Di Antara Perbatasan Senja

Di Antara Perbatasan Senja
Insiden makanan


__ADS_3

Jehan dan Kenzie duduk bersama di sebuah taman di belakang rumah terpencil ini, melihat beberapa anak yang terlihat berlarian dan tertawa bersama mampu membuat hati Jehan merasakan ketenangan. Nyatanya kebahagiaan anak-anak yang masih polos itu mampu menular kepada Jehan sehingga gadis itu juga merasakan kebahagiaan yang sama. Ya bahagia itu sederhana, bisa melihat orang lain bahagia maka kita juga akan merasakan kebahagiaan itu.


Gadis itu jadi mempunyai keinginan untuk mempunyai adik, tapi mama dan papa nya memang tak berniat untuk menambah anak bahkan saat usia mereka masih muda dulu.


"Mereka semua adik mu ?" tanya Jehan sambil mengalihkan tatapannya ke arah Kenzie, gadis itu menatap intens kedua mata hitam Kenzie, seolah sedang berusaha mencari tau dari balik mata itu.


"Sebenarnya tidak, mereka adalah anak yang kurang beruntung yang hidup di jalanan, tapi aku sudah menganggap mereka semua adik, bahkan aku sangat menyayangi mereka semua" ucap laki-laki itu sambil tersenyum, Jehan dapat melihat kebahagiaan yang terpancar di balik mata yang terlihat jernih itu, dan gadis itu juga dapat menangkap ketulusan di setiap kata yang Kenzie ucapkan.


"Hatimu begitu murni kak" ucap Jehan tanpa mengalihkan tatapannya dari wajah Kenzie yang terlihat sangat tampan, nyaris bersih tanpa ada noda yang menempel.


Kenzie terdiam, ucapan Jehan sedikit menganggu hatinya. Kata "kak" yang gadis itu ucapkan membuat hatinya yang lama beku itu kembali merasakan getaran bahagia.


Kenzie tersenyum, mendekatkan tangan Jehan yang berada dalam genggamannya dan menangkupkan telapak tangan itu pada wajahnya. Tatapan mereka bertemu tatapan laki-laki itu begitu dalam dan di penuhi oleh perasaan cinta Jehan tau itu.


Apakah saat ini dia salah jika memilih untuk melupakan Juna dan memilih untuk melangkah maju bersama Kenzie. Laki-laki itu menawarkan hubungan yang begitu tulus, bahkan Jehan dapat merasakan perasaan cinta yang begitu besar dari sikap baik Kenzie.


"Aku sangat mencintaimu Je" ucap Kenzie dengan mata sendu, kalimat itu bernada sedih. Jehan hanya diam membiarkan laki-laki melanjutkan ucapannya.


"Jangan pernah pergi dari hidupku, karena aku tak akan pernah membiarkan itu" ucap laki-laki itu, Jehan mendekat, lalu memeluk tubuh laki-laki itu.


"Aku tak akan pergi" jawab Jehan sambil mengusap lengan laki-laki itu. Kenzie menyandarkan kepala nya di ceruk leher Jehan, berusaha mencari titik ternyaman nya. Harum dari tubuh Jehan mampu membuat nya tenang.


"Sayang, kamu sudah berbicara dengan Dion tentang perjodohan kalian" tanya Kenzie masih dalam posisi yang sama.


"Aku belum berbicara dengannya, tapi aku sudah membicarakan ini kepada papa dan mama dan mereka tidak marah saat aku mengatakan pembatalan tentang perjodohan kami" entah karena terlalu nyaman atau apa, hingga Jehan dan Kenzie saling berpelukan di taman itu.


"Bahkan mama ingin kamu ke rumah untuk sekedar ngobrol bersama" lanjut gadis itu.


"Benarkah mereka mengatakan itu ?" Jehan mengangguk pasti, tangannya beralih mengusap rambut Kenzie.

__ADS_1


"Baguslah" ucap Kenzie, Jehan mengernyit tak mengerti.


"Apanya yang bagus ?"


"Dengan begitu hubungan kita tidak akan terhalangi lagi, aku ingin kita segera menikah Je. Aku tak mau terus berdekatan dengan mu tanpa ada hubungan yang resmi" ucap laki-laki itu sambil melepaskan pelukan, meski engan.


Bibir Jehan tersenyum saat kini otak nya tau apa yang Kenzie maksud.


"Em bukankah kita berhubungan seperti ini saja terlebih dahulu, mencoba untuk lebih dekat lagi. Jangan terlalu terburu-buru dalam hal yang serius seperti pernikahan seperti itu. Bukannya kenapa-napa tapi pernikahan itu sekali seumur hidup kak" jelas Jehan pelan, sebisa mungkin menahan ucapan nya agar tak menyakiti perasaan Kenzie.


"Hem ya sekali seumur hidup, aku juga berharap seperti itu sweetheart" laki-laki itu kembali mendekat memeluk tubuh Jehan dengan erat, bahkan Jehan dapat merasakan suara jantung laki-laki itu.


***


Setelah beberapa jam menghabiskan waktu bersama Kenzie, kini Jehan dan Kenzie telah berada di mobil, entah akan kemana laki-laki itu membawanya Jehan sendiri tidak tau, gadis itu hanya menurut saja soal semua yang Kenzie lakukan. Asal hal itu tidak merugikannya maka dia fine-fine saja.


"Sebenarnya kita akan kemana ?" tanya Jehan untuk yang kesekian kalinya.


Akhirnya gadis itu pasrah dan duduk diam di kursinya, membiarkan dan tak lagi menganggu Kenzie yang sedang menyetir.


Mengambil handphone nya di dalam tas, Jehan memilih untuk bermain dengan ponsel nya itu. Itu lebih baik daripada berdiam diri tanpa adanya obrolan di antara mereka.


Mobil itu berbelok ke sebuah resto besar, setelah memarkirkan mobilnya laki-laki itu akhirnya membuka obrolan.


"Ayo masuk, sayang" ucap laki-laki itu menatap Jehan dengan senyum manis di bibirnya.


"Jadi kamu ngajak aku makan ?" tanya Jehan heran. Dia pikir laki-laki itu akan memberi kejutan atau apalah, ternyata hanya mengajaknya makan.


"Hem, kamu belum makan tadi" jawab nya sambil turun dari mobil, lalu membuka pintu mobil di samping Jehan. Jehan pun turun dari mobil.

__ADS_1


Mereka melangkah bersama ke resto itu, duduk di lantai atas di mana di lantai itu privasi mereka akan lebih terjaga. Dengan ruangan tertutup di masing-masing tempatnya.


Kenzie menyodorkan buku menu ke hadapan Jehan, gadis itu melihat menu makanan dan minuman yang di sediakan resto itu.


Banyak sekali makanan yang tersedia di rumah makan itu, seperti seblak, bakso, nasi goreng istimewa, mie goreng level gila, ada juga makanan khas negara lain seperti sushi, teokpokki, kwetiaw. Ada juga makanan western seperti steak, burger, salmon, pizza, dan masih banyak lainnya.


"Aku mau steak saja sama cappucino nya satu" ucap gadis itu kembali menyerahkan buku menu kepada Kenzie.


Sedangkan laki-laki itu memesan teokpokki dan jus jeruk. Mereka menunggu makanan mereka datang yang akan di antar beberapa menit lagi.


Setelah makanan sudah tersaji di hadapan mereka, Jehan menyentuh makanan nya dengan tak minat, menyuapkan potongan steak itu ke dalam mulutnya. Kenzie menyadari hal itu, kekasihnya itu seperti tak nafsu dengan makanan nya.


"Kenapa ? kamu tak menyukai makanan mu ?" tanya Kenzie sambil menatap mata hazel milik Jehan.


"Hem" jawab Jehan lesu, bukannya tak suka, ntah lah dia mungkin sedang bad mood saja.


"Mau tukar dengan makanan milikku ? ini teokpokki sangat enak, mau coba ?" tanya Kenzie sambil menyodorkan sesuap teokpokki ke depan mulut Jehan.


Jehan membuka mulutnya, mencoba rasa teokpokki itu yang memang terasa pas di lidahnya. Jehan tersenyum lebar, yang di balas senyuman oleh Kenzie.


"Mau tukar ?" tanya Kenzie sambil menaikkan


alisnya.


"Itu kan makanan mu" ucap Jehan sambil kembali menyuapkan steak ke dalam mulut.


"Ngga masalah sayang, daripada kamu ngga kenyang karena makan nya ngga iklhas seperti itu. Atau mau memesan lagi, biar aku pesankan teokpokki hangat yang baru ?" tanya Kenzie. Jehan menggeleng.


"Ini kamu makan saja makanan ku"

__ADS_1


"Kita tukar saja ya, kamu makan steak milikku" ucap Jehan yang di angguk ki oleh Kenzie. akhirnya mereka pun bertukar makanan. Jehan tersenyum lalu mengucapkan terimakasih kepada laki-laki itu.


__ADS_2