
Jehan duduk di depan kelas nya sambil melamun, banyak sekali yang gadis itu pikirkan sekarang. Termasuk tentang sikap laki-laki yang terang-terang mendekati nya. Andai pindah sekolah tidak rumit, ingin rasanya Jehan pindah daripada dia terus merasa tertekan dengan sikap laki-laki yang mengaku bernama Arjuna itu.
"kok bisa sih aku dekat sama dia dulu, laki-laki pemaksa dan egois" ucap Jehan, gadis itu tidak habis pikir, bagaimana bisa dia dekat dengan laki-laki ambisius seperti Juna.
"aku harus gimana sekarang, rasanya kaya di teror belajar di sekolah ini ahgg" Jehan mengacak rambut nya, dia benar-benar kalut dengan kisah nya, bagaimana bisa hidup nya berakhir seperti sekarang, dia takut kepada Juna, laki-laki itu sedikit mengerikan membuat Jehan tidak ingin bertemu dengan laki-laki itu.
"Jehan" Jehan menoleh sekilas, namun kembali menyandarkan kepala nya di dinding di mana, dia duduk, gadis itu mengabaikan Gibran dan Johan yang sekarang duduk di samping kiri dan kanan nya.
"kamu kenapa Je, ada masalah kah ?" tanya Gibran, Jehan hanya diam tidak menjawab, Gibran mengernyitkan dahi dengan ekspresi bingung, kenapa dengan teman nya yang satu itu pikirnya.
"ngga panas, kamu kenapa si Je. Cerita dong kalau lagi ada masalah" Gibran menatap Jehan yang terlihat frustasi itu, namun gadis itu tetap saja tak mau bercerita, seolah masih belum bisa percaya kepadanya dan Johan.
"ngga papa kok, kalian kok masih di sekolah, ngga pulang ?" tanya Jehan, seharusnya sih mereka sudah pulang, karena mereka biasanya pulang paling awal dari yang lain.
"masih nungguin Arga sama Hanna, mereka masih ada tugas sama pak Egan" ucap Gibran, Jehan mengernyitkan dahi pertanda tak mengerti.
__ADS_1
"Arga dan Hanna ?" tanya Jehan penasaran, nama yang tidak asing, samar-samar dia seperti pernah mendengar nama itu, Gibran mengangguk, laki-laki itu mengambil handphone nya dan menunjukkan kepada Jehan, Jehan mengambil handphone itu dan melihat apa yang Gibran tunjukan, di foto itu ada 5 anak, dan Jehan salah satu anak yang berada di foto itu, ada Gibran dan Johan serta laki-laki dan perempuan yang belum pernah Jehan temui.
"itu foto kita berlima, yang ada di samping kiri kamu itu bernama Hanna dan yang berada di samping nya itu Arga. Mereka teman kamu juga Je, kita deket banget dulu, bisa di bilang kita itu satu geng lah, tapi semua seperti mati setelah kamu lupa sama kita" Gibran menjawab sambil tersenyum kecut, Jehan memperhatikan foto itu dengan serius, benarkah dulu dia mempunyai teman dekat, kenapa dia tidak mampu untuk mengingatnya.
"jujur kita sedih Je, apalagi lihat kamu yang kaya udah ngga mau dekat sama kita, jujur itu seperti pukulan buat kita" Johan ikut menyahut, laki-laki itu menghela nafas. Jehan kembali memperhatikan foto itu, menggeser nya ke kanan, banyak sekali foto mereka berlima termasuk dengan nya juga, bahkan ada foto waktu Jehan memakai baju kedodoran dengan celana pendek serta rambut di cepol, Jehan menghela nafas, entah kenapa antusias nya begitu kecil untuk mengetahui kehidupannya yang dulu.
"sorry tapi ya mau gimana lagi, jujur aku sendiri belum bisa seperti dulu, semua ini membawa perubahan besar buat aku, tapi aku juga ngga pernah mau kaya gini. Aku sama terluka seperti kalian, aku cuma minta tolong jangan paksa aku buat dekat sama kalian seperti dulu, biarkan waktu berjalan dan aku memahami semuanya dari awal." ucap Jehan, dia sudah cukup merasa tertekan dengan sikap Juna, apalagi jika harus di tekan oleh teman-teman nya yang dulu, sungguh Jehan merasa tidak mampu untuk itu.
"hai guys" Jehan mengalihkan tatapannya ke arah dua orang yang baru saja datang, dua orang yang berada di foto mereka berlima yang Jehan lihat di handphone Gibran tadi.
"udah" ucap perempuan itu singkat, perempuan itu tampak memperhatikan Jehan intens, Jehan yang sadar merasa tidak nyaman, namun dia berusaha untuk tetap terlihat biasa.
"kalian lama ya nunggu nya, maaf tadi aku masih nungguin Hanna tu lama banget, ngga selesai-selesai sampai anak lain udah pada keluar lab, dia nya ngga kelar-kelar" ucap Arga dengan ekspresi datar, Jehan hanya diam mendengarkan, sungguh gadis itu merasa tidak nyaman di tatap oleh dua orang yang baru saja datang, pasalnya tatapannya mereka berdua seperti ingin menelan nya hidup-hidup.
"ngga papa, ya udah ayo kita pulang" ujar Johan, laki-laki itu berdiri, dan mulai melangkah pergi.
__ADS_1
"oke" jawab Arga singkat, menyusul Johan yang sudah pergi terlebih dahulu.
"Je kita pergi dulu ya, kamu pulang naik apa, mau bareng kita aja nggak" tanya Gibran, perempuan di samping nya masih menatap nya, Jehan menggeleng sebagai jawaban.
"aku di jemput nanti" ujar Jehan
""oh ya udah kita pamit dulu ya, ayo Na" Gibran menyeret lengan perempuan di samping nya, Jehan hanya memperhatikan sampai kedua orang itu hilang dari pandangannya.
Jehan menghela nafas, gadis itu mengambil tas ransel miliknya, saat ingin pergi, tangan Jehan di tahan oleh seseorang, Jehan menatap perempuan yang sedang menahan tangannya, jika di perhatikan dengan intens perempuan itu seperti kakak kelas nya. Ada bed di bajunya yang menandai jika perempuan itu dari jurusan tata busana.
"nama kamu Jehan ?" tanya anak itu, Jehan hanya mengangguk sebagai jawaban.
"maaf aku ganggu, ada titipan buat kamu nih" perempuan itu menyerahkan bungkusan yang cukup besar, Jehan mengernyit dia belum menerima barang itu, titipan dari siapa, dia bahkan tidak kenal sama sekali dengan anak jurusan tata busana.
"jangan terlalu lama berfikir, aku harus segera pulang" perempuan itu menarik tangan Jehan dan memberikan bungkusan itu, lalu pergi begitu saja meninggalkan Jehan.
__ADS_1
"aku pergi, simpan saja apapun yang ada dalam bungkusan itu" Jehan memperhatikan bungkusan itu, dia membuka sedikit namun belum dia melihat isi bungkusan itu handphone nya berdering, Jehan menuruni tangga sambil membawa bungkusan itu, berjalan cepat ke arah depan sekolah, membuka pintu mobil dan segera masuk.