Di Antara Perbatasan Senja

Di Antara Perbatasan Senja
Di halaman sekolah


__ADS_3

Jehan menyelesaikan olahraga paginya ketika jam menunjukkan pukul 05.25 gadis itu memilih untuk segera bersiap ke sekolah.


Setelah selesai bersiap, Jehan memilih untuk segera turun, duduk di samping kakak nya, semua keluarga nya sudah duduk rapi di kursi nya masing-masing.


"Nah Jehan sudah datang, ayo kita segera sarapan" papa Jehan mengawali dengan doa sebelum memulai sarapan pagi itu.


"Non Jehan, ini nasi goreng nya" Jehan tersenyum dan menerima nasi goreng itu, seketika aroma harum dari nasi goreng itu menguar di udara.


"Tumben kamu makan nasi dek" Jehan menoleh ke kakaknya.


"Lagi pengen aja" ucap Jehan sambil menyuapkan nasi goreng itu ke mulutnya.


"Ini masih ada kok den nasi nya kalau mau" bibi kembali datang sambil membawa wadah kaca yang berisi nasi goreng, yang terlihat masih panas.


"Wah, makasih ya bi" kakak Jehan tersenyum, bibi mengangguk dan kembali berjalan meninggalkan ruang makanan.


Mereka makan tanpa ada yang bersuara, sampai makanan mereka masing-masing tandas baru memulai obrolan.


"Jehan, nanti kamu sekolahnya naik apa ?" tanya papa Jehan. Sambil meminum air putih yang berada di gelas samping nya.


"Boleh naik mobil aja pa ?" tanya Jehan hati-hati, berharap di izinkan karena kemarin-kemarin Jehan sudah mencoba untuk izin tapi tidak mendapatkan izin untuk berkendara. Papa nya itu beralasan bahwa Jehan baru saja kecelakaan dan belum bisa sepenuhnya mempercayai Jehan membawa kendaraan sendiri.


"Mau naik mobil ?" kembali papa Jehan bertanya


"Iya, daripada antar jemput terus, mending naik mobil sendiri kan" papa nya nampak mengangguk, Jehan terdiam menunggu jawaban dari sang papa dengan cemas.


"Yaudah si ngga papa, asal kamu hati-hati bawa mobilnya" tentu saja Jehan akan hati-hati, bukankah orang tuanya selalu memberikan nasehat itu setiap kali dia keluar rumah dengan membawa mobil.


"Macet loh dek bawa mobil, biasanya kan anak seusia kamu naik motor kan" kakak Jehan ikut menimpali perbincangan itu, ketika mendengar niat adiknya yang ingin membawa mobil ke sekolah.


"Dan juga, kamu akan jadi pusat perhatian kalau bawa mobil" Jehan terdiam, kakaknya itu tampak tak setuju atas keinginannya.

__ADS_1


"Banyak kok teman aku yang bawa mobil, bahkan kelas 10 juga ada. Udah lah ngga ada salahnya juga." Akhirnya sesi makan pagi itu selesai, Jehan saat ini sedang berada dalam perjalanan menuju sekolah. Waktu sudah menunjukkan waktu pukul 06.21 pagi.


Jehan duduk di kursi nya, ada beberapa siswa yang baru saja masuk ke kelas, padahal waktu sudah tinggal 5 menit sebelum bel jam pertama di bunyikan.


Setelah menyelesaikan 2 mata pelajaran, kini bunyi bel istirahat pun di bunyikan, Jehan mengambil bekal nya dan berjalan ke arah taman di halaman lantai 1, gadis itu tadi pagi ada janji untuk bertemu dengan Fauza.


"Jehan" Jehan menghentikan langkahnya dan menoleh, Gibran saat ini berada di belakangnya nampak berlari ke arahnya.


"Gw ikut ya Je" belum sempat menjawab, Gibran sudah lebih dulu menarik telapak tangannya menuju taman.


"Kamu mau ke taman kan ?" saat ini mereka telah duduk berdua di tempat duduk yang terbuat dari bahan bebatuan, yang sengaja di buat dengan formasi melingkar.


"Iya, btw Johan kemana ?" tanya Jehan, karena biasanya Gibran selalu bersama Johan dan kedua temannya yang lain.


"Johan ngga masuk, bukannya tadi di absen ya. Atau kamu tidur ?" jawab Gibran, Jehan menepuk dahi nya karena memang lupa, dia juga tidak terlalu memperhatikan sedetail itu tentang kelas nya.


"Halo Jehan, nunggu lama ya" antensi Gibran dan Jehan terputus, Jehan menatap Fauza yang datang dengan seorang laki-laki yang saat ini menatap Jehan dan Gibran dengan wajah datar.


"Ini siapa Je, teman kamu ?" Fauza menatap Gibran sedangkan yang di tatap nampak acuh, sesekali melirik Fauza dan temannya dengan tatapan sinis.


"Iya dia teman sekelas aku namanya Gibran" jawab Jehan atas pertanyaan yang di lontarkan Fauza, Fauza mengangguk tanda mengerti.


"Oh, btw aku juga bawa teman aku ni, satu organisasi sih" Fauza menoleh ke temannya yang nampak diam sedari tadi.


"Namanya Dion satu jurusan loh sama kamu, tapi dia kelas 12" Jehan menatap laki-laki yang bernama Dion itu sambil mendekatkan telapak tangannya, Dion menerima telapak tangan Jehan dan mereka mulai saling berbicara.


Jehan membuka kotak bekal nya, sambil sesekali bertatapan dengan laki-laki bernama Dion itu.


"Ternyata dia beneran lupa ingatan, hem menarik"


Mereka berempat saling berbincang sambil bergurau, Gibran nampak tak banyak bicara, namun sesekali juga ikut menimpali ucapan teman-teman Jehan itu.

__ADS_1


"Jika buka karena Jehan, ogah gw ngomong sama orang sok kenal kaya mereka. Huh Jehan mungut teman modelan kaya gini dimana si " Gibran membatin sambil menatap sinis kedua teman Jehan yang bagi nya sok asik itu.


Mereka berempat berpisah saat jam pelajaran ke 5 di bunyikan, Jehan kembali naik ke atas bersama Gibran. Laki-laki itu tampak dingin sedari tadi menurut Jehan.


"Kenapa Bran ?" tanya Jehan karena terlalu penasaran dengan ekspresi wajah teman nya itu.


"Ngga papa, udah yuk ke kelas" Gibran mendorong Jehan yang menghentikan langkahnya, Jehan berdecak dan memasuki kelas nya.


"Ini yang lain kemana, kok kosong" Gibran bertanya kepada salah satu siswi setelah tiba di kelasnya, karena hanya beberapa anak yang ada di kelas, padahal jadwal masuk sudah di bunyikan tadi.


"Oh mereka keluar, karena kebetulan kelas lagi kosong sampai 2 jam ke depan, karena guru yang mengajar ngga hadir" jawab siswi yang di tanya Gibran itu, Gibran mengangguk, dan duduk di samping Jehan yang memang duduk sendiri tanpa teman. Gibran memindahkan tas miliknya di bangku sebelah Jehan.


"Gw duduk di sini ya, daripada kita sendirian kan" Jehan hanya mengangguk, sambil fokus dengan buku miliknya.


"Setan apa si Je yang merasuki lo, sampai lo jadi rajin begini" celetuk Gibran.


"Diam deh lo berisik" Jehan mendorong bahu Gibran karena kesal.


"Ye ngamuk" Gibran duduk tenang di tempatnya, sambil sesekali melirik Jehan yang nampak fokus dengan buku miliknya.


"Gibran, lo di suruh ke ruang kepsek" tiba-tiba salah satu siswa datang menghampiri Gibran.


"Gw ?" tunjuk Gibran pada dirinya sendiri


"Iya buruan sana, takut penting" ucap siswa itu.


"Oke" sahut Gibran santai. Laki-laki itu kembali menatap Jehan, dan menarik tangan Jehan sehingga Jehan berdiri.


"Ayo temenin gw ke ruang kepsek" Jehan berdecak, ingin menolak namun Gibran menarik tangannya, akhirnya gadis itu memilih pasrah dan mengikuti teman nya itu.


"Ngapain lo di panggil kepala sekolah" tanya Jehan sambil melirik Gibran sebentar.

__ADS_1


"Biasalah, orang penting" sahut Gibran sambil terkekeh, sedangkan Jehan hanya memutar bola matanya pertanda malas.


__ADS_2