhkan ketenangan yang sudah beberapa tahun belakang tidak aku rasakan, aku kembali untuk kembali merenggut cintaku, ya aku memang tak pernah melupakan tujuan ku untuk hidup, bisa terus bersama dengan Jehan, hidup berdua adalah mimpi yang saat ini berusaha aku wujudkan.


Kini penampilan ku sudah berubah, wajahku pun berubah semakin tampan kata Gibran. Bahkan kata laki-laki itu, wajah ku yang sekarang amat sangat berbeda dengan wajah kecil ku dulu.


Kini, aku duduk di sebuah cafe bersama Gibran dan kedua temannya. Saat Gibran yang duduk di samping ku menyebutkan nama Jehan cukup keras, membuat jantung ku berdegup kencang. Aku sedari tadi hanya menunduk, karena belum siap untuk melihat nya lagi.


Mereka mengobrol ringan, terkadang Jehan menjawab singkat apa yang teman nya katakan, aku melirik sekilas, gadis itu tersenyum tipis yang terlihat begitu manis, sudah lama sekali rasanya aku tak melihat senyum itu, senyum yang selalu aku rindukan setiap saat.


Saat tatapan kami bertemu, senyum yang tadi menghiasi bibir Jehan menghilang, gadis itu terdiam seolah kembali tak minat. Aku benci sekali saat Jehan kehilangan mood nya karena diriku sendiri.


Saat teman Jehan bertanya namaku, Gibran menyahut, tapi aku dengan cepat memotong ucapannya dan memberitahukan nama tengah Ku, yaitu Kenzie. Aku sengaja, ini semua untuk menutupi semuanya agar rencana ku berjalan tanpa kendala.


Seolah paham Gibran mengajak teman-temannya meninggalkan ku berdua dengan Jehan, entah apa yang laki-laki itu lakukan hingga teman-temannya ikut pergi aku tak tahu, tapi yang pasti aku tak menyia-nyiakan kesempatan itu untuk mendekati Jehan.


Bahkan terkadang Jehan mencuri pandang kepadaku, namun aku pura-pura mengacuhkannya, meski aku tak ingin.

__ADS_1


______________________________________________


__ADS_2