
Pagi kembali menyapa, pagi ini terlihat berbeda dari pagi-pagi lainnya, langit awan tampak mendung, cuaca begitu gelap, sinar matahari bahkan tak terlihat menyinari bumi karena tertutup oleh rintik hujan yang tak mau berhenti.
Jehan makan dengan lesu, hanya mengaduk-aduk piring nya dengan perasaan yang tak berhenti resah. Kenzie sampai saat ini tak juga bisa di hubungi, padahal dia sedang butuh tempat curhat untuk saat ini.
Drtttt, telfon yang berdering di atas meja membuat Jehan mengambil benda yang terus berdering itu. Nama Gibran terlihat dari balik layar handphone itu.
Itu membuat Jehan cukup heran, karena pasalnya beberapa tahun belakangan ini Gibran jarang sekali menghubungi, karena mereka juga sudah jarang untuk bertemu.
Gadis itu menempelkan benda pipih itu ke telinga, jantung nya berdegup kencang menunggu ucapan yang akan Gibran lontarkan.
"Halo Je" terdengar suara di sebrang sana
"Iya ?" Jehan berbicara dengan suara bergetar, sedari tadi malam hatinya terus resah tak bisa tenang.
"Bisa ke rumah sakit sekarang ?" ucap Gibran di sebrang sana. Jehan terdiam dengan tangan bergetar, siapa yang sakit ? kenapa dia harus ke rumah sakit.
"Siapa yang sakit ?" tanya Jehan, gadis itu melirik kakak nya yang kini ikut duduk di sampingnya, lelaki itu menatap matanya seolah ingin tau perbincangan dirinya dengan Gibran.
"Kenzie kecelakaan, saat ini kondisi nya kritis" Deg, handphone milik Jehan jatuh begitu saja, tubuhnya membeku dengan pikiran kosong, air mata kembali menetes di balik mata indah gadis itu.
Alarick yang melihatnya kembali mengambil handphone milik Jehan yang jatuh, lalu lelaki itu menempelkan handphone itu ke telinga.
__ADS_1
"Halo Je" kembali suara Gibran terdengar.
"Kirim alamat rumah sakit nya, aku dan Jehan akan kesana" Alarick memang mendengar apa yang Jehan dan Gibran bicarakan tadi, karena suara volume handphone nya yang keras.
"Oke" panggilan pun terputus, Al menatap adiknya yang kini terisak kuat dengan tubuh yang terus bergetar, lelaki itu merengkuh tubuh adik satu-satunya itu, hatinya ikut sakit melihat Jehan yang terluka seperti itu. Tangannya terangkat untuk menghapus air mata di mata adik nya itu.
"Adik kakak kuat, jangan nangis lagi oke" ucap Al sambil mencium kening adiknya itu.
"Aku harus ke rumah sakit sekarang kak, kasihan Kenzie pasti sendirian di sana, dia butuh aku sekarang" Gadis itu mengusap matanya, lalu berdiri dengan wajah yang pucat, dia harus melihat keadaan kekasihnya sekarang. Pasti laki-laki nya itu sedang kesakitan di sana.
"Ganti baju mu, kakak akan mengantarmu" tanpa di perintah dua kali, Jehan segera berlari menaiki tangga menuju kamarnya, Alarick yang melihat itu tampak cemas, Dia tahu Jehan saat ini tak bisa berfikir dengan jernih. Bahkan gadis itu tidak berfikir bahwa tindakannya itu bisa membuatnya terluka.
"Sudah siap ?" tanya Al, Jehan hanya mengangguk lesu, dia segera membuka pintu mobil dan duduk dengan tenang, pandangannya kosong sama dengan pikirannya yang kosong seperti sekarang.
"Ngebut... kak" ucap Jehan, air mata tak pernah berhenti mengalir dari mata itu, Al hanya menghela nafas, kini dia tau seberapa besar rasa cinta adiknya itu kepada Kenzie.
Sampai di rumah sakit, Alarick segera mengandeng tangan Jehan dan membawa gadis itu ke tempat di mana ruangan Kenzie berada, Jehan menurut, wajahnya begitu kalut.
Sampai mereka tiba di ruangan Kenzie, Jehan melihat tante Rania dan Gibran duduk dengan lesu, Om Shaka juga ada di samping wanita yang terus menangis itu, Om Shaka menggunakan pakaian rumah sakit yang sama, Jehan segera berlari ke arah pintu, gadis itu ingin masuk ke dalam tapi Gibran dengan cepat menariknya, memeluk tubuhnya dengan erat.
"Aku mau masuk Gibran, lepaskan aku, Kenzie pasti ketakutan di dalam sana" ucap Jehan sambil terisak, Gibran mengusap mata gadis itu lalu membawa nya duduk, dengan sedikit paksaan tentunya, karena gadis itu begitu kekeh ingin masuk.
__ADS_1
"Gibran lepass" Jehan berontak dalam pelukan temannya itu, Gibran tak melepaskan Jehan, laki-laki itu mendekap Jehan dengan erat.
"Lihatlah Juna apa yang kamu lakukan, kamu kembali membuat gadismu menangis, lihatlah betapa rapuh gadis ini. Apa kamu akan kembali meninggalkannya dengan tega" Gibran membatin dengan sedih, dia tak tega melihat keadaan Jehan yang begitu menyedihkan, semoga saja ada keajaiban untuk kakak nya itu di dalam sana.
"Seperti yang kamu katakan, kamu hidup hanya untuk berjuang demi orang yang kamu sayang, dan aku berharap kamu kembali berjuang kali ini demi Jehan" kembali Gibran membatin.
"Lepass, aku mau ketemu Kenzie jangan menghalangiku" Jehan tiba-tiba marah sambil terus memukul tubuh Gibran, laki-laki itu tak bergeming, terus mendekap tubuh Jehan.
"Tenang, bukan begini caranya, kamu harus tenang"
"Bagaimana aku bisa tenang, orang yang aku sayangi sedang kritis di dalam sana, Kenzie please" ucap Jehan dengan menangis tersedu-sedu.
"Kita tunggu dokter, dokter sedang melakukan operasi Jehan"
"Operasi ?, separah apa sampai operasi" Jehan menutup mulutnya, tubuhnya kembali bergetar, gadis itu menatap Gibran dengan mata berkaca-kaca. Gibran tak sanggup melihat betapa hancurnya Jehan saat ini.
"Kenapa kamu baru memberitahu sekarang Gibran, aku sejak tadi malam resah karena Kenzie, ternyata benar dia sedang terluka dan kamu bahkan tak memberitahuku tentang keadaannya" Al menatap adiknya itu dengan sedih, lelaki itu berjalan ke arah adiknya, lalu memeluk adiknya itu.
"Please jangan nangis oke, kakak tau ini sulit tapi kamu pasti mampu, biarkan Kenzie berjuang di dalam sana, kita membantu nya dengan doa"
"Aku akan hancur jika dia pergi kak" jawab Jehan, wanita mana yang tak hancur jika harus kehilangan orang yang dia sayangi, meski berusaha sekuat apapun dia tak akan mampu hatinya terlalu lemah.
__ADS_1