Di Antara Perbatasan Senja

Di Antara Perbatasan Senja
Tiramisu untuk Kenzie


__ADS_3

Saat ini Dion dan Jehan berada di mobil yang sama, Dion akan mengantar Jehan pulang, sekaligus dia juga ingin mengajak gadis itu pergi nanti malam.


Setelah menempuh waktu beberapa menit kini mobil mewah Dion memasuki pekarangan rumah megah keluarga Dawson. Jehan turun di ikuti oleh Dion, lelaki itu berjalan mendekat ke arah Jehan.


"Jadi gimana jawaban nya Di" tanya Jehan sebelum dia masuk ke dalam rumah, gadis itu menatap mata Dion yang diam dengan wajah datar, sejak makan tadi laki-laki itu tak membalas ucapannya. Bahkan terkesan menghindar, padahal dia butuh jawaban dari Dion soal pembatalan perjodohan mereka.


"Aku akan memberikan jawabannya nanti malam" balas Dion dengan enteng, Jehan mengerutkan dahinya tak mengerti.


"Nanti malam ? kenapa harus nanti malam" tanya Jehan heran, dia ingin mendapatkan jawaban sekarang, lagi pula apa susahnya mengatakan iya soal pembatalan perjodohan mereka.


"Hem nanti malam aku akan memberikan jawaban, sekaligus aku ingin mengajak mu keluar" jawab laki-laki itu sambil balik menatapnya intens. Jehan menghembuskan nafas kasar mendengarnya.


"Kenapa tidak sekarang saja, aku malas jika harus keluar malam" jawab Jehan terus terang, gadis itu memang tak ingin keluar kemana-mana. Hanya ingin berbaring di rumah sambil bermain handphone.


"Hanya sebentar saja, tapi terserah mu sih, jika kamu tidak ingin mendengar jawaban dariku maka tidak perlu" jawaban yang Dion lontarkan membuat Jehan memutar bola matanya malas.


"Iya aku mau, tapi yang Deket aja ya. Aku malas berdandan dan aku juga sulit dapat izin keluar malam, kalau bukan sama orang yang dekat dengan Ku" lagi Jehan mengatakan dengan terus terang tanpa ada yang di tutupi, meski dia terkesan menjauh dari laki-laki itu, namun dia tak lagi peduli, dia ingin menyelesaikan semua permasalahan nya dengan laki-laki itu secepat mungkin.


"Baiklah" Dion mengangguk, Jehan hanya tersenyum tipis. Lalu gadis itu memilih beranjak untuk masuk ke dalam rumah. Meninggalkan Dion sendirian yang terdiam dengan tangan yang terkepal erat.


Jehan memasuki rumah dengan langkah pelan, di lihatnya para maid yang sedang membersihkan rumah dari halaman depan sampai di dalam rumah. Gadis itu berjalan ke arah pembantu yang nampak sedang membersihkan ruang tamu.


"Bi Sumi kemana bi ?" tanya Jehan kepada salah satu maid di rumahnya.


"Bi Sumi di dapur non, sedang masak" ucap bibi itu, Jehan mengangguk dan melangkahkan kakinya ke arah dapur. Di lihatnya wanita paru baya yang sudah berusia 60 tahunan itu sedang asik mengaduk sesuatu di atas kompor yang menyala.


"Bibi lagi masak apa ?" tanya Jehan, gadis itu kini telah duduk di salah satu kursi meja makan, sambil memperhatikan bi sumi yang asik dengan masakannya.

__ADS_1


"Eh non Jehan udah pulang, ini bibi lagi buat puding non" jawab bibi sambil mengecilkan api kompor, lalu wanita itu berjalan dan duduk di samping nya.


"Puding ?" tanya Jehan antusias, seketika dia jadi ingin mencicipi puding itu.


"Jehan mau bi" ujar gadis itu kembali dengan raut wajah antusias. Bi Sumi menganggukkan kepala nya sambil tersenyum tipis ke arahnya.


"Iya, bibi emang sengaja bikin puding spesial buat non Jehan"


"Em" Jehan menganggukkan kepala nya, tangannya terpaut. Gadis itu kembali melamun, fikiran nya melayang memikirkan hal lain.


"Non Jehan kenapa ?" Bi Sumi menyentuh punggung tangan Jehan sambil bertanya kepada nona mudanya itu.


"Ngga papa bi, Je cuma lagi kepikiran sesuatu" jawab Jehan dengan tatapan yang kosong.


"Non Jehan bisa cerita sama bibi kalau ngga keberatan"


"Oh ya bi, mama belum pulang ?" tanya Jehan.


"Belum non" Jehan menghela nafas nya.


"Bentar non Bibi angkat dulu puding nya" Bibi beranjak dan mendekat ke kompor, lalu mematikan kompor itu dan kembali berkutat dengan alat dapur, Jehan hanya terdiam, sambil melihat bi Sumi yang cekatan kesana kemari.


"Non Jehan mau puding nya sekarang ?" tanya bibi, Jehan mengerjapkan matanya, huh memang dasar diam dikit langsung bengong.


"Ngga usah bi, taruh ke kulkas aja biar dingin" jawab Jehan yang di angguk ki oleh BI Sumi. Wanita itu membuka kulkas, tangannya mengambil sesuatu dari kulkas lalu kembali duduk di samping Jehan.


"Ini non, bibi buat kue kesukaan non" Bibi membuka penutup wadah dan menunjukkan kue tiramisu kesukaan Jehan.

__ADS_1


"Wah, makasih ya bi. Udah lama Je ngga makan kue ini" Jehan segera mengambil kue yang sudah di potong kecil-kecil itu, lalu memasukkan kedalam mulutnya. Rasa manis dan dingin seketika terasa di mulut Jehan.


"Em enak bi" Jehan kembali menyuapkan kue itu ke dalam mulut, mengunyahnya pelan karena sensasi dingin di kue itu. Bibi hanya menanggapi dengan senyuman.


"Di habiskan aja non kalau suka"


"Ngga mungkin bi, mungkin beberapa suap lagi juga kenyang. Em tapi dari pada mubazir aku akan memberikannya kepada Kenzie" jawab Jehan sambil tersenyum, gadis itu belum menghubungi Kenzie sedari pagi. Dia jadi merindukan laki-laki itu.


Sementara itu Kenzie kini sedang berada di mobil, laki-laki itu ingin ke kantor sebentar karena ada pekerjaan urgent, dengan terpaksa dia meninggalkan papa dan mama nya di rumah sakit karena pekerjaan yang memaksa nya untuk pergi.


Untung saja papa dan mama nya itu bisa mengerti, dan memaksa nya untuk pergi. Handphone yang berada di dashboard mobil menyala membuat Kenzie mengerutkan kening. Laki-laki itu mengambil handphone nya dan melihat bahwa nama Jehan terpampang di layar itu.


Kenzie pun memilih untuk menepikan dulu mobilnya karena ingin mengangkat panggilan dari kekasih nya itu.


"Halo sayang" Kenzie tersenyum saat wajah Jehan terlihat memenuhi layar handphone nya. Gadis itu terlihat sedang makan kue.


"Em kak, kakak di mana ?" tanya Jehan sambil mengernyitkan dahi.


"Ada di jalan mau ke kantor, kenapa memang nya" tanya Kenzie.


"Aku ada kue enak, mau ngga" Jehan menunjukan kue yang ada di tangannya lalu menyuapkan kue itu ke dalam mulut.


"Kalau kamu kasih, mau aja sih" ujar Kenzie dengan senyum nya yang bagi Jehan begitu manis itu.


"Oke aku ke kantor sekarang" Jehan terlihat beranjak dari tempat nya.


"Eh" Kenzie ingin berucap namun telfon sudah mati lebih dulu, laki-laki itu pun kembali melajukan kendaraan nya ke kantor.

__ADS_1


__ADS_2