
"Perjodohan ?" kepala Jehan terasa kosong, gadis itu berdiri dengan pandangan kosong, sama sekali tak bisa mengatakan apapun, matanya menatap satu persatu semua orang yang berada di tempat itu, sampai tatapan matanya tanpa sengaja tertuju kepada seseorang yang duduk di bangku paling ujung bersama teman-temannya yang lain.
Jehan sendiri tak mampu berfikir, tatapan laki-laki itu terlihat sulit untuk di mengerti.
"Iya, bagaimana kamu setuju ?" kembali mama nya bertanya, senyum tak pernah hilang dari wajah mama nya itu, Jehan terdiam sebentar, dia belum siap untuk apapun yang bersifat pernikahan, meski umurnya sudah cukup untuk menikah. Namun bukan dengan cara di jodohkan lah pernikahan yang dia inginkan.
"Jehan berfikir, Jehan masih terlalu muda ma" sahut Jehan sambil tersenyum canggung.
"Banyak juga yang menikah muda Je, lagian usia kamu sudah tak bisa di bilang muda kamu adalah seorang wanita sekarang" Jehan menelan ludah kasar, bingung harus menjawab apa.
"Tapi Je belum siap ma" ucap Jehan dengan wajah memelas
"Belum siap nya kenapa ?"
"Mungkin nak Jehan belum siap karena belum kenal dengan putra tante ya ?" tanya seorang wanita paruh baya yang terlihat masih cantik yang berdiri di samping laki-laki yang menjadi bos Jehan itu.
Jehan hanya bisa tersenyum, entah lah dia tidak ingin saja di jodohkan menurutnya ini terlalu cepat untuk nya.
"Jika itu alasannya, kalian bisa berkencan, mencoba untuk mendekatkan diri terlebih dahulu" sahut mama nya.
Ingin sekali Jehan menolak langsung rencana perjodohan ini, namun gadis itu merasa sungkan dengan kehadiran bos serta orang tuanya, apalagi ada teman-temannya di sini.
"Kalau kamu ngga mau ngga papa, jangan terlalu di paksa" Jehan menatap papa nya itu dengan haru, papa nya itu seolah menjadi penenang untuk nya.
__ADS_1
"Jehan minta waktu ya ma, Jehan ngga bisa menjawab langsung" ucap Jehan
"Baiklah, mama akan kasih waktu, tapi mama berharap kamu mau menerima nak Dion" Jehan kembali tersenyum, gadis itu menatap bos nya yang juga sedang menatapnya tajam.
"Apa ini, bagaimana bisa ini terjadi" Hanna yang duduk di dekat Johan dan Arga bersuara, gadis itu sama sekali tak menyangka ini akan terjadi.
"Lo kenal sama itu cowo ?" tanya Johan
"Kenal lah, dia itu bos gw sama Jehan di kantor" ucap Hanna pelan, takut-takut jika suara nya terdengar.
"Serius ?" Hanna mengangguk, gadis itu menatap bos nya yang nampak terus menatap Jehan sesekali menatap ke arah mereka.
"Apa orang tua Jehan dan orang tua laki-laki itu dekat ya, makanya mereka di jodohkan" tebak Johan.
"Ngga usah centil" Arga yang duduk di samping Hanna menoyor kepala gadis itu, dia memang tidak suka jika temannya itu mengangumi atau memuji laki-laki lain di depannya.
Hanna berdecak, gadis itu mengambil minumannya dan mulai meminumnya. Sedangkan Gibran, laki-laki itu menoleh ke samping. Menatap temannya yang sedari tadi diam dengan wajah yang begitu dingin.
"Aku rasa Jehan tak akan menerima laki-laki itu" ucap Gibran pelan yang hanya di dengar oleh Kenzie, laki-laki itu mengepalkan tangan, meski mencoba untuk bersikap tenang namun nyatanya dia sulit karena hatinya terasa panas.
***
Gibran menggelengkan kepala, laki-laki itu menatap Kenzie yang sedang menyandarkan kepala nya di meja dengan beberapa botol minuman yang berserakan di lantai.
__ADS_1
Sepulang dari rumah Jehan, Kenzie langsung berjalan ke ruang santai sambil mengambil beberapa alkohol dan menegaknya tanpa berfikir panjang. Padahal jika di fikir dulu laki-laki itu tak pernah menyentuh minuman yang bernama alkohol. Memang faktanya manusia dapat berubah secepat itu.
Kenzie sendiri sudah tak peduli, hati dan otak nya terasa panas karena Jehan, dan memang minuman lah yang bisa membuatnya lupa tentang gadis itu.
"Lo udah mabuk, mending sekarang Lo ikut gw ke kamar" Gibran menarik tangan Kenzie paksa, membopong laki-laki itu untuk memasuki kamarnya. untung saja kamar nya tak jauh dan tak perlu naik sehingga dia tidak terlalu capek menahan beban tubuh laki-laki itu.
"Dasar lemah, kalau suka itu ya berusaha, jangan pasrah diam aja" Gibran trus bersuara, merasa kesal dengan kakak angkatnya itu yang kelewat bodoh baginya, percuma saja jago di bidang IT kalau otak nya bodoh di bidang percintaan.
Laki-laki itu menuang air ke dalam gelas dan meminumnya karena merasa haus, mata laki-laki itu tertuju pada Kenzie yang terlelap di ranjang.
"Aku akan bantu kamu mendapatkannya, jangan rusak diri kamu lagi Jun" ucap Gibran dengan mata sendu, dia merasa kasihan dengan kakak angkatnya itu.
pagi sudah datang menyapa, Kenzie keluar dari kamar mandi dengan menggunakan celana pendek dan baju pendek, laki-laki itu baru saja membersihkan diri, rambutnya tampak basah karena memang dia mengguyurnya tadi.
Laki-laki itu keluar dari kamarnya dan berjalan ke arah ruang makan, di sana terlihat Gibran yang sedang menata makanan.
"Udah bangun Lo, ni gw pesan makanan tadi dimakan gih" ucap laki-laki itu tanpa menatap ke arahnya.
"Lo tidur di sini ?" tanya Kenzie
"Iya, ngga tega ninggalin Lo yang kaya orang putus asa tadi malam" ucap Gibran dengan nada mengejek, Kenzie berdecak laki-laki itu duduk di meja, melihat semua makanan kesukaan nya terhidang rapi di meja.
"Ayo kita makan, aku sudah lapar" Gibran duduk dan mengambil nasi serta lauk, Kenzie juga melakukan hal yang sama, Kenzie merasa beruntung karena bisa mengenal Gibran dan orang tuanya yang sudah menganggapnya seperti seorang keluarga.
__ADS_1
"Habis ini kamu harus ikut aku pulang, papa dan mama ingin bertemu"