
Karena harus memeriksa berkas yang terhitung cukup banyak membuat Jehan lembur hingga kini jam menunjukkan pukul 9 malam. Sebenarnya bukan hal yang asing lagi untuk Jehan pulang malam, karena dulu pun gadis itu sering lembur bahkan sampai tengah malam.
Tiba di rumah, Jehan memilih untuk membaringkan tubuhnya, tadi gadis itu sudah membersihkan tubuhnya dengan kecepatan kilat karena sudah merasa capek dan mengantuk.
Gadis itu memejamkan matanya sambil mengeratkan selimut yang menutupi tubuhnya yang hanya menggunakan kaos lengan pendek dan celana pendek di atas lutut.
Handphone Jehan yang gadis itu letakkan di atas nakas, tiba-tiba berbunyi nyaring. Namun Jehan sama sekali tak menghiraukan, mata gadis itu terasa begitu berat untuk terbuka. Apalagi tubuhnya terasa sangat lelah.
Di seberang sana sang penelpon tak menyerah, dan terus menghubungi nomor Jehan, namun sama sekali tak ada sahutan dari Jehan. Akhirnya laki-laki di seberang sana menyerah, dan menaruh kembali handphonenya.
"Kenapa ?" tanya Gibran yang saat ini berada di depan laki-laki itu.
"Ngga di angkat" jawab Kenzie, laki-laki itu terlihat resah, karena dia sudah memberikan pesan kepada Jehan sejak dua jam lalu. Namun gadis itu tak menjawab nya sampai sekarang. Padahal pesan itu sudah tersampaikan kepada gadis itu.
"Mungkin dia udah tidur" ucap Gibran positif.
"Iya, mungkin aja sih" Kenzie akhirnya memilih untuk pulang, laki-laki itu mengambil handphone nya dan mulai berdiri.
"Mau kemana ?" tanya Gibran merasa heran.
"Pulang lah, ngapain juga lama-lama di sini orang pekerjaan udah selesai" Gibran pun ikut berdiri, karena sebenarnya laki-laki itu sudah menunggu Kenzie sedari tadi. Namun Kenzie tadi sedang sibuk dan selepas pekerjaan nya selesai pun laki-laki itu tak mau pulang karena ingin menghubungi Jehan.
"Oh ya btw Lo beneran jadian sama Jehan ?" tanya Gibran penasaran, Kenzie hanya menjawab dengan deheman saja.
__ADS_1
"Selamat ya, gw bilang juga apa. Jehan pasti akan kembali jadi milik Lo" ucap Gibran sambil tersenyum. Laki-laki itu memang sudah menebak, bahwa Jehan pasti akan menjadi milik kakak nya itu suatu saat nanti.
"Lo harus bisa dapat restu dari orang tuanya Jehan, biar Jehan bisa sepenuhnya jadi milik Lo" lanjut Gibran sambil merangkul bahu Kenzie. Tinggi badan mereka tak berbeda jauh. Kenzie memiliki tubuh proporsional, sedangkan Gibran memiliki tubuh yang tegap dan kekar karena laki-laki itu sering latihan fisik.
"Hem" Kenzie membiarkan Gibran yang terus saja mengoceh saja sedari tadi, Laki-laki itu ingin memasuki mobilnya namun Gibran menahan lengannya.
"Ada apa lagi ?" tanya Kenzie sambil mengernyitkan kedua alisnya.
"Pulang ke rumah mama sama papa kan ?" tanya Gibran belum melepas tangannya dari lengan kakak nya itu.
"Ke apartemen" jawab Kenzie singkat, karena bagaimanpun apartemen adalah tempat nya.
"Please lah Ken, Lo kaya orang asing aja sih sama kita" ucap Gibran berdecak kesal. Dia paling tak suka dengan sikap Kenzie yang seperti ini, seolah laki-laki tak pernah menganggap mereka. Padahal mereka semua menyayangi laki-laki itu. Dan Gibran sendiri pun sudah menganggap Kenzie seperti kakak kandungnya sendiri.
"Kok Lo masuk ke mobil gw ?" tanya Kenzie
"Ya ngga papa, udah ayo pulang" Kenzie menghela nafas, padahal Gibran membawa mobil sendiri. Namun akhirnya Kenzie memasuki mobilnya, menjalankan mobil itu ke rumah.
Sampai tiba di rumah, Gibran tak kunjung turun dari mobilnya. Laki-laki itu bahkan menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi.
"Lo ngga turun ?" tanya Kenzie menatap teman sekaligus adiknya itu.
"Ya kita turun bareng" jawab Gibran dengan enteng. Laki-laki itu menatap kakak nya itu yang menghela nafas kasar seolah lelah menghadapinya, namun dia tak peduli karena tujuan nya memang membawa Kenzie untuk pulang ke rumah.
__ADS_1
"Aku kan udah bilang kalau mau tidur di apartemen"
"Udahlah Ken, mau sampai kapan si Lo kaya gini. Padahal nyokap sama bokap aja udah sayang banget sama Lo" ucap Gibran kesal, sikap kakak angkatnya itu memang keras membuat nya tak tahan juga lama-lama. Apalagi papa dan mama nya selalu menyuruhnya untuk membujuk laki-laki itu agar mau tinggal di rumah mereka.
"Ya udah deh kalau gitu" akhirnya Kenzie menyerah dan mengikuti apa yang dimau adik nya itu.Mereka turun berdua dari mobil, dan berjalan bersama ke rumah. Mereka melewati ruang tamu, terlihat papa dan mama Gibran sedang menonton televisi.
"Hai ma, pa udah aku bawa ni anak kalian yang hobi ngilang" ucap Gibran menghampiri kedua orang tuanya itu. Tampak kedua orang tuanya itu menoleh.
"Kenzie kamu datang nak" ucap mama Gibran dengan heboh, bahkan wanita paruh baya itu langsung berdiri dari tempat duduk nya. Saking kagetnya melihat putra angkatnya itu datang.
"Iya ma" Kenzie mengajak mama nya itu untuk duduk, mereka duduk bersama di kursi sofa panjang, yang di duduki oleh papa Gibran. Sedangkan Gibran saat ini duduk sendiri di kursi tunggal, sambil melihat papa dan mama nya itu yang terlihat begitu bahagia karena Kenzie datang.
"Ya beginilah kalau anak emas datang, anak kambing di lupakan" ucap Gibran dengan mencibir, laki-laki itu menggelengkan kepala nya. Bagaimana bisa Kenzie tidak risih di peluk seperti itu, dia saja merasa geli sendiri melihatnya.
"Memangnya kamu anak kambing ?" tanya mama nya sinis, anak nya yang satu itu sulit sekali jika di dekati, karena gampang merasa risih.
"Udahlah tugas aku udah selesai kan, marahi aja itu anak kalian biar ngga susah di ajak pulang" ucap Gibran sambil menyelonong pergi.
"Ma, pa Kenzie ke kamar dulu ya, kita ngobrol lagi besok" ucap laki-laki itu pelan.
"Yah, padahal kita jarang bersama. Tapi ya sudah jika kamu merasa capek tidak apa-apa" ucap mama Gibran dengan raut wajah kecewa, Kenzie merasa tak enak melihat itu.
"Kenzie bakal sering-sering kesini ma, lagian besok kita masih ada kesempatan buat ngobrol kan" akhirnya orang tua Gibran menyetujui laki-laki itu untuk pergi, Kenzie pun berjalan ke kamarnya.
__ADS_1
Tiba di kamar, Kenzie membaringkan tubuhnya di ranjang, sambil menatap langit-langit kamar. Pikiran laki-laki itu melayang, tertuju pada kekasihnya. Akan seperti apa hubungan mereka kedepannya, apakah dia bisa bersatu dengan gadis itu atau berakhir perpisahan.