
Jehan sama sekali tak keluar dari kamar, padahal jam sudah menunjukkan pukul 9 pagi, tapi gadis itu sama sekali tak turun untuk makan.
Mama Selina jelas khawatir dengan keadaan putrinya itu, sebagai seorang ibu, dia jelas tau bagaimana perasaan putrinya itu saat ini.
Wanita itu menyiapkan sup hangat dan menaruh nya ke dalam mangkuk, lalu wanita itu meletakkan nya di nampan, serta satu gelas susu hangat.
Wanita itu mulai berjalan ke arah kamar Jehan, sebagai seorang ibu dia jelas tidak akan membiarkan Jehan sakit. Apalagi membiarkan putrinya itu terus menyiksa diri dengan cara tidak menyentuh makanan sama sekali.
tok tok tok, mama Selina mengetuk pintu kamar Jehan, tapi tak ada balasan sahutan dari dalam sana. Berkali-kali wanita itu mengetuk pintu, tapi sama sekali tak ada tanda-tanda pintu itu akan di buka.
Mama Selina pun mulai memutar knop pintu, ternyata pintu itu tidak di kunci, akhirnya mama selina pun masuk dengan nampan di kedua tangannya.
Wanita itu melihat putrinya kini sedang duduk di meja kerja, sambil membolak-balikkan buku, meski dia tahu buku itu tak di baca oleh Jehan, gadis itu hanya sedang mengalihkan pikirannya.
"Sayang, makan dulu ya, ini tadi mama buat sup hangat kesukaan kamu." Mama Selina duduk di bibir ranjang, lalu menaruh makanan itu di atas nakas.
"Iya" Jehan hanya menjawab singkat dengan intonasi pelan.
"Sini makan dulu, apa mau mama suapi Hem" Jehan hanya menggeleng.
"Ya sudah di makan, mama tinggal sebentar, pokoknya nanti kalau mama datang, makanannya harus sudah di makan" Jehan hanya mengangguk lesu, mama Selina pun berdiri dari duduk nya, dan pergi dari kamar Jehan.
Jehan mengambil foto Kenzie yang tadi ia sembunyikan di balik buku, gadis itu memeluk foto itu dengan erat, air matanya kembali mengalir deras. Dia hanya butuh waktu untuk terlihat baik-baik saja. Dia tak punya kapasitas untuk terus pura-pura. Dia tak bisa mengorbankan perasaannya yang memang pada faktanya sedang hancur.
Gadis itu menangis, membayangkan mulai saat ini dia melakukan semuanya sendiri, tak ada tempat bersandar, tak ada pelukan, tak ada tempat cerita. Tak ada perhatian tulus, semuanya sirna, dengan luka yang menganga.
Terbayang kembali ingatannya bersama Kenzie selama ini kembali membuat hati gadis itu berdenyut sakit.
Ting !
__ADS_1
Suara notif dari handphone yang menyala membuat Jehan melirik benda pipih itu, terlihat nama Gibran memberi pesan sebelum handphone itu padam. Jehan mengambil handphone itu, lalu membuka nya, gadis itu membaca pesan yang Gibran berikan.
"Bisa bertemu ? ada yang ingin aku berikan padamu" Itu adalah isi dari pesan yang Gibran beri, meski sebenarnya dia malas, namun ntah kenapa dia ingin tau. Gadis itu pun beranjak dari tempat duduknya.
Jehan turun dengan tergesa-gesa, wajahnya kini terlihat lebih segar dari yang tadi. Dengan membawa tas selempang kecil di bahu nya, gadis itu menghentikan langkahnya saat melihat kedua orang tuanya kini sedang duduk di sofa ruang tamu.
Gadis itu menghampiri kedua orang tuanya untuk pamitan, agar mereka tidak khawatir nanti jika dia pergi lama.
"Ma" Jehan berujar pelan
"Sayang, kamu mau kemana ?" Mama nya itu langsung berdiri dengan wajah khawatir.
"Je mau keluar, sebentar" jawab Jehan
"Keluar ? sama siapa" mama Selina kembali bertanya, dia takut Jehan pergi tanpa pengawasan, apalagi suasana hati gadis itu yang jauh dari kata baik.
"Ya udah ngga papa, hati-hati ya. Sini cium papa dulu" papa nya berujar sambil merentangkan tangan, Jehan mendekat, lalu memeluk laki-laki itu, Jehan merasakan kecupan hangat di kepala nya.
Setelah berpamitan Jehan pun keluar dari rumahnya, gadis itu keluar dari gerbang dan melihat taksi yang kini sudah terparkir di depan rumahnya, Jehan pun masuk ke dalam taksi itu.
Dia memang memilih untuk naik taksi, daripada naik mobil sendiri. Karena merasa malas jika harus menyetir sendiri.
Sementara itu, mama Selina yang berada di ruang tamu itu nampak cemas, dia takut jika Jehan kenapa-napa.
"Gimana kalau Jehan nekat nyakitin dirinya sendiri, apalagi anak itu pasti frustasi karena Kenzie pergi" wanita itu tampak cemas, pikirannya terus memikirkan Jehan yang baru saja pergi.
"Udah ngga perlu khawatir gitu, papa udah suruh anak buah papa untuk jaga Jehan dari jauh" mama Selina menatap suaminya itu yang sedang memilih berkas di meja, pantas saja suaminya itu nampak tenang sedari tadi.
"Jehan akan baik-baik saja, sini jangan tegang terus" Mama selina tersentak saat suaminya itu menarik tangannya, wanita itu kini terduduk di sofa.
__ADS_1
"Kasihan sekali putri kita, dia pasti merasa hancur sekaligus kecewa" ucap mama Selina dengan sedih.
"Mau bagaimana lagi, sudah takdir tuhan" ucap papa Jehan.
Kini Jehan sudah tiba di tempat di mana dia berjanji menemui Gibran, di sebuah kafe kecil yang tampak asri. Gadis itu menghampiri Gibran yang sudah duduk di tempat nya.
"Kamu udah datang" Jehan hanya mengangguk, gadis itu duduk di depan Gibran. Gibran nampak melihatnya intens, seperti ingin tahu bagaimana keadaannya saat ini.
"Mau memesan minum dulu, aku sudah pesankan cappucino kesukaan mu, tapi kalau kamu mau yang lain, kamu bisa pesan lagi" ucap Gibran masih menatapnya intens. Jehan menggelengkan kepala nya.
"Itu saja" jawab gadis itu singkat.
Minuman mereka datang, Gibran menaruh cappucino yang di pesannya ke hadapan Jehan.
"Sebenarnya apa yang ingin kamu berikan" tanya Jehan tanpa basa-basi, ya bukankah tujuannya memang untuk itu datang kemari.
"Santai aja, di minum aja dulu minumannya biar ngga tegang" jawab Gibran sambil tersenyum.
Jehan menghela nafasnya, gadis itu mengambil minumannya lalu menyesapnya sedikit. Gadis itu menatap Gibran dalam, menunggu laki-laki itu untuk segera memberikan apa yang dia maksud.
Namun sepertinya memang laki-laki di depannya ini ingin menunda nya, terbukti laki-laki itu sama sekali tak terpengaruh dengan tatapan matanya yang tajam. laki-laki itu masih fokus dengan minumannya, hal itu membuat Jehan kesal dan malas.
"Jika kamu tak ingin mengatakan apapun maka aku akan pulang" ucap Jehan dengan datar, bahkan kini gadis itu sudah berdiri dan bersiap untuk pergi.
"Eh, tunggu" Gibran segera mencekal pergelangan tangan Jehan, lelaki itu kini ikut berdiri di hadapan Jehan.
"Jangan membuang waktu ku" Jehan masih berbicara dengan nada datar, bahkan dia menarik tangannya kasar dari genggaman tangan Gibran.
"Oke, aku cuma mau ngasih buku ini" Gibran menyodorkan sebuah buku, berwarna hijau, sampul buku itu adalah seorang perempuan yang di gambar dengan sketsa, tapi Jehan tau jika perempuan itu adalah dirinya.
__ADS_1