
Malam itu Kenzie langsung mengantar Jehan pulang, hari sudah menunjukkan pukul 9 malam, yang berarti Jehan harus segera pulang, Kenzie juga tak ingin Jehan pulang larut malam, laki-laki itu tak mau pandangan orang tua Jehan kepadanya buruk, selain itu Kenzie juga tak mau jika Jehan sakit karena berada di luar rumah terlalu lama.
Sebenarnya Kenzie masih belum merasa puas untuk hari ini, bahkan mungkin dia tak akan pernah puas untuk berdekatan dengan Jehan, namun mau bagaimana lagi. Dia tidak boleh egois menahan Jehan untuk terus berada di sampingnya.
Setelah berkendara selama 30 menit lebih, kini mobil telah memasuki gerbang rumah Jehan, laki-laki itu ingin turun untuk membukakan pintu untuk Jehan, namun gadis itu menolak, dia tak mau Kenzie membukakan pintu untuknya.
Gadis itu membuka pintu mobil, lalu turun. Kenzie pun ikut turun, menghampiri gadisnya itu.
"Aku masuk" ucap Jehan dengan lesu, gadis itu juga tak rela Kenzie pergi, tapi mau bagaimana lagi.
"Hem, habis ini langsung istirahat oke" ucap laki-laki itu, tangannya terangkat untuk mengusap wajah Jehan.Jehan hanya mengangguk, Kenzie tersenyum gemas, laki-laki itu mengacak rambut Jehan hingga berantakan.
"Kenapa mukanya kaya gitu" tanya Kenzie tersenyum tipis.
"Ngga papa, udah kan katanya mau pulang" ucap Jehan meski dia tak ingin mengatakannya.
"Hem" Kenzie mendekat, laki-laki itu memeluk tubuh Jehan erat, memberikan kecupan singkat di kening gadis itu. Jehan menutup mata sambil membalas pelukan Kenzie tak kalah erat.
"Hati-hati di jalan" ucap gadis itu setalah pelukan mereka terlepas.
"oke" Kenzie pun kembali masuk ke dalam mobil, laki-laki itu menjalankan mobilnya keluar dari rumah Jehan, Jehan melambaikan tangannya.
Tanpa mereka berdua sadari, semua yang mereka lakukan tadi di lihat oleh seseorang yang sedari tadi berdiri di depan kaca di dalam rumah Jehan.
Jehan berjalan ke arah kamar, ya tubuhnya sudah terasa lengket dan dia ingin segera membersihkan diri. Melewati ruang tamu, gadis itu bahkan tak menyadari papa nya yang duduk tenang di kursi sambil menatapnya.
"Jehan" ucap laki-laki itu mengangetkan Jehan yang akan naik tangga menuju kamar.
"Papa ?" Jehan berbalik dan duduk di samping papa nya itu.
"Kamu dari mana ?" tanya papa nya
"Jehan habis main sama temen"
"Temen ?" papa nya mengernyitkan dahi, Jehan hanya diam menunggu respon papa lebih lanjut.
"Yakin cuma temen ?" Jehan terdiam, berfikir harus menjawab apa.
__ADS_1
"Kelihatan sangat dekat sekali" ucap laki-laki itu masih menatapnya dengan tatapan dalam nan tajam, Jehan menelan ludah, otaknya terus berfikir soal jawaban apa yang tepat untuk papa nya itu.
"Sebenarnya Jehan keluar sama Kenzie pa" akhirnya setelah berfikir lama, Jehan memilih untuk jujur.
"Dia teman kamu ?"
"Kekasih Je" jawab Jehan terus terang, dia tak ingin menyembunyikan apapun, karena dia memang serius dengan Kenzie. Maka dia ingin kedua orang tuanya mengenal Kenzie dengan dekat.
Dapat di lihat papa nya itu menganggukkan kepala, Jehan sama sekali tak bisa menebak apa yang papa nya pikir saat ini.
"Jadi karena itu kamu memutuskan perjodohan dengan Dion ?"
"Iya" jawab Jehan singkat, kenapa coba dia harus di interogasi saat tubuhnya terasa tak nyaman seperti sekarang, dia sangat ingin mandi saat ini sungguh.
"Ya sudah, masuklah ke kamar" Jehan mengernyit tak mengerti. Sebenarnya masih banyak sekali yang ingin dia tanyakan kepada sang papa. Namun gadis itu memilih untuk diam dan beranjak ke kamar saat ini.
***
Sementara itu Kenzie kini sudah tiba di apartemen nya, laki-laki itu bahkan sudah selesai membersihkan diri, dengan celana pendek dan kaos polos yang dia gunakan, laki-laki itu mulai membaringkan tubuhnya di atas ranjang, melihat handphone nya sejenak, laki-laki itu melihat bahwa Jehan masih online. Tanda di mana artinya gadis itu masih memainkan handphonenya.
Akhirnya Kenzie memutuskan untuk menghubungi kekasihnya itu, hari sudah malam, dia tak ingin Jehan terus bermain handphone.
"Udah malam, tutup handphone nya trus tidur" ucap laki-laki itu dengan nada lembut.
"Aku ngga bisa tidur" jawab gadis itu
"Jelas aja ngga bisa tidur, kalau mainnya handphone terus"
"Beneran ngga bisa tidur kak, mata aku sulit buat tertutup"
"Coba sekarang penjamin matanya"
"Buat apa ?" tanya Jehan heran
"Udah nurut aja" Jehan menghela nafas, gadis itu memejamkan matanya sejenak.
"Udah" jawab Jehan belum juga membuka matanya.
__ADS_1
"Saat ku sendiri kulihat photo dan video Bersamamu yang tlah lama kusimpan
Hancur hati ini melihat semua gambar diri
Yang tak bisa ku ulang kembali" Terdengar di sebrang sana, suara indah nan merdu terdengar. Jehan langsung saja membuka matanya.
"Kok lagi nya sedih banget sih, aku ngga suka" ucap Jehan dengan jantung yang berdetak kencang.
"Kuingin saat ini engkau ada di disini
Tertawa bersamaku seperti dulu lagi
Walau hanya sebentar Tuhan tolong kabulkanlah
Bukannya diri ini tak terima kenyataan
Hati Ini hanya rindu" Kenzie tak menghentikan nyanyiannya bahkan tak menjawab ucapan Jehan sama sekali.
"Kenzie aku matiin ya telfonnya" ucap Jehan dengan nada mengancam. Dan seperti nya hal itu cukup ampuh, karena nanyian laki-laki itu langsung berhenti. Namun tak lama terdengar isakan di sebrang sana. Mendengar itu Jehan langsung saja duduk di atas ranjang.
"Hey kamu kenapa ?" ucap Jehan dengan panik, gadis itu langsung mengambil sandal dan jaket di almari.
"Aku rindu mama Je, aku pengen banget ketemu mesti sebentar aja" ucap laki-laki itu sambil menahan isakannya. Jehan langsung turun dari kamar tanpa mematikan telfon. Gadis itu memilih untuk segera datang ke apartemen Kenzie.
Dulu dia sempat membaca alamat laki-laki itu yang tertera di kartu nama bisnis, maka dari itu Jehan tau di mana Kenzie berada saat ini.
Handphone itu mati, sepertinya Kenzie mematikannya terlebih dahulu, Jehan semakin panik, gadis itu langsung tancap gas ke rumah Kenzie.
"Sial, aku tau kak gimana perasaanmu sekarang" ucap Jehan melaju dengan kecepatan tinggi.
Sampai di apartemen, Jehan langsung saja masuk ke dalam rumah itu, dia mengetuk pintu berharap Kenzie segera membuka pintu untuknya.
Beberapa menit menunggu, akhirnya pintu terbuka, terlihat Kenzie datang dengan mata memerah, laki-laki itu mendekat lalu memeluk tubuhnya dengan erat. Tubuh laki-laki itu bergetar hebat, Jehan membawa laki-laki itu untuk duduk di sofa, merasa tak tega dengan keadaan kekasihnya itu sekarang.
"Maaf ya, aku kelihatan cenggeng banget" ucap Kenzie sambil menatap matanya dengan sendu, mata Jehan ikut berkaca-kaca. Gadis itu menghapus air mata Kenzie lalu kembali memeluk laki-laki itu.
"Aku sayang banget sama kakak" ucap gadis itu mulai ikut terisak.
__ADS_1
"Tak apa kita bisa menangis bersama" ulang gadis itu sambil mengusap punggung Kenzie yang kekar, yang saat ini sedang mendekap tubuh kecilnya.