
Pagi itu tidak ada pelajaran, semua mata pelajaran di kosongkan karena persiapan untuk ujian kenaikan kelas. Semua murid di tugaskan untuk mencari namanya di setiap ruangan yang di gunakan untuk ujian.
ujian kali ini, bagian nama di acak kelas 10 di gabung untuk duduk dengan kelas 11. Jadi nanti dalam ruangan peserta bersatu antara kelas 11 dan 10. Jehan berjalan menyusuri dari ruangan 1 sampai ruangan 10 namanya tidak tercantum. Dia pun berjalan menyusuri sampai dia menemukan namanya, dia melihat jika ruangan ujiannya berada di ruangan nomor 14.
Jehan pun melihat siapa yang akan menjadi teman sebangkunya.
"kok cowok sih, kenapa gitu ngga cewek aja" Jehan pun pergi sambil menggerutu, dia menghampiri teman-temannya yang duduk di depan koperasi sekolah.
"ruangan lo berapa Je ?" tanya Hanna sambil meletakkan hp nya sebentar.
"ruangan 14" jawab Jehan cuek, gadis itu menyandarkan tubuhnya. Menatap teman-teman nya yang cuek dan irit bicara membuat nya sedikit ada yang kurang.
"wah jauh banget, gw aja di ruang 8" jawab Hanna lesu, memang jarak ruangan 8 dan 14 sangat jauh. Karena ruangan Jehan berada di luar sedangkan ruangan Hanna harus berjalan masuk ke dalam lingkungan sekolah, ruangan itu persis ada di halaman tengah sekolah.
"lo duduk sama siapa ?" kembali Hanna bertanya, ya diantara teman Jehan yang lain memang gadis itu yang sering mengajak Jehan berbicara.
"Raffasya Hafis" Jehan menjawab apa yang dia lihat tadi, dia tidak tau siapa nama itu karena memang tidak pernah mendengar nya.
"siapa itu, baru denger ?" tanya Gibran, laki-laki itu menatap Jehan menunggu jawaban atas pertanyaannya.
"ngga kenal gw, baru denger juga" Jawab Jehan, gadis itu menatap Johan yang sedang asik membaca buku, Jehan pikir dia tidak begitu dekat dengan Johan. Pembicaraan dengan Johan pun dapat di ingat kapan saja. Terfikir untuk mendekati Johan dan memulai obrolan Jehan pun mendekat ke arah Johan. Di samping laki-laki itu ada Arga yang sedang fokus main game. Mengabaikan keberadaan Arga Jehan pun mendekati temannya yang terasa sangat asing itu.
"ye menang, kan gw udah bilang kalau gw pasti yang menang, pemula aja main-main sama gw. Dasar bodoh" Jehan tersentak ketika mendengar suara Arga begitupun Johan yang mengalihkan atensi nya menatap Arga yang tidak merasa bersalah sama sekali karena sudah berteriak.
__ADS_1
Atensi Johan kini beralih menatap Jehan yang duduk di samping nya, sejak kapan gadis itu berada di sampingnya pikirnya. Jehan yang di tatap hanya mengulum senyum tidak tau ingin bicara apa. Tatapan mata Johan begitu dalam seakan seperti menembus jantungnya membuat Jehan terdiam.
suasana berubah canggung sampai datanglah Hanna dan Gibran dari arah perpustakaan, tadi memang mereka pergi untuk mengembalikan buku yang mereka pinjam kemarin.
"diem-dieman aja kaya orang asing" celetuk Gibran sambil terkekeh, laki-laki itu duduk di samping Hanna yang menatap Arga yang masih fokus dengan hp nya.
"lo bisa ngga sih ga, ketika kumpul sama kita ngga usah main hp" yang di ajak bicara hanya melirik sinis, namun setelah itu memasukkan hp nya ke dalam tas. Laki-laki itu berdiri dan berjalan mendekat ke Hanna. Hanna hanya memutar bola mata malas, dia sudah tau seperti apa seorang Arga.
"kalau ngga main hp mainan apa dong, mainin hati lo boleh ?" Hanna melotot menatap Arga tajam, yang di tatap hanya cuek, duduk di samping Hanna dan melingkarkan tangannya di bahu gadis itu.
"kenapa ?" tanya Arga, dia mempertahankan tangannya yang di coba di singkirkan oleh Hanna.
Jehan bergidik ngeri, dia berdiri mengurungkan niatnya untuk mengajak Johan berbicara, gadis itu mengambil tas nya dan berjalan pergi meninggalkan teman-temannya.
"mau kemana Je" teriak Gibran
🌿🌿🌿
waktu ujian pun tiba, Jehan berjalan ke arah ruangan nya sambil mendengarkan musik menggunakan headset, banyak juga para siswa lain yang berjalan ke arah ruangan mereka sambil membaca buku, dan menenteng tas di punggung, sedangkan Jehan jangankan membawa buku tas saja dia tinggal di rumah. Dia hanya membawa bolpoin untuk membubuhkan tanda tangannya nanti.
gadis itu berdecak sambil menggelengkan kepalanya, jika dia membawa buku seperti siswa-siswi itu juga percuma tidak akan dia baca. Baginya tidak ada belajar dadakan, memang nya sejak tadi malam para siswa itu ngapain sampai harus belajar lagi.
jam masuk di mulai, soal mulai di bagikan Jehan mulai fokus untuk segera menyelesaikan soal itu. Soal itu sama seperti pada umumnya terdiri 50 soal pilihan ganda, Jehan mulai menjawab soal yang dia bisa. Tidak terlalu sulit, untung saja tadi malam dia belajar.
__ADS_1
"maaf bu saya telat, tadi masih ada urusan dengan pak Egan" ucap seseorang yang baru masuk
"iya tidak apa pak Egan sudah meminta izin tadi untuk kamu. Masuklah Juna" perhatian Jehan teralihkan, menatap laki-laki yang masuk dan mulai duduk di tempat duduknya.
Jehan sampai menggerjapkan matanya saat laki-laki itu duduk, di samping tempat duduk Juna terdapat perempuan yang menyambut Juna dengan senyuman manis, sampai membuat kecantikan gadis itu terpancar. Sedangkan Juna hanya membalas dengan senyuman tipis.
Jehan merenggangkan otot tubuhnya ketika selesai mengerjakan semua ujian hari ini, dia menatap sekelilingnya semua peserta ujian masih fokus dengan lembar ujian mereka. Gadis itu menyandarkan kepala nya di bangku meja, sambil memejamkan matanya, laki-laki yang satu bangku dengan nya masih fokus mengerjakan ujian nya.
"gadis di belakang yang tidur, sudah selesai ujiannya ?" Jehan mendongak, semua orang menatap ke arahnya, Jehan tersenyum malu, Juna juga menatap nya dengan pandangan terkejut yang tidak di hiraukan oleh Jehan.
"sudah" Jawab Jehan singkat
"di cek lagi, waktu nya masih banyak" Jehan berdecak kesal, kenapa dia tidak di suruh keluar saja. Jehan sedang butuh angin segar sekarang.
"sudah saya cek bu, lagian soalnya gampang kok" bukan apa-apa Jehan hanya mengantuk, pasal nya tadi malam dia hanya tidur 2 jam karena belajar sampai larut.
si ibu guru tidak menghiraukan nya dan malah pergi dari kelas, Jehan kembali menyandarkan kepala nya
"kamu terlihat mengantuk sekali" Jehan membuka mata dan menatap kakak senior nya, ternyata wajah senior yang satu meja dengannya itu cukup tampan, mirip dengan salah satu artis remaja yang baru saja naik daun akhir-akhir ini. Apalagi kulit nya yang putih bersih mendukung ketampanan laki-laki itu.
"saya cuma tidur dua jam tadi malam" kakak seniornya itu menutup lembaran ujian nya, seperti nya ujian nya juga sudah selesai. Dia ikut menyandarkan kepala nya sehingga kini jarak mereka sangat dekat.
"kamu cantik sekali" Jehan tersenyum, sudah biasa dia mendengar hal seperti itu. Dia memejamkan matanya sampai dia tidak sadar ketika jam ujian telah usai dan kertas ujian nya di ambil. Dia tertidur tanpa sadar sampai ada tangan yang mengelus rambutnya, bahkan berusaha untuk menggendongnya.
__ADS_1
Jehan membuka matanya, di depannya sekarang ada Juna yang menatapnya datar, Jehan melihat bangkunya dia tadi tertidur namun ternyata kakak senior nya juga tertidur. Jadi tadi mereka tertidur ? dengan muka yang berhadap-hadapan. Pantas saja muka Juna masam, apakah laki-laki itu sedang cemburu ?
Jehan menangkup wajah Juna lalu mengeluarkan suara nya "apa kakak sedang cemburu".