
Kenzie mendorong sedikit bahu Jehan, laki-laki itu mengalihkan tatapannya dan berusaha untuk pergi, namun jelas Jehan tak akan membiarkan laki-laki itu pergi sebelum Menganti minumannya yang tumpah.
Gadis itu menarik baju Kenzie dengan kencang sehingga laki-laki itu sedikit terhuyung ke belakang.
"Segitu ngga ingin nya kamu, kalau aku pergi" ucap laki-laki itu sambil menarik salah satu sudut bibirnya, Jehan melotot dengan wajah marah.
"Ganti dulu minumanku, baru pergi"
"Itu bukan sepenuhnya salahku, jadi aku harus tetap Menganti begitu ?"
"Aku tidak peduli, aku mau minuman ku kembali" Jehan merasa kesal dengan dirinya sendiri, karena terlihat seperti sedang merengek kepada laki-laki di depannya itu untuk memberikan minuman yang sama.
"Kamu tadi juga tak lihat-lihat jalannya" Kenzie seolah tak mau kalah, dan terus beradu dengan Jehan.
"Pokok nya aku mau minuman ku kembali" ucapnya dengan wajah datar.
"Dasar anak kecil, perempuan memang tak pernah mau mengalah dan sadar bahwa dia salah" ucap Kenzie sambil berlalu dari tempat itu, setelah mengacak rambut Jehan hingga kusut.
Jehan mengekor di belakang Kenzie, gadis itu menekuk wajahnya karena terlalu kesal, dia menghempaskan diri di kursi dengan kasar, Kenzie hanya tersenyum tipis melihat tingkah wanita itu.
"Varian apa ?" tanya Kenzie
"Cappucino dua"
"Banyak banget, kamu ngga perlu pesenin buat aku"
"PD banget, siapa juga yang berniat kasih ke kamu" ucap Jehan ketus.
Lagi dan lagi Kenzie di buat gemas dengan wajah gadis itu, bibirnya membentuk senyuman manis untuk Jehan yang menatapnya datar. Dan ekspresi seperti itu membuatnya bertambah gemas.
Karena kedai itu tak seramai tadi, minuman yang Kenzie pesan datang lebih cepat. Kak Raisa kembali datang mengantar minuman itu.
"Ini kak minumannya" Jehan hanya diam saat kak Raisa memberikan minuman itu ke Kenzie.
"Makasih" ucap Kenzie, kak Raisa menatap Jehan sambil melontarkan pertanyaan, mungkin saja wanita itu bingung siapa yang bersamanya namun Jehan hanya mengangkat bahu.
"Nih minuman mu" Kenzie memberikan minuman itu untuk Jehan, sedangkan kak Raisa spontan bertanya.
__ADS_1
"Pesan lagi Je, emang yang tadi masuk mana ?" Jehan hanya tersenyum kikuk.
kak Raisa meninggalkan mereka berdua, Jehan langsung mengambil minumannya dan meminum minuman itu karena merasa haus.
Gadis itu menatap Kenzie masih dengan minum minumannya, setelah puas baru Jehan menaruh minumannya yang masih tersisa setengah.
Jehan memperhatikan semua tingkah Kenzie, saat laki-laki itu menggerakkan tangannya Jehan lebih cepat mengambil minuman miliknya.
"Minta, dikit aja" ucap laki-laki itu sambil menatapnya dengan senyum tipis.
"Ngga!!" ucap Jehan ketus, sambil menyembunyikan minumannya.
"Please lah Je"
"Apasih kita ngga kenal ya" Kenzie kesal, laki-laki itu menghampiri Jehan dan mengambil tangan Jehan, Jehan berteriak gadis itu mengamankan minuman miliknya.
"Ngga, pesen sendiri sana"
"Aku mau itu" Kenzie tetap ngotot menginginkan minuman itu, sampai minuman itu berpindah di tangan Kenzie. Jehan terdiam dengan wajah cemberut gadis itu membuang muka.
"Nih" Kenzie memberikan minuman itu, tapi Jehan tetap diam.
"Gitu aja nangis" ucap Kenzie yang hampir saja tertawa keras.
"Taulah" ucap Jehan pelan, Kenzie merangkul tubuh gadis itu dan menenggelamkan kepala nya di dada nya.
"Lepas" Jehan ingin berontak, namun tubuhnya terasa lemas, selemah itu kah dirinya.
"Ya ampun, ngga usah nangis gitu lah" Jehan semakin terisak, rasanya Kenzie ingin tertawa melihat tingkah gadis itu. Namun laki-laki itu tak mau membuat Jehan semakin kesal, laki-laki itu mengusap punggung Jehan sampai gadis itu merasa tenang.
"Udah yuk kita pulang, ngga malu di lihat banyak orang" Jehan hanya diam, sesekali mengusap matanya, Kenzie kembali tersenyum, bisa-bisanya gadis itu menangis hanya karena perkara minuman.
Jehan hanya diam menurut saat Kenzie membawa nya ke mobil, saat sudah di pertengahan jalan Jehan teringat akan mobilnya.
"Aku bawa mobil tadi" teriak gadis itu, Kenzie sampai tersentak karena tadi dia sedang fokus menyetir.
"Itu sudah di urus oleh asistenku" ucap laki-laki itu tenang.
__ADS_1
"Kamu mau membawaku kemana ?"
"Pulang" Jehan mengernyit, mobil itu memasuki rumah yang begitu besar, Jehan tak pernah melihat rumah itu.
"Ayo masuk" Kenzie membuka pintu mobil, Jehan turun dan menurut ketika Kenzie menggenggam telapak tangannya dan membawa nya masuk.
"Ini rumah siapa ?" tanya Jehan merasa heran sekaligus penasaran.
"Kamu akan tau nanti" halaman itu cukup luas, banyak pelayan yang membungkuk hormat ke arah Kenzie.
Laki-laki itu membawa Jehan ke arah kolam renang yang di sekeliling oleh banyak sekali bunga dengan beraneka warna.
"Kamu laki-laki dan kamu menyukai bunga ?" tanya Jehan karena tak dapat menahan rasa penasarannya.
"Tidak, hanya saja aku memang berencana untuk membawa mu kesini. Apalagi jika kita menikah nanti bukankah lebih baik mempersiapkan semuanya dari awal ?" ucap laki-laki itu dengan mudahnya.
"Itu hanya akan terjadi dalam mimpi mu" celetuk Jehan sambil tersenyum sinis.
"Maka dari itu bantu aku untuk mewujudkan mimpi itu" ucap laki-laki itu sambil menggenggam telapak tangan Jehan dengan erat.
Jehan terdiam saat melihat betapa tulus tatapan yang Kenzie berikan. Gadis itu merasa salah tingkah dan sepertinya memang ada yang salah dengan jantung nya yang berdebar hanya karena di tatap seperti itu oleh Kenzie.
"Ayo kita duduk" ajak laki-laki itu sambil menarik tangan Jehan untuk duduk di kursi santai di pinggir kolam. Udara di rumah itu terasa begitu segar membuat Jehan merasa betah.
Tangan Kenzie terus menggenggam tangan Jehan, sepertinya laki-laki itu memang tak berniat untuk melepaskan tangannya.
Bibi datang dan menghidangkan banyak makanan ringan, Kenzie mengambil salah satu makanan di piring dan menyodorkan garpu yang terisi makanan ke depan mulut Jehan.
"Makan dulu" Jehan menurut dan membuka mulutnya, kue itu terasa amat manis di mulut Jehan. Dengan toping coklat dan isian blueberry.
Jehan mengambil roti itu dan menyuapkan ke mulutnya.
"Aku bisa makan sendiri" Jehan mengusap bibirnya yang kotor dengan telapak tangan. Kenzie yang melihat itu mencegahnya dan mengusap tangan Jehan dengan tisu.
Laki-laki itu mengambil tisu dan mengusap lembut bibir Jehan yang kotor dengan telaten. Lagi-lagi Jehan di buat termenung dengan sikap laki-laki di depannya ini.
Kenzie menatap sayu bibir Jehan yang sudah dia bersihkan, laki-laki itu merangkum wajah Jehan dan mendekatkan wajahnya, memiringkan sedikit kepala nya. Laki-laki itu mengunci wajah Jehan dan mencium bibir gadis itu lembut.
__ADS_1
Lembut sekali sampai Jehan terbuai dan tak mampu untuk menolak.