
Saat ini Jehan sedang duduk di sofa ruang tamu sambil memainkan macbook nya. Sedari tadi gadis itu memang tampak fokus dengan macbook yang berada di depannya, seolah tak lagi tertarik akan apapun yang berada di sekelilingnya.
Sesekali tangannya menyuapkan Snack ke dalam mulut yang telah di sediakan oleh para maid di rumah keluarga Dawson.
Jehan menahan matanya untuk tidak tertutup, rasanya amat sangat mengantuk, meski tadi malam dia tidur dengan pulas di apartemen Kenzie, namun tidur kurang nyenyak karena tak nyaman.
Dan sekarang dia harus tetap menyelesaikan pekerjaannya di rumah, meski tidak ke kantor bukan berarti dia bisa bebas begitu saja dari yang namanya pekerjaan yang begitu padat seolah menumpuk setiap harinya.
Gadis itu menghentikan sejenak aktivitas nya saat mendengar langkah kaki, menoleh ke arah samping Jehan melihat kakak nya berjalan ke arahnya, di samping laki-laki itu terlihat Hanna sahabatnya yang ikut berjalan.
Jehan mengernyit, merasa heran sekaligus bingung bagaimana bisa kakak nya bersama Hanna sepagi ini, dari mana mereka berdua sebenarnya.
"Hai Je" Hanna datang sambil menyapa nya, gadis itu ikut duduk di samping Jehan, tangannya bahkan tanpa ragu mencomot cemilan milik Jehan.
"Dih datang-datang main ambil aja makanan aku" ujar Jehan sambil ikut mengambil makanan itu, gadis itu menatap sahabatnya yang hanya cengengesan.
"Dek, mama sama papa kemana ?" tanya Kak Al, lelaki itu duduk tak jauh dari tempat Jehan dan Hanna duduk.
"Ngga tau aku" Jehan mengangkat bahu sambil menggelengkan kepalanya, karena tadi pagi juga sewaktu dia pulang, dia tak melihat mama dan papa nya, saat tanya bibi. Bibi bilang bahwa mereka keluar sejak pagi tadi.
"Kamu ngga ke kantor ?" tanya kak Al lagi.
"Ngga kak, aku mau di rumah aja. Lagian pekerjaan bisa aku handle dari rumah kok" jawab Jehan, tangannya kembali bergerak lincah di atas keyboard.
Jehan kembali mengalihkan pandangannya, gadis itu menatap kakak nya yang diam sambil terus terpaku pada Hanna yang bermain ponsel, sebenarnya Jehan ingin bertanya bagaimana bisa mereka berdua bisa bersama pagi ini. Dan kenapa juga Hanna tak pergi ke kantor. Padahal gadis itu sangat jarang absen masuk kerja.
__ADS_1
"Jehan kamu ngga punya macbook lagi ya" tanya Hanna sambil menatapnya sekilas, atensi gadis itu begitu fokus pada handphonenya.
"Aku pinjam kalau ada, sekalian mau ngerjain pekerjaan, tiba-tiba bos kasih tugas. Padahal kemarin aku sampai lembur, katanya ngga ada lagi pekerjaan yang padat tapi ini kirim kerjaan yang harus segera di selesaikan"
"Ada si satu, tapi coba kamu otak-atik aja deh karena udah lama banget ngga aku pakai. Bentar aku ambilin" Jehan beranjak dari tempatnya, gadis itu langsung menuju kamar meninggalkan Alarick dan Hanna yang saling terdiam.
"Hanna" panggil Al saat melihat gadis itu fokus dengan hp.
"HM" jawab Hanna tanpa menoleh
"Makasih buat tadi malam" ucap lelaki itu, Hanna hanya berdehem tanpa menatap wajah lelaki itu.
Alarick hanya menggaruk kepala nya saat melihat sikap Hanna yang tampak lebih cuek dan seolah tak peduli padanya, dia tak suka jika gadis itu mengabaikan nya.
"Ni macbook nya kamu pakai dulu gih" Jehan datang sambil meletakkan macbook ke meja.
***
Sementara itu di tempat lain, Kenzie dan Gibran berjalan cepat di sepanjang koridor rumah sakit, mereka baru saja mendapatkan kabar bahwa papa mereka mengalami kecelakaan beberapa jam yang lalu. Dua lelaki itu berjalan dengan wajah datar, berjalan lurus tanpa menatap ke beberapa orang yang juga berlalu lalang.
Tiba di mana ruangan papa mereka berada, dua laki-laki itu segera menghampiri mama mereka yang tampak menangis sendirian di kursi tunggu.
"Ma" Kenzie dan Gibran duduk di samping Mama nya.
"Nak papa" Mama nya itu memeluk tubuh Gibran sambil menangis, Gibran mengusap bahu mama nya itu yang tampak begitu terpukul.
__ADS_1
Mereka menunggu di depan ruangan itu dengan cemas, Kenzie menopang wajahnya menggunakan telapak tangan, dia ikut resah dengan keadaan papa nya saat ini.
Pintu ruangan itu terbuka menunjukkan dokter laki-laki yang masih cukup muda. Kenzie langsung berdiri untuk menanyakan bagaimana keadaan papa nya saat ini.
"Bagaimana keadaan papa saya dok" tanya Kenzie mewakili mama nya, mama nya itu nampak sangat cemas. Terlihat dari raut wajahnya.
"Pak Shaka baik-baik saja tuan, hanya mengalami luka memar di kaki, tangan, dan kepala nya yang sedikit bocor" ucap dokter dengan raut setenang mungkin, namun hal itu tak dapat membuat mama nya tenang, bahkan wanita paru baya itu langsung menangis saat mendengar keadaan suaminya.
"Saat ini pak Shaka belum sadarkan diri, mungkin sebentar lagi karena kami memberikan obat bius kepada beliau tadi" ujar dokter itu, Kenzie mengangguk.
"Apakah kami boleh melihat keadaan papa kami dok ?" tanya Kenzie kembali, laki-laki itu mengangguk, mana berani dia melarang keluarga Ashaka yang jelas-jelas mempunyai kontribusi besar di rumah sakit ini.
"Boleh asal tidak mengganggu pasien" jawab dokter itu, Kenzie mengangguk. Kenzie membiarkan dokter pergi lalu lelaki itu menghampiri mama nya yang masih menangis.
"Ayo ma, kita masuk ke dalam" Kenzie membantu mama nya untuk berdiri, meski wanita itu masih menangis namun saat Kenzie merangkulnya, wanita itu ikut berdiri lalu melangkah bersama putra nya itu ke dalam ruangan di mana suaminya berada.
Mama Kenzie kembali menangis saat melihat tubuh suaminya terbaring dengan mata tertutup di ranjang sana, terdapat perban di kepala lelaki itu, sedangkan terdapat selang infus di punggung tangan lelaki itu.
"Astaga papa, gimana bisa kaya gini sih" mama nya berjalan ke arah ranjang itu, wanita itu menggenggam telapak tangan suaminya sambil terisak, Gibran menghela nafas sambil menggelengkan kepala nya. Lelaki itu menghampiri mama nya, lalu mengambil kursi untuk mama nya duduk.
"Duduk dulu ma, papa pasti bakalan sadar nanti. Ingat dokter bilang kita tidak boleh menganggu papa." ucap laki-laki itu. Dia juga khawatir dan cemas dengan keadaan papa nya, namun dokter sudah mengatakan bahwa papa nya hanya mengalami luka memar dan tak ada luka serius, maka dia bisa lebih tenang.
Namun memang mama nya itu mempunyai sikap yang panikan, makanya melihat papa yang terbaring dengan keadaan seperti itu, mama nya langsung panik dan menangis.
"Mama udah makan, mau Ken beliin makanan" tanya Kenzie yang duduk di sofa tak jauh dari ranjang papa nya.
__ADS_1
"Mama ngga nafsu buat makan nak, kamu beli aja buat diri kamu" ucap wanita itu tanpa mengalihkan pandangannya dari suaminya.
"Jangan gitu ma, Ken beliin makanan dulu ya buat mama" putus Kenzie, laki-laki itu memberikan kode buat Gibran agar menjaga mama nya sebentar.