
Johan mengandeng tangan Jehan ke arah parkiran, Jehan sadar akan lamunan nya tadi, gadis itu menarik tangan nya dari genggaman tangan Johan.
"apaan sih kamu Jo, kalau lagi ada masalah ngga usah seret-seret aku dong" Jehan menatap kesal ke arah temannya, dia benar-benar marah dengan tingkah Johan yang seenaknya, tidakkah laki-laki itu berfikir tentang perasaannya.
"maaf Je, aku bingung harus gimana tadi.Lagian aku ngga mau aja perempuan tadi berharap ke aku lagi. Jujur ngga nyaman Je di deketin sama orang yang ngga kita suka tu" ucap Johan sambil menatap Jehan, Jehan menghela nafas
"tapi ngga dengan kenalin aku sebagai pacar kali Jo, kamu tau ngga si aku udah punya Juna, gimana kalau perempuan tadi bikin masalah sama aku. Akh harusnya kamu ngga ngomong gitu" Jehan mengacak rambutnya frustasi, dia sudah berbohong lagi tadi kepada Juna. Jangan sampai hal ini menjadi masalah nanti.
Jehan melihat Johan yang terlihat sedih, taulah salah sendiri laki-laki itu berbuat sesuatu tanpa izin mana mengklaim bahwa dia pacarnya lagi.
"aku ngga tau harus gimana, maaf kalau aku salah" Jehan menghela nafas, sebenarnya ngga ada yang rumit. Toh dia sudah terbiasa juga mendapatkan musuh baru hanya dengan masalah sepele. Tapi yang jadi permasalahan nya bukan itu sekarang.
"Jehan" Jehan mematung, sedangkan ada seseorang yang menghampirinya, menatap nya dengan datar. Gadis itu menelan ludah, mengigit bibir nya karena ketahuan.
"sepertinya kamu suka banget ya sekarang berbohong, ya ngga papa sih sebenarnya kan kamu ngga anggap aku ada, ya maaf tapi aku ngerasa ngga di hargai banget. Masih banyak banget kebohongan yang kamu lakukan di belakang aku" Jehan menunduk, dia tidak berani menatap Juna yang berada di depannya. Kenapa laki-laki itu harus berada di sini. Jika begini kan semuanya jadi kacau.
"mungkin bagi kamu ini bukan hal yang penting, tapi jujur kakak kecewa Je" Juna menatap Johan yang terdiam, lalu menatap gadisnya yang menunduk. Tidak merasa bersalah bukan, sudahlah memang benar laki-laki sepertinya bisa apa. Jelas kalah jika harus bersaing dengan orang seperti Johan.
Juna pergi dari sana, dia sudah tidak ingin lagi berada di situ, toh apa gunanya jika Jehan hanya diam menunduk. Sedangkan Jehan yang melihat Juna pergi pun berniat untuk mengejar nya.
"bawa aja motor gw, gw mau pulang bareng Juna" Jehan berlari tanpa menunggu balasan Johan. Gadis itu mengikuti Juna yang masuk kedalam bus umum. Bus itu kosong mungkin sedang sepi. Ntah lah yang dia pedulikan sekarang hanya Arjuna.
__ADS_1
Gadis itu duduk di samping Juna yang tak juga menatap nya, di acuhkan seperti itu sungguh membuat Jehan merasa bersalah, gadis itu menggenggam tangan Juna namun laki-laki itu malah menarik tangannya. Jehan menggaruk kepala nya, dia harus apa sekarang tolong beritahu dia harus apa.
"kak Juna kalau marah jadi jelek deh" akhirnya ucapan itu yang keluar setelah sejak tadi mereka diam
"iya kakak emang jelek, beda sama laki-laki lain yang dekat sama kamu. Walau mereka marah sekalipun mereka tetap tampan begitu kan ?" jawab Juna dengan senyum sinis. Gagal, bukannya bicara baik-baik Juna malah menjawab dengan jawaban ketus seperti itu.
"siapa laki-laki yang deket sama aku. Cuma kak Juna doang kok" Jehan ikut menjawab ketus, ya kali dia terus menghiba, mengemis agar di maafkan oleh Juna. Tidak ada cerita dia mengemis maaf pada laki-laki. Walau dia tau dia salah.
"oh ya, yakin cuma kakak ? tadi kakak lihat lo laki-laki itu cium kamu. Itu ngga deket emang ?" jawab Juna masih dengan tidak menatap nya.
"kak Juna juga pernah cium aku, malah pas aku sadar. Udah lah kak ngga usah marah gitu, aku tau salah karena bohong tapi ngga usah berlebihan juga lagi." Jehan memutar bola matanya. Dapat gadis itu lihat, Juna yang menghela nafas, apakah salah nya separah itu ?
Juna yang melihat Jehan tertidur di bahu nya pun mencoba menggerakkan badannya. Laki-laki itu mencoba mengatur posisi tidur Jehan agar nyaman. Dia merangkul pundak Jehan agar gadis itu tidak terjatuh.
Setelah menempuh waktu beberapa menit, akhirnya bus pun berhenti, Juna menepuk pipi Jehan yang tak kunjung terbangun.
"Bangun Je, udah sampai" Juna berbisik, supir sudah menunggu karena mereka tak kunjung turun. Terpaksa Juna menggendong gadis itu, Jehan yang merasa tubuhnya melayang pun mengerjapkan matanya, mata nya bertatapan dengan mata Juna yang menatap nya dengan tatapan yang sama, Datar.
Saat Juna ingin menurunkan Jehan, gadis itu merangkul leher Juna. Dia harus apa agar Juna tak lagi marah padanya.
"turun Je"
__ADS_1
"ngga mau, kakak kenapa si marah-marah terus. aku kan udah minta maaf, hiks" Jehan terisak, dia memeluk Juna karena kesal. Tidak suka saja jika Juna mengabaikannya, usaha nya berhasil membuat Juna tidak mengabaikannya lagi.
"udah jangan nangis" Jehan turun dari gendongan Juna gadis itu masih terisak, Juna menghapus air mata Jehan. Padahal gadis itu hanya berakting. Haha salah sendiri sok sok an mengabaikan nya.
"jangan marah lagi" Juna mengangguk, laki-laki itu memeluk tubuh Jehan erat.
"kamu juga jangan bikin kakak kesel" Juna menyahut dengan nada sedikit ketus, Jehan memilih mengangguk saja agar Juna tak lagi marah.
"sekarang udah ngga marah kan ?" tanya Jehan
"masih marah kakak" Jehan berdecak, dia mendekat ke arah Juna lalu berjinjit. Gadis itu menatap Juna dari dekat, Juna tetap diam dan acuh kepadanya. Lalu tiba-tiba gadis itu mencium pipi nya, Juna termenung laki-laki itu menatap Jehan. Jehan tersenyum gadis itu menjitak Juna yang membuat Juna kembali kesal.
"jangan di tatap gitu, aku kan jadi malu" Juna kembali tersenyum, dia mengajak Jehan duduk di kursi terdekat.
"ini taman deket rumah kakak, kamu tersesat jauh Je" Juna menatap Jehan lembut
"ya ngga papa tersesat, habis kakak marah si tadi" Jehan cemberut karena kesal, Juna tersenyum, meraih kepala itu untuk menatap nya.
"yang bikin kakak kesel siapa ?"
"Ya aku, tapi aku kan ngga suka di cuekin"
__ADS_1