Di Antara Perbatasan Senja

Di Antara Perbatasan Senja
Perpisahan paling menyakitkan


__ADS_3

Seorang gadis cantik dengan rambut sebahu datang menghampiri teman laki-laki nya yang terlihat sedang patah hati itu, ya meskipun dia tahu laki-laki itu akan terus sedih soal apapun jika berkaitan dengan Jehan. Murid cantik yang menjadi primadona sekolah, yang sayangnya saat ini sedang tidak ingat akan dirinya sendiri.


"Juna" gadis itu menyentuh bahu Juna lembut, merasa kasihan akan temannya itu yang terlihat gagal melupakan perasannya. Dia tidak ingin Arjuna terus seperti itu, dia ingin Juna berhenti untuk mengharapkan Jehan yang susah untuk di gapai.


"Apakah gadis itu sudah sadar ?" tanya gadis yang akrab di panggil Rani itu, Rani duduk di samping Juna yang masih menumpukan kepala nya di meja, terlihat sangat menyedihkan memang.


Tidak ada jawaban, Juna hanya mengangguk lemah, Rani menghela nafas. Baru kali ini dia melihat temannya itu terlihat bodoh hanya karena cinta.


"Dari sekian banyak nya perempuan, kenapa kamu selalu saja mengejar Jehan, aku akui Jehan cantik, pintar, kaya juga. Tapi aku juga sama. Tapi kenapa kamu ngga melirik aku juga." Entah kenapa Rani mengatakan itu, yang jelas dia merasa bahwa Juna itu bodoh, di bumi ini perempuan ada banyak, buat apa laki-laki itu terus mempertahankan perasaan nya pada Jehan.


"Kamu hanya teman untuk ku" jawab Juna tanpa menoleh, saat ini laki-laki itu sudah berada di dapur, berencana untuk membuat makanan untuk Jehan.


"Oke, lalu kenapa tidak berusaha mencari gadis lain, Jehan itu sulit untuk di raih, dulu memang kamu berhasil mendapatkannya, tapi saat ini dia tidak mengingat mu sama sekali. Itu sama saja kamu menyakiti dirimu sendiri Juna" ucap Rani panjang lebar, saat ini dia berusaha untuk mengingatkan temannya agar berhenti mengharapkan Jehan.


"Akan aku lakukan, pak Egan memberikan tawaran kepada ku bekerja di kota B, mungkin aku akan menerima tawarannya, sekalian aku kuliah di sana, kata pak Egan aku mendapatkan beasiswa dan pekerjaan di sana dapat shif gantian." Jelas Juna sambil menata makanan dan segelas air putih di nampan.


"Kamu anak yang cerdas Juna, jangan bunuh mimpi mu hanya karena perempuan yang belum tentu menjadi milikmu" sarkas Rani, Juna hanya diam, laki-laki itu pergi ke kamar dimana Jehan berada. Saat ini Juna berada di apartemen Rani, ya beberapa jam lalu Juna memang meminta bantuan Rani untuk membantu nya bertemu dengan Jehan. Untung saja Rani mempunyai Apartemen pemberian orang tuanya sewaktu ulang tahun ke 16. Jadi apartemen itu hanya di huni oleh Rani.


***

__ADS_1


Ceklek


Juna membuka pintu perlahan, laki-laki itu masuk ke dalam kamar, melihat ke arah ranjang yang saat ini telah kosong, Juna memperhatikan sekeliling. Dan kini netra hitam nya terpaku pada siluet yang sedang menumpukan kepala nya di meja belajar dengan mata tertutup. Juna tersenyum, meletakkan nampan makanan di tangannya di atas meja.


Lalu laki-laki itu berjalan tanpa suara ke arah tubuh mungil Jehan yang seperti nya sedang tidur itu. Juna berjongkok, tangannya terangkat untuk menyibak rambut Jehan yang sebagian menutupi dahi gadis itu. Naluri Juna tergerak, tanpa bisa dia cegah tubuhnya mendekat.


Cup


Juna mencium pelipis Jehan dalam, ingin rasanya bisa sedekat ini dengan Jehan tanpa jarak, namun apalah daya sepertinya untuk saat ini itu hanya bisa menjadi angan. Ingatan nya berputar kembali pada saat-saat dulu mereka bersama. Juna merasa sedih karena gagal merebut hati Jehan.


"berjuang, bukan malah merasa tidak pantas. Aku mau kakak berjuang buat hubungan kita."


"Sekarang rasanya percuma perjuangin kamu, aku akan selalu kalah, apalagi kamu membenciku. Untuk saat ini aku akan mengikhlaskan kamu Jehan. Tapi aku akan merebut mu kembali jika waktunya tiba" Juna meletakkan tangannya di paha bawah Jehan dan leher gadis itu. Lalu mengangkat gadis itu ke arah ranjang, menidurkan tubuh Jehan di ranjang itu.


Perlahan Juna mengusap kelopak mata Jehan, turun ke pipi gadis itu. Begitu lembut, tentu saja Jehan terkenal siswi paling cantik di sekolah. Usapan tangan Juna ternyata membuat tidur gadis itu terusik, terbukti karena beberapa detik kemudian Jehan membuka mata dan menatap Juna dalam.


Jehan terdiam sambil menatap lurus netra hitam Juna, seakan-akan dia sedang teringat akan tatapan itu, tatapan yang membuat nya mengingat sesuatu, gadis itu merasa pernah mengingat tatapan lembut itu, apakah benar dulu dia dekat dengan laki-laki ini.


Jehan belum sepenuhnya sadar jika saat ini tangan Juna berada di pipi nya, gadis itu terlalu fokus dengan mata Juna.

__ADS_1


Cup


Jehan mengerjapkan mata nya, gadis itu terdiam, dia tidak marah entah karena apa, padahal sudah jelas Juna selalu mencuri ciuman darinya entah itu di dahi, pipi atau bibir sekalipun. Tapi saat ini Jehan memang tidak bisa marah, tidak ada amarah sama sekali di dalam hatinya ketika pria itu mencium kening nya tadi.


"Makanlah, mumpung masih hangat" Juna mengambil piring yang berisi bubur yang masih terasa hangat. Tangan laki-laki itu terangkat sambil membawa sendok yang berisi bubur. Di hadapkan di depan bibir Jehan yang masih menutup.


Jehan membuka bibirnya, gadis itu menerima suapan dari Juna tanpa protes, sampai makanan itu tandas. Jehan menerima air dari Juna dan meminumnya hingga tersisa setengah.


"Bisakah kamu membebaskan ku ?" tanya Jehan dengan nada pelan.


"Apa kamu mau menemani ku besok ?" tanya Juna memastikan. Jehan mengangguk tanpa ragu.


"Aku akan menemani mu besok, janji setelah itu jangan pernah ganggu aku. Aku berharap setelah itu kita tidak akan bertemu lagi."


Juna tersenyum getir mendengar ucapan itu, perpisahannya kali ini dengan Jehan adalah perpisahan paling menyakitkan, dulu dirinya berharap bisa bersatu dengan gadisnya itu, namun ternyata takdir masih memberikan ujian untuk cinta mereka berdua bersatu.


"Ingatlah sayang, waktu mu besok sehari hanya untuk ku. Kamu harus selalu berada di samping ku. Ingat lah, jangan ingkar janji dan meninggalkan ku demi apapun itu" ucap Juna sambil menatap dalam netra coklat Jehan. Laki-laki itu serius dengan ucapannya, Jehan harus menemani nya dan menghabiskan waktunya hanya untuknya besok.


"Aku tidak pernah ingkar janji" ucap Jehan dengan ketus.

__ADS_1


"Kamu mengingkari janji untuk berjuang bersama mempertahankan hubungan kita" Jawab Juna tanpa sadar.


"Kamu jahat, kamu yang minta di perjuangkan. Namun kamu selalu saja melukai hati ini. Di mana janji kamu saat itu. Kamu sangat suka berbohong Jehan" ucap Juna lepas, saat ini dia merasa sedih karena gadisnya itu terus saja menghindarinya. Bahkan sampai saat ini Juna akan lulus semua nya tetap sama.


__ADS_2