Di Antara Perbatasan Senja

Di Antara Perbatasan Senja
Menjaga gadis kakak nya


__ADS_3

Sementara itu di dalam ruangan, di mana kini Kenzie terbaring lemah tak bertenaga, seolah yang ada hanya raga, dan Sukma nya ntah melayang kemana. Lelaki itu begitu damai dengan wajahnya yang tenang.


Berkali-kali dokter menggelengkan kepala, di balas helaan nafas lelah oleh dokter lainnya, mereka meletakkan semua alat yang mereka gunakan, semua tidak bisa di lanjutkan.


Salah satu dokter memilih untuk keluar, memberitahu kepada pihak keluarga pasien yang saat ini terbaring lemah di ranjang pasien, dan sedang bertahan antara hidup dan mati itu.


Saat pertama kali pintu di buka, dapat di lihat seorang gadis yang begitu cantik berdiri dengan cepat, mata gadis itu sembab, dan dapat di tebak gadis itu pasti baru saja menangis dalam waktu yang lama.


"Gimana keadaan Kenzie dok ?" tanya Jehan dengan suara bergetar, dokter laki-laki yang menangani Kenzie itu menghela nafas, dia sungguh amat sangat terpaksa mengatakan ini.


"Akibat banyaknya tusukan yang pasien terima, membuat tubuh pasien melemah, apalagi ada satu tusukan yang begitu dalam. Bahkan mengenai jantung dan membuat jantung pasien mengalami komplikasi. Kami belum bisa memberikan tindakan lanjutan untuk pasien, karena tubuh pasien sangat lemah saat ini, jika di paksakan untuk di operasi sekarang, mungkin pasien tidak akan bisa mempertahankan hidupnya lagi"


ucapan dokter yang begitu panjang, membuat kepala Jehan terasa pusing, semua ucapan itu hanya menjelaskan satu maksud, yaitu kini kondisi Kenzie sangat buruk, bahkan bisa di bilang laki-laki itu sedang berada di ambang.... Jehan tak berani membayangkan lebih jauh, dia tak akan pernah sanggup untuk itu.


"Untuk sementara, kami sudah menjahit tubuh pasien yang terluka, tinggal menunggu kondisi nya membaik maka kami akan segera melakukan tindakan lanjutan" ucap dokter itu.


Jehan hanya terdiam mematung, semuanya terlalu mengejutkan untuknya, gadis itu jadi menyesal karena membiarkan Kenzie pulang tadi malam, padahal saat itu hari sudah hampir tengah malam, ini semua salahnya, ya andai saja dia tidak membiarkan Kenzie pulang malam itu. Dia benar-benar menyesal dan andai saja waktu bisa di ulang.


"Jehan" Hanna datang dengan langkah lebar, gadis itu sudah tau semuanya dari Gibran dan Alarick, langkah gadis itu berhenti tepat di depan Jehan.

__ADS_1


"Sholat dulu mau ?, trus habis itu cari makan. Jangan terus menangis. Kamu tidak akan bisa tenang jika terus seperti itu. Pikiran kamu akan terus resah nanti." Jehan hanya mengangguk, membiarkan Hanna menuntun nya, mereka berdua berjalan bersama menjauhi ruangan Kenzie. Ya buat apa juga dia berada di ruangan itu, jika Kenzie belum boleh di jenguk.


Jehan kembali menangis, gadis itu berdoa kepada Tuhan dengan segala perasaan nya yang menyesakkan dada. Memohon kepada Tuhan untuk kebaikan Kenzie. Doa nya cukup panjang, seolah dia begitu berat untuk meninggalkan tempat itu. Kini hidupnya terasa kosong.


Setelah merasa sedikit lebih tenang, Jehan pun memilih untuk melepas mukena yang saat ini menutupi tubuhnya, gadis itu mengusap wajahnya sebentar untuk menetralkan perasaannya. Sudah cukup, dia tidak boleh terus seperti ini, dia harus kuat untuk Kenzie. Ya, laki-laki nya itu pasti sembuh, dia yakin itu.


Kembali mengembangkan senyumnya, Jehan berjalan dengan sedikit semangat yang masih tersisa, gadis itu meninggalkan masjid dan berjalan ke luar di mana kini Hanna telah menunggunya, ya Hanna memang selesai lebih dulu shalat nya.


"Kamu mau makan dulu Je ?" tanya Hanna, kini dia dapat melihat bahwa temannya itu jauh lebih tenang. Ya meskipun masih terlihat gurat kesedihan di wajahnya.


"Aku tidak nafsu makan Na" ujar Jehan dengan lesu, Hanna menghela nafas sambil tersenyum tipis.


Sampai di kantin mereka duduk bersama, Hanna memesan bakso untuk mereka berdua, karena Jehan hanya diam saja sewaktu di tanya ingin pesan apa tadi.


Hanna menatap Jehan yang kembali melamun, sepertinya gadis itu kembali memikirkan Kenzie. Dia juga tidak menyangka jika Kenzie mengalami hal mengerikan seperti itu, dia juga berharap tinggi agar Kenzie baik-baik saja, itu semua demi temannya ini.


pelayan meletakkan dua mangkuk bakso yang masih panas di atas meja, terlihat kuah mangkuk bakso itu masih mengepul menandakan bahwa baru saja di buat. Hanna meletakkan salah satu mengkuk itu di hadapan Jehan.


"Makan dulu, meski hanya sedikit, apa mau aku suapi ?" Jehan menggeleng, akhirnya gadis itu menyentuh sendok dan mencicipi bakso itu.

__ADS_1


Alarick dan Gibran datang dan ikut duduk di samping Jehan dan Hanna, mereka melihat kedua gadis itu makan dengan lesu.


"Kalian pesanlah jika lapar" Hanna berucap dengan mulut yang terisi bakso.


"Aku malas pesan makanan, bagaimana jika kamu membagi makanan mu untuk ku" Alarick berucap kepada gadis di samping nya itu, Hanna hanya melirik sinis, gadis itu tak memperdulikan Alarick saat ini. Sudah cukup dia mengemis kepada lelaki itu, kini dia tak ingin lagi melakukan hal bodoh itu.


"Je" Gibran menyentuh tangan Jehan, telapak tangan gadis itu begitu dingin, bahkan Jehan hanya memakan makanannya sedikit.


"Mau aku suapi Hem" Gibran bersuara selembut mungkin, dia akan menjaga Jehan selama Kenzie tak ada. Dia akan terus menjaga gadis milik kakak nya itu.


"Aku sudah kenyang" ujar Jehan, gadis itu mendorong mangkuk itu menjauh dari hadapannya.


Gibran mengambil mangkuk itu, tangannya mengiris bakso sampai menjadi kecil-kecil lalu menuangkan sedikit sambal di mangkuk Jehan.


"Aku suapi ya, kamu suka pedas kan" Jehan hanya menggeleng, dia benar-benar tak nafsu makan.


"Sedikit aja" Jehan tetap menggeleng, Gibran hanya mampu menghela nafasnya, dia tak lagi memaksa gadis di samping nya itu. Saat ini yang Jehan inginkan adalah Kenzie. Hanya Kenzie yang bisa membuat Jehan bersemangat sekaligus rapuh.


"Aku balik duluan aja Na" Jehan berdiri, lalu gadis itu pergi meninggalkan tiga orang itu.

__ADS_1


"Aku juga pergi" Gibran ikut berdiri, laki-laki itu langsung berlari mengejar Jehan. tangannya langsung tertaut dengan tangan milik Jehan. lalu laki-laki itu berjalan bersama Jehan ke arah ruangan Kenzie.


__ADS_2