
Satu Minggu berlalu tanpa terasa, ujian telah selesai, dan di sekolah di adakan class meeting. Jehan sering sekali memanfaatkan waktu class meeting untuk bolos sekolah, toh tidak mendapat pelajaran apapun, dia hanya melihat para siswa siswi melakukan lomba antar kelas, tidak ada yang membuat Jehan tertarik. Semuanya terasa sangat membosankan.
Seperti pagi ini, gadis itu masih terlelap mengarungi mimpi indahnya, jam sudah menunjukkan pukul 07.20 namun bukannya bangun gadis itu malah asik menutup tubuhnya menggunakan selimut.
Sudah sejak dua hari yang lalu dia bolos sekolah, mungkin guru tidak akan tau karena tidak memberikan absensi pada para siswa, karena sibuk menjadi juri di perlombaan class meeting antar kelas.
Pintu sedari tadi di ketuk, namun tidak sekalipun Jehan mendengar nya, bagaimana mau dengar, di telinga gadis itu terdapat handset yang membunyikan sebuah musik, kamar pun terkunci dari dalam.
Gadis itu memang sudah mengantisipasi sedari awal, jika dia tidak pintar maka mama nya akan terus pergi ke kamar nya hanya untuk menyuruhnya ke sekolah.
Handphone gadis itu berdering terus, musik sudah mati karena baterai handphone yang lemah. Jehan mengucek mata nya, melihat handphone milik nya yang lain yang berada di atas nakas yang masuk dalam fitur panggilan telefon. Juna memangil nya sedari tadi pukul 6 pagi.
"hoamm" Jehan menguap dan mengucek mata nya, dia menyimpan handphone lamanya yang dia gunakan untuk mendengarkan musik tadi.
"Jehan buka pintu nya, sampai kapan mau bolos terus" terdengar suara mama nya di luar sambil terus mengendor pintu, Jehan membuka pintu dengan rambut yang acak-acak kan seperti sangkar burung. Menatap mama nya dengan tampang nya yang menyebalkan karena baru saja bangun tidur.
Jika kalian bertanya, kenapa orang rumah tidak langsung membuka kamar dengan menggunakan kunci cadangan, hal itu tidak bisa di lakukan karena kunci cadangan khusus kamar itu semua Jehan sembunyikan.
"bener-bener ya punya anak gadis kelakuannya kaya bos besar saja, ini jam berapa. Buruan mandi ganti baju dan pergi ke sekolah" Jehan mengucek mata nya, membiarkan mama nya itu terus mengomel, gadis itu menggaruk dahi nya sebentar.
"udah telat lah mah, ngga lihat itu udah jam berapa" Jehan menerima segelas susu yang mama nya berikan, gadis itu menyesap nya sedikit. Rasa hangat mulai mengalir ke tenggorokannya yang kering.
"ya lebih baik telat, daripada kamu ngga berangkat. Udah sana cepetan mandi. Nanti mama yang antar ke sekolah" mama Jehan mendorong putri nya untuk masuk ke dalam kamar.
"kaya anak TK aja pakai acara di antar. Apa tanggapan anak-anak kalau tau seorang Jehan di antar ke sekolah" Jehan menutup pintu, mama nya kembali menyahut namun gadis itu sudah tidak mendengar nya lagi. Gadis itu menyambar handuk dan facial wash. Lalu mulai beranjak untuk mandi secepat kilat.
Setelah mandi Jehan menggunakan lotion untuk tubuhnya, memakai seragam, menyisir rambut, memakai parfum. Oke semua nya selesai gadis itu berjalan ke Walk-in closet menyambar jaket berwarna biru gelap, juga mengambil kunci motor di atas nakas, memasukkan hp dalam saku.
__ADS_1
Tidak perlu membawa tas toh tidak mendapat pelajaran juga. Turun tangga Jehan melihat mama nya yang sudah duduk rapi di sofa ruang tamu.
"biar mama antar" mama nya sudah berdiri, bersiap untuk mengantar sang putri semata wayang nya untuk pergi ke sekolah
"ngga ah mah, ngga nyampek nyampek ntar kalau mama antar" Jehan mencium telapak tangan ibu nya, lalu mencium wajah ibunya sebelum pergi.
"Je pamit ma" Mama nya hanya mengangguk sambil menggelengkan kepala nya.
Sampai sekolah jam sudah menunjukkan pukul 08.40 seenaknya bukan ? siapa jika bukan Jehan, gadis itu tidak ada takut-takut nya sama sekali. Banyak anak memandang aneh ketika menuju kantin, mungkin aneh karena dia baru berangkat. Jehan merapikan rambutnya lalu mulai membuka jaket nya.
"Jehan" Jehan tersentak saat Juna memegang lengannya, gadis itu berbalik dan melihat Juna yang berdiri sambil menatap nya datar.
Hening....
Beberapa detik kemudian, Pletak Jehan mengaduh sakit saat Juna menjitak dahi nya. Dia menatap Juna dengan tatapan kesal tapi laki-laki itu malah kembali melakukan aksi yang lebih gila. Laki-laki itu memeluk nya erat, sampai Jehan tidak dapat bernafas, karena kepala nya yang berada pada dada laki-laki itu dan di apit erat oleh lengan Juna.
"Kak Juna ih, ngga tau ya aku mau sekolah aja ngumpulin niat dulu, sekarang malah di ganggu. Tau gini tadi aku ngga usah sekolah" Jehan menarik tali ikat rambut nya, rambut gadis itu dia biarkan tergerai. Ulah Juna membuat rambut nya kusut seperti seseorang yang baru saja gelud.
Juna merebut ikat rambut Jehan lalu membalik tubuh Jehan, laki-laki itu mengikat rambut Jehan dengan gerakan pelan, Jehan berdecak mana bisa laki-laki itu mengikat rambut perempuan pikirnya.
Jehan berbalik ingin merebut ikat rambut nya, namun tubuhnya malah di tahan oleh Juna dengan cara menekan bahu.
"Diem" Jehan menghela nafas kesal
"nanti ngga rapi ih, kaya yang pintar ngikat rambut cewek aja"
"Kakak bisa, udah kamu diem makanya" mengalah, ya mungkin itu yang terbaik. Sikap Juna sangat menyebalkan hari ini, berada pada titik level puncak.
__ADS_1
Jehan yang merasa jika rambut nya telah terikat pun, ingin berbalik namun lagi-lagi di tahan oleh Juna, laki-laki itu kini memeluknya erat dari belakang. Oh good Jehan menggaruk tangan nya, laki-laki di belakang nya ini sebenarnya sedang ada masalah apa, kenapa tidak juga membebaskannya.
"kak" Jehan mencoba melepas pelukan, namun bukannya terlepas malah pelukan itu semakin erat
"kak Juna"
"apa sayang" Jehan tersedak, dia benar-benar merinding saat ini sungguh.
"Kakak lepasin Jehan, nanti ada yang lihat ih" andai saja yang memeluk nya bukan Juna sudah Jehan pastikan orang itu akan dia hajar habis-habis an kalau perlu Jehan bikin patah tangannya.
"ngga akan ada yang lihat, mereka pada sibuk lihat lomba"
"itu ada Cctv" tunjuk Jehan
"udah Kakak bikin eror tadi, setidaknya tidak akan berfungsi Sampai beberapa jam ke depan" Jehan menghela nafas
"kamu tau ngga apa salah kamu heum" Jehan mengernyit bingung, laki-laki itu membuat nya takut sungguh
"ngga" cicit Jehan, dia mengucapkan pelan sambil berfikir keras, apa kesalahan nya sebenarnya.
"dua hari ngga masuk sekolah, kakak chat ngga di bales, di telfon ngga di angkat. Jangan gitu Jehan" Jehan menghela nafas, ternyata itu kesalahan nya, apakah itu sebuah kesalahan ?
"memang itu sebuah kesalahan" tanya Jehan, Juna berdecak kesal tapi Jehan kan benar-benar tidak tau.
"kamu tidak merasa bersalah" tanya Juna, Jehan menggeleng, yang selanjutnya terjadi adalah Jehan memohon ampun karena tiba-tiba Juna menggelitik perut nya membuat Jehan merasa geli.
"ah kak ampun, Hua maaf Jehan salah. Lepasin Jehan" Gadis itu terus tertawa saat Juna semakin beringas menggelitik nya.
__ADS_1
"bikin kakak gelisah, tapi ngga ngerasa bersalah bener-bener ya kamu" Jehan tertawa dia mencoba menangkis tangan Juna yang sangat gesit membuatnya lemas.