
Jehan menutup buku nya karena bosan, sepulang sekolah tadi, gadis itu memilih untuk menghabiskan waktunya dengan membaca buku.
berharap rasa bosan nya hilang, namun ternyata bukannya hilang dia semakin merasa bosan, Jehan menutup buku yang dia baca, meletakkan di meja belajar, dan mulai membuka pintu kamar. Gadis itu lebih memilih untuk keluar saja, mencari kegiatan lain yang sekiranya tidak membuatnya semakin merasa jenuh.
Jehan berjalan menuruni tangga menuju ke dapur belakang, rumah Jehan memang terancang dengan dapur yang bersebelahan dengan pintu belakang, dimana jika pintu itu terbuka akan menghubungkan dengan halaman belakang, Jehan melihat pintu itu yang terbuka, dan melihat mama dan beberapa bibi sedang mengupas buah mangga, gadis itu pun berjalan menghampiri para wanita paru baya yang masih terlihat cantik itu.
"eh non Jehan, sini non" salah satu dari para wanita itu melambaikan tangan ke arah Jehan dengan senyuman tipis, Jehan berjalan menghampiri sekumpulan wanita itu dan ikut duduk di salah satu kursi.
"non Jehan mau mangga" wanita yang Jehan ketahui bernama bi Sumi itu menyodorkan buah mangga yang sudah terkupas kulit nya ke padanya, Jehan jelas mengenal bibi itu dari yang lain, karena sifat bi Sumi yang baik dan enak di ajak ngobrol membuat Jehan mengenal pembantu satu nya itu dengan baik.
"makan aja Je, manis kok" mama nya menyahut ketika melihat putrinya menggeleng, Jehan ragu namun akhirnya menerima mangga itu.
"gimana non, manis kan. Mangga ini memang selalu berbuah manis, beda dengan yang satunya itu buah nya kecil, rasanya pun sedikit asam" ocehan bi Sumi membuat Jehan tersenyum, Jehan tidak tau harus memberikan tanggapan apa, gadis itu mulai menyuapkan buah mangga ke dalam mulutnya. Perpaduan manis dan segar seketika ia rasakan, sangat cocok dengan lidah nya yang biasanya jarang makan buah mangga.
"iya bi manis nya pas, padahal Je pikir rasanya akan tidak enak karena bibi bilang manis, karena Je sendiri tidak suka buah yang terlalu manis apalagi mangga, ternyata ini manis nya pas di lidah Jehan" Jehan berbicara panjang lebar sambil memuji buah itu, dia memakan buah itu dengan lahap, mungkin karena hari sudah sore dan dia belum makan siang tadi.
"iya non, bibi sendiri juga ngga suka mangga yang terlalu manis, bukannya enak rasanya malah tidak karuan" ucap bi Sumi sambil tertawa, tawa bi Sumi seketika membuat Jehan
ikut tertawa, merasa lucu dengan tawa bi Sumi.
"iya, maka dari itu Je lebih suka beli buah seperti stroberi atau anggur daripada makan yang lokal rasanya takut kalau kurang bersih aja" jawab Jehan dengan jujur, nampak bi Sumi yang menganggukkan kepala nya tanda mengerti dengan ucapan Jehan.
" Tapi Buah lokal memiliki manfaat yang besar bagi kesehatan loh non, karena memiliki kandungan gizi yang tinggi dan sesuai dengan kebutuhan kesehatan tubuh kita yang tinggal di daerah tropis. Buah lokal juga bisa dikonsumsi lebih segar dan alami, karena tidak membutuhkan pengawet dalam proses distribusinya" jawab bi Sumi panjang lebar, Jehan mengangguk dia tahu soal itu, namun ntah lah dia lebih suka membeli daripada memetik. Padahal di halaman ini ada beberapa buah seperti jambu biji, mangga, melon, juga jeruk. Semuanya lokal, mau makan tinggal petik, namun Jehan memang lebih suka anggur dan stroberi dan buah itu tidak ada di halaman ini.
"tu dengerin, buah di sini juga sehat dan enak kok, ngga kalah sama buah yang kamu beli itu. Mama dulu yang tanam jadi tidak perlu kamu ragukan gimana rasanya" jawab mama nya sambil mengupas kulit buah jeruk di tangannya, Jehan hanya nyengir malu, gadis itu kembali melahap mangga di pangkuannya.
Jehan berjalan ke arah kamar nya ketika selesai mencuci tangannya, bibi dan mama nya masih memetik buah di halaman belakang, waktu menunjukkan pukul 3 sore. Gadis itu pun memilih untuk membersihkan diri terlebih dahulu.
__ADS_1
mengambil celana katun berwarna biru tua dan baju dengan warna yang senada di atas siku, juga menyambar handuk di lemari, Jehan masuk ke dalam kamar mandi sambil bernyanyi lagu dengan judul Angel Baby.
"You came out the blue on a rainy night, no lie"
"I tell you how I almost died, while you’re bringing me back to life"
"I just wanna live in this moment forever"
"‘Cause I’m afraid that living couldn’t get any better"
"Started giving up on the world forever"
"Until you give up heaven so we could be together"
Jehan terus menyanyi sambil menggosok tubuhnya di bawah shower, suara gadis itu tertelan dengan derasnya air yang menguyur tubuhnya, suasana mendadak menjadi sendu. Jehan merasa sesak dalam dada ketika menyanyikan lagu itu.
Jehan duduk di depan meja yang berhadapan dengan kaca, gadis itu memberikan sapuan bedak tipis pada wajahnya dan memoles bibirnya menggunakan lipbalm tak lupa membalurkan tangan dan kakinya menggunakan lotion.
Jehan menoleh ke sofa di kamarnya dan melihat ke arah bungkusan yang masih tertutup rapi di atas sofa, gadis itu berdiri menghampiri sofa, duduk sambil memangku sebuah bungkusan.
"kira-kira ini isinya apa ya" Jehan membolak-balikkan bungkusan itu namun tidak terdengar suara sama sekali.
"kalau isinya kepala hewan gimana" Jehan berteriak, membuang bungkusan itu di lantai, sambil memandang bungkusan itu horor. Gadis itu pernah melihat film action. Dan memang pernah ada adegan seperti sekarang, dimana seseorang di beri bungkusan misterius yang ternyata terisi kepala hewan penuh darah dan foto yang seseorang yang tertusuk pisau.
"aku buka di bawah aja deh" Jehan mengambil bungkusan itu, dan berlari keluar kamarnya, menuruni tangga, dan duduk di ruang tamu sambil menaruh bungkusan itu di atas meja.
"bibi" Jehan melambaikan tangannya saat melihat bi Sumi yang berjalan dari arah dapur.
__ADS_1
"iya non ?" tanya bibi dengan dahi berkerut
"sini deh" Jehan melambaikan tangan dan menepuk sofa di samping nya, menginstruksi bibi untuk duduk.
"coba bibi buka bungkusan itu" Jehan menunjuk bungkusan di atas meja menggunakan dagu nya.
"memang ini bungkusan apa non ?" tanya bi Sumi sambil mengambil bungkusan itu di atas meja, Jehan menggeleng pertanda tidak tahu.
"coba buka aja deh bi" ucap Jehan sambil menyandarkan tubuhnya
"kenapa tidak non Jehan saja yang buka ?" tanya bi Sumi heran, pasalnya kalau cuma bungkusan saja kenapa harus repot-repot minta di bukakan.
"takut ah, takut isinya hal hal ngga bener" ucap Jehan, bi Sumi semakin bingung dengan jawaban nona mudanya itu.
"kalau bibi ngga mau buka, buang aja. Jehan juga ngga tertarik sama isinya" ucap Jehan acuh, gadis itu memainkan handphone yang berada di genggamannya.
Jederr
Jehan mengusap dada nya terkejut, tiba-tiba saja petir menyambar dan hujan turun dengan deras, gadis itu menaruh handphone nya di atas meja.
"boneka non isinya" Jehan menoleh ke arah bi Sumi yang saat ini mengangkat boneka musang besar berwarna abu itu.
"ada surat nya juga" Jehan menerima boneka besar dan kertas itu dari bi Sumi, membuka kertas itu karena rasa penasaran nya tinggi.
"Jehan" Jehan mendongak, mata nya melotot saat melihat mama nya berdiri dengan baju yang basah bersama
JUNA...
__ADS_1